Skip to content

NANDONG

November 23, 2010

AKU  ingin bercerita tentang seseorang dari masa kecilku. Seseorang yang membuatku beroleh paham tentang kesetiaan, kekejaman, nasib yang buruk dan kebahagiaan yang berkuasa atas manusia. Aku ingin bercerita tentang Nandong, perempuan dari masa kecilku.

Kata Ibu, janganlah  menggoda Nandong, sebab ia orang tua yang harus dihormati, meski ia berjalan doyong  seolah hendak rebah ke belakang oleh pinggul yang membusung, meski ia juling dan dari gelung rambutnya  meruap tengik tajam minyak kelapa yang tercium bahkan  dari jarak lima langkah.

Ibu selalu mengulang nasihatnya, setiap kali  melihatku mengintip dari jendela, dengan hidung menempel pada kaca, menyaksikan Nandong di kebun kelapa seberang berjibaku menyeret pelepah nyiur kering. Sedemikian dekat jarak jendela dan kebun seberang, sehingga aku bisa menyaksikan jengit wajah Nandong dan bibirnya yang terkatup menghimpun tenaga sekuatnya. Dari kebun seberang Nandong tak bisa melihat kami, sebab kaca jendela rayban membuat pandang hanya jernih searah.

“Tapi Ibu, kata teman-teman Nandong parakang1• Nandong berkeliaran di tengah malam dalam rupa kucing atau belut.”

“Nene’2 Nandong. Jangan memanggil ia dengan Nandong saja. Belajarlah untuk menghormati orang yang lebih tua.”

Aku tak pernah mau memanggilnya Nene’ Nandong. Dan aku yakin Nandong parakang, seperti yang dikatakan kawan-kawanku. Maka kataku, “ia siluman dan punya ilmu sihir yang jahat!”

Ibu berdecak-decak. “Jangan kau hiraukan teman-temanmu itu. Mereka tidak tahu Nene’ Nandong. Nene’ Nandong miskin papa. Kita mesti mengasihaninya. Besok kau ke rumah Nene’ Nandong, bawa sedekah bulanan kita. Bulan ini tak perlu kita menyumbang ke masjid. Cukup Nandong yang kita santuni.”

Aku selalu berdebar bila Ibu menyuruhku ke rumah Nandong. Rumah panggung sempit nyaris tanpa bilik, terselip di tengah kebun singkong. Di hadapannya, menjalur kali kecil dengan bebatu hitam yang senantiasa kerontang di musim kemarau, bertitian dua batang pohon kelapa bersijajar,  dengan bebatang bambu sambung menyambung sebagai pegangan. Kali yang memisahkan rumah Nandong dan jalan kampung. Harus ada yang pemisah antara yang jahat dan yang baik, selalu demikian pikirku.

Tak ada rumah lain di sekitarnya. Hanya rumah Nandong: renta, limbung bahkan nyaris rubuh, pengap oleh tingkap dan pintu yang senantiasa tertutup. Bila malam tiba rumah itu kerap gulita tanpa pelita. Persis seperti rumah nenek sihir di buku-buku cerita. Dan ada sesuatu dalam rumah itu yang membuatku gentar dan bergidik.

Kata kawan-kawanku, parakang lebih jahat dari nenek sihir. Sebab parakang selalu menyerang dari belakang. Kau tak tahu kapan parakang menyerang, tahu-tahu kau telah jatuh sakit lalu meregang nyawa.

“Ibuku memberitahu, saat kau tertidur atau saat kau buang air,” Sardi, kawanku, memandangku dengan sorot mata teguh dan yakin, “saat itulah parakang datang menyerangmu.”

“Menyedot ususmu, mengunyah isi perutmu,” sahut Basir, kawanku yang lain.

“Kalau parakang jahat, kenapa orang hendak menjadi parakang?”

“Kalau kau menjelma parakang, kau akan kaya raya …”

“Nandong tak kaya raya, malah miskin luar biasa … ”

“Yang menjelma parakang panjang umur dan tak mati-mati.”

“Ya,” Sardi mengangguk. “Parakang tak akan mati sampai ada yang mewarisi ilmunya. Kau lihat sendiri bagaimana Nandong yang tua renta tapi masih hidup. Masih sanggup menyeret pelepah nyiur yang utuh.”

“Nandong akan hidup terus sebab tak ada anak yang mewarisi ilmunya,” lanjutnya lagi.

“Nandong sebatang kara,” kataku.

“Nandong punya Wak Baco,” cetus Basir.

Wak Baco, Wak Baco. Ialah alasan kenapa rumah Nandong seolah berhantu dan mengerikan.

* * *

DI RUMAH NANDONG, Wak Baco selalu berdiam di sudut. Duduk mencangkung dengan mulut terkatup miring dan sudut mata kotor oleh trembesi, menatap penuh selidik pada setiap yang datang, ia bergeming dalam diam yang aneh. Ia selalu duduk di pojok, dengan punggung menempel pada papan, kulitnya yang kelam seolah hendak bersenyawa dengan dinding papan yang gelap. Sepanjang ingatanku ia selalu di sana, setiap kali aku datang atas perintah Ibu, membawa beras atau uang santunan. Dalam kunjunganku yang tak sering itu, aku menciptakan pamali untuk diriku sendiri. Jika Nandong tak ada di rumah, segeralah pamit setelah meletakkan beras dan uang santunan, dan jangan terlampau dekat Wak Baco. Aku selalu merasa, ia seumpama ular derik yang diam mematung, namun siap mematuk jika kau lengah.

Syahdan Wak Baco dahulu seorang pejuang, tentara pemerintah, bergerilya untuk memadamkan pemberontakan bersenjata. Konon, Wak Baco dahulu seorang lelaki gagah dengan pistol dan sangkur yang kemilau di pinggang. Sardi banyak tahu tentang Wak Baco, sebab kakek Sardi almarhum adalah kawan seperjuangan Wak Baco. Kakek Sardi gugur dengan leher tertembus pecahan granat. Ibu Sardi-lah, yang banyak bercerita tentang Nandong dan Wak Baco.

“Cerita ibuku, Wak Baco tak mati dalam perang sebab terlindungi oleh jimat dan sihir Nandong. Ibuku bilang, Seharusnya Wak Baco-lah yang mati menggantikan kakekku, sebab Wak Baco ajudan kakekku, yang seharusnya melindungi kakekku,” Sardi bercerita dengan sebatang rumput terselip di bibir. Bertiga, Sardi, Basir dan aku duduk di bawah pahon jamblang, sembari menatap ke arah rumah Nandong, terselubung rerimbun daun singkong. Di sudut rumah itu aku bayangkan Wak Baco tengah duduk men cangkung dengan mata menyelidik penuh trembesi.

“Wak Baco kebal peluru. Dan manakala terpergok musuh, di mata musuhnya Wak Baco akan terlihat sebagai sebatang pohon pisang atau segerumbul semak. Karenanya Wak Baco terus hidup selama perang. Dan kakekku gugur. Kakekku tak punya ilmu sihir dan jimat yang gelap. ltu kata ibuku,” Sardi berlanjut.

“Tapi, kata ibuku, meski panjang umur, yang punya ilmu dan jimat tak akan bahagia seumur hidup. Lihatlah Nandong. Miskin, tak beranak, dan berjalan doyong. Wak Baco juga hanya bisa beringsut, tak bisa berjalan, terkurung dalam rumah,” kata Sardi lagi.

“Jangan-jangan Wak Baco yang sebenarnya telah meninggal dan jadi hantu,” celetuk Basir.

Aku membantah, “tidak, Wak Baco tak meninggal. Aku melihatnya minggu lalu. Ia bisu dan lumpuh.”

Basir tertawa keras-keras. “Jangan-jangan yang kau lihat itu hantunya!”

* * *

SEKALI, PERNAH kulihat Wak Baco keluar rumah saat hari tujuh belas agustus. Berjalan dengan kaki setengah diseret, dipapah oleh Nandong yang doyong. Entah mana yang lebih aneh, Wak Baco yang seperti hendak melata, atau Nandong yang condong ke belakang. Kadang-kadang kulihat tubuh mereka bergoyang-goyang, seolah akan ambruk. Kalau sudah begitu, serta merta Nandong akan berhenti melangkah, membetulkan rangkulan Wak Baco di pinggangnya, menarik Wak Baco agar lengket merapat di badannya, sebelum kembali melangkah. Pada orang-orang yang berpapasan dan bertanya, Nandong menjawab: suamiku hendak melihat pawai di jalan besar, jadi biarlah ia kubawa ke ujung jalan kampung agar ia bisa melihat pawai dari kejauhan.

Nandong selalu bekerja keras. Kata Ibu, Nandong harus bekerja keras. Kerap dari jendela  teras belakang kulihat ia hilir mudik, mencari pelepah nyiur kering, pokok kayu dan reranting. Untuk kayu bakar, sebab minyak bagi Nandong mahal dan tak terbeli. Beberapa kali kupergoki ia berupaya menjolok pepaya yang telah ranum di kebun seseorang. Kebun itu milik orang dari kota yang lalu menitipkan mata pada keluarga kami. Saat aku memberitahu Ibu, Ibu malah menyuruhku diam dan berkata, biarlah, toh, buah itu bila jatuh akan membusuk, dan kau tak pemah menginginkan buah yang telah menyentuh tanah. Biarlah pepaya itu menjadi rezekinya. Sungguh, aku tak suka bila Ibu memaafkan pencuri. Ibu tak pemah menenggang pencuri. Ibu pernah mendera tanganku dengan rotan saat aku mengambil manisan di stoples tanpa seizin Ibu.

Kadang-kadang, dari pintu belakang, Nandong datang ke rumah untuk menampi beras, dan sebagai upah ia akan pulang dengan beberapa liter beras terbuntal. Ibu selalu berbaik hati memberi tambahan upah, entah berupa beberapa potong ikan selai, atau sekantong telur, atau uang dalam amplop. Ia akan terbungkuk-bungkuk mengucap terima kasih dan berjanji akan datang lagi di bulan depan. Lalu ia akan lenyap di pintu belakang. Ia selalu datang dan pergi lewat pintu belakang, kilahnya, kakinya yang kotor membuatnya sungkan menjejak ruang tamu.

Nandong juga beroleh upah dari hasil memijat. Konon menurut Ibu, pijatannya enak, lembut namun liat. Menurut Ibu pula, dahulu Nandong juga seorang peraji. T api itu dulu, dulu sekali. Sejak santer kabar Nandong seorang parakang, tak seorang pun yang mau memanggilnya menolong persalinan.

Tentu saja, pikirku. Siapa yang berani memakai jasa seseorang yang kemungkinan besar, setelah pertaruhan nyawa saat persalinan, akan menyantap si ibu, juga si bayi yang baru lahir? Maka telah lama Nandong berpangku tangan pada setiap persalinan perempuan di sekitar kampung ku.

Hanya Ibu yang tetap setia memakai jasanya sebagai tukang pijat. Meski saat ia datang, aku tak pernah mau beranjak dari sisi Ibu. Aku khawatir jika Nandong yang parakang tiba-tiba menerkam dan memangsa Ibu.

Ibu hanya tersenyum saat aku mengutarakan kecemasanku. “Jangan dengar kawan-kawanmu. Mereka hanya menakut-nakutimu. Nene’ Nandong bukan parakang. Pernahkah kau lihat lidahnya terjulur dan bercabang dua? Pernahkah kau lihat matanya memerah seperti bebara api?”

Tentu saja tidak, Ibu. Tapi Ibu Sardi memberi petunjuk bagaimana mengenali parakang. Jika seorang parakang berjalan di depanmu, ikuti dan jejak bekas telapak kakinya. Parakang yang sejati akan terengah-engah dan bernapas mengi, dan akan menyuruhmu berjalan di depan sebelum jejak yang ke empat puluh kau pijak.                .

Aku pernah membuktikannya. Aku mengikuti Nandong dari belakang, memijak bekas langkahnya. T ak berapa lama ia menoleh-noleh ke belakang, kepadaku yang berjalan membuntuti, lalu suatu saat berhenti, dan menyuruhku berjalan di depan!

Aku tak mau dan berlari pulang. Peringatan Ibu Sardi membuatku waspada: begitu kau berjalan di depannya, dari belakang kau akan diterkam dan dilahapnya!

Ibu tergelak-gelak mendengar ceritaku. “Tentu saja Nandong menoleh ke belakang! Siapa yang nyaman dikuntit oleh bocah yang berjalan terlalu dekat di belakang?”

Ibu juga selalu mengatakan kalau teman-temanku suka membual. “Jika ia parakang, tentu sudah sejak dulu memangsa kita. Pernahkah kau melihat Nene’ Nandong memangsa mahluk?”

Tak pernah, aku harus mengaku. Tapi sengak sangit minyak kelapa dari rambutnya, yang tetap melengket di hidungku meski ia telah meninggalkan rumah, jalannya yang doyong, matanya yang bergelambir dan juling, rumah yang gelap menyeramkan…. Ibu tetap tak mau percaya kalau di balik wujudnya, Nandong adalah ahli tenung dan pemuja sihir yang kelam. Kenapa Ibu tidak seperti Ibu Sardi dan ibu-ibu lainnya yang menjaga jarak dengan Nandong?

* * *

NANDONG masih tetap mendatangi rumah kami, dan sesekali Ibu masih tetap menyuruhku ke rumah Nandong membawa ini itu, lalu kembali aku berhadapan dengan tatap penuh selidik mata bertrembesi dan kediaman yang mengancam dari Wak Baco.

Ibu tahu kalau aku tak pernah menyukai Nandong. Ibu tahu kalau Nandong bagiku seperti selalu mengisyaratkan marabahaya yang pelik, tersimpan jauh dan sembunyi. Ibu pun mengabaikan tekadku jika aku dan teman-temanku tetap berupaya membongkar kedok Nandong yang parakang. Tapi inilah suatu rahasiaku hingga kini: Ibu tak pernah tahu keterkejutanku manakala di suatu sore aku mendapati Nandong terbungkuk-bungkuk di parit belakang rumah. Matanya tunduk mencari -cari namun tak lama ia berlalu sembari bergumam tentang sesuatu yang tercecer.

Saat itu serta merta cerita Ibu Sardi menyerbu kepalaku. Parakang menyukai comberan, parit, dan got di sekeliling rumah, tempat menaruh teluh untuk pemilik rumah. Parakang menyukai segala yang berair dari dapur dan kamar mandi. Nandong ter bungkuk-bungkuk di sekitar parit rumah, hendakkah ia menanam teluh? Aku merasa lengan dan kakiku dingin saat malam hari Ibu mendadak mengeluh tak enak badan. Adakah Nandong telah mengirim teluh celaka pada Ibu?

Aku tercekam ketakutan. Cerita Ibu Sardi tentang ilmu hitam yang pelan-pelan menghabisi nyawa membuat bulu kudukku meremang. Aku gelisah saat esok paginya Ibu merasakan mual dan muntah- muntah. Dan sakit perut yang datang tiba-tiba membuatku yakin, inilah ulah Nandong. Sakit peruh dan muntah darah.Teluh parakang membawa tulah …

Tapi Ibu tak khawatir. Ia hanya sakit perut tanpa muntah darah. Ia malah menggeleng-geleng saat aku beritahu tentang Nandong yang terbungkuk-bungkuk di atas parit. Kata Ibu, Ibu tidak sakit. Ibu malah senang. Dan ajaib, aku lihat Ibu malah tersenyum dan mengelus perutnya….              .

Esoknya, di siang hari berhujan deras saat Ibu pulas, dari jendela dapur kulihat bayangan Nandong berpayung daun pisang, melintas menuju pintu belakang. Aku bergegas menghadang di depan pintu.

Kataku, “Ibu tidak ada, dan kau tak boleh masuk.”

Ia bilang ia hendak memeriksa sesuatu yang ketinggalan. Aku bersikukuh, berkacak pinggang di depan pintu. Nandong tak boleh masuk. Nandong parakang yang berdiri separuh basah di depan pintu dapur tak boleh menginjakkan kaki di dalam rumah, apalagi saat Ibu sakit.

Ia tampak kebingungan, tentu tak biasa pada sikap kasar dariku, dari aku yang selalu sopan. Aku tak peduli lagi pada sopan santun terhadap Nandong yang lebih tua, terhadap Nandong yang seharusnya kupanggil­nya Nene’.

Aku bersiteguh, berdiri berkacak pinggang di pintu dapur, menghadang Nandong yang kemudian pergi tanpa berkata apa-apa. Kusaksikan tubuhnya yang doyong lenyap, berpayung daun pisang, dalam hujan yang melebat dan salak guntur yang menghebat.

* * *

OLEH suara kentongan dan guntur yang bersitalu, aku terbangun dari tidur di sore hari yang berhujan itu. Kulihat Ibu telah berdiri cemas, di tangannya payung tergenggam. Salak kentongan berterus tanpa putus, adakah yang tertimpa musibah? Ibu menjawab pertanyaanku dengan ajakan untuk segera bangkit.

“Kita ke rumah Nene’ Nandong.”

“Kenapa, Bu?”

“Nene’ Nandong sakit, tergelincir di titian … ”

Aku diam, berjalan di belakang Ibu. Aku membayangkan titian yang basah dengan dasar kali berbatu di bawahnya. Ibu membuka pintu belakang, payung teracung menantang langit yang basah. “Entah kenapa ia berkeliaran di hari berhujan seperti ini. Jangan-jangan ia hendak ke rumah, mencari amplop upahnya yang tertinggal. Ia sendiri yang meletakkannya di meja dapur. Ia sudah mulai pikun rupanya … ”

Aku masih diam. Teringat pada Nandong yang terbungkuk di dekat parit dapur dengan mata yang mencari-cari siang tadi. Pada kakinya yang menyepak -sibak rumput. Mengirakah ia telah mencecerkan amplopnya di situ? Parit dapur dekat dengan pintu belakang. Mungkin ia merasa menjatuhkan upahnya di situ …

Ibu menggenggam tanganku erat-erat, berjalan cepat dengan payung terkembang sementara langit di atas masih meneriakkan gemuruh guntur. Sewaktu melintasi titian menuju rumah Nandong, kulihat dasar kali kini bergenang, dangkal dan kecoklatan, tetapi bebatuan hitam yang bertonjolan menciutkan dan mengancam. Pada tanganku Ibu mencengkeram lebih kuat!

Saat kami tiba di rumah Nandong, hari merembang petang. Sebanyak orang telah berkumpul, memenuhi rumah sempit Nandong, luber hingga ke halaman yang becek oleh hujan yang masih juga turun. Ibu meng­genggam tanganku erat-erat, mencari jalan, menerobos kerumunan orang, mendaki tangga, menguak mereka yang duduk berbisik-bisik …

Dan di sana aku lihat Wak Baco, di pojok ruangan, tempat ia biasanya mencangkung dan menatap kedatanganku penuh selidik. Kini ia terduduk memeluk istrinya, bibirnya yang miring bergerak-gerak aneh, melolong ganjil, dan air mata bercampur trembesi leleh di pipinya. Di pangkuannya, berbantal paha Wak Baco, Nene’ Nandong terbaring bisu dan beku. Kulihat wajah Ibu memucat dan yang teringat olehku adalah: Nene’ Nandong dengan rambut basah berdiri di ambang pintu belakang berpayung selembar daun pisang…

Ceracau dan tangis Wak Baco bersekutu dengan hujan dan guntur yang masih bergerau-gerau.

Catatan:

1. Parakang: siluman sejenis gergasi dalam legenda masyarakat Bugis. Mereka yang memilih menjadi parakang adalah mereka yang mengharap kekayaan, kekuatan, panjang umur dan sebagainya, dari ‘kegelapan’. Konon parakang tak bisa mati, saat si parakang sekarat seseorang harus melanjutkan ilmu parakang, agar parakang yang tengah meregang nyawa dapat meninggal dengan tenang. Olehnya sering ditemukan kisah- kisah parakang yang turun temurun dalam satu keluarga.

2. Nene’: Nenek dalam langgam Bahasa Bugis Makassar.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: