Skip to content

Di Upacara Bendera, Jadi Apakah Engkau?

May 15, 2010
Sebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda yang berada di Indonesia: masihkah upacara bendera eksis di sekolah? Masihkah diadakan tiap senin?

Saya tiba-tiba teringat upacara bendera di saat hari berkabung nasional di Belanda. Selama sepuluh menit semua warga diminta diam, mengheningkan cipta untuk para pahlawan Belanda yang gugur di masa perang dunia ke-2. Saya, yang jelas tak punya kepentingan apa-apa dengan ‘pahlawan belanda yang gugur’, mendapatkan isyarat untuk diam dari Ralf, teman saya, saat dia dengan khusyu berdiam diri de depan pesawat teve.

Saya waktu itu tengah sibuk bernyanyi-nyanyi (lagu Kuch-kuch Hotha Hai, seminggu itu saya digoda oleh kenangan akan film India). Jadi saat Ralf mendesis menyuruh saya diam dan mengheningkan cipta, saya merasa sedikit terganggu.

Harap dicatat, Ralf berkebangsaan Jerman. Jadi, tuduhan saya kepadanya saat mengheningkan cipta selesai: engkau memang patut dan harus mengheningkan cipta. Kakek atau ayahmu dulu barangkali salah satu dari mereka yang membantai orang Belanda.

Ralf menggumamkan kata semacam ‘dasar Indo’ atau ‘dasar barbar’. Saya tak peduli.
Awal Pekan Betis Kesemutan
Sejak kelas satu SD saya telah menjadi jemaah upacara bendera. Meski sempat melalui taman kanak-kanak, kenangan masa TK bersih tak ternoda oleh upacara. Yang ada hanyalah berbaris di halaman, dengan panduan ibu guru cantik yang teramat gemar bertepuk dan bergeleng-geleng, memandu kami menyanyikan lagu: lonceng berbunyi baris di halaman, bersiap kaki rapat, pegang pundak teman…..”

Di akhir lagu, bersamaan dengan lirik “mari meniru burung terbang di udara” kami bersama-sama mengepak-epakkan tangan, berupaya terbang seperti burung.

Memasuki SD siksaan bernama upacara itu datang. Sejak di kelas satu di setiap senin kami harus mulai berjemur di lapangan, di bawah sinar matahari yang beringsut naik. Selama lebih kurang 30 menit, kami harus berdiri rapi dalam barisan, kerap dengan betis kesemutan, di bawah tatapan tajam Bapak dan Ibu Guru yang siap menjewer-memukul-mencubit kami yang tak bisa tertib.

Tapi apa yang bisa diharap dari anak-anak ingusan yang dipaksa tertib-khidmat-dalam barisan bak tentara, terjemur di lapangan selama hampir setengah jam? Tentu saja akan ada yang ribut (paling utama dari barisan kelas satu, dua dan tiga), kerap pula ada yang pingsan. Dan jangan ditanya mereka yang mengobrol diam-diam, atau menjahili teman selama upacara berlangsung. 

Beda Sekolah, Protokol (kurang lebih) Sama
Setiap sekolah punya versi masing-masing bagaimana upacara bendera mereka. Juga punya protokol tersendiri. Namun secara garis besar protokol upacara bendera dari SD hingga SMA di masa saya adalah seperti di bawah ini:
1. Pemimpin barisan mempersiapkan barisannya
2. Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara
3. Penghormatan kepada pemimpin upacara
4. Laporan kepada pemimpin upacara oleh pemimpin barisan, bahwa barisan siap mengikuti upacara (siapa bilang?).
5. Pembina upacara memasuki lapangan upacara, pasukan disiapkan (ajudan membuntuti di belakang)
6. Penghormatan umum kepada pembina upacara
7. Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara bahwa upacara siap dilaksanakan (kesempatan untuk membentak pembina upacara: siap laksanakan!)
8. Pengibaran Bendera Merah Putih diiringi dengan lagu Indonesia Raya (oleh kelompok penyanyi).
9. Mengheningkan cipta (diiringi lagu berjudul sama: Mengheningkan Cipta)
10. Pembacaan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945
11. Pembacaan Teks Pancasila oleh Pembina Upacara dan diikuti oleh seluruh peserta upacara
12. Amanat pembina upacara (pasukan diistirahatkan, akhirnya! Namun lama-lama engkau akan berharap pembina upacara tiba-tiba sariawan atau sakit gigi)
13. Menyanyikan salah satu lagu wajib nasional (biasanya Padamu Negeri atau Satu Nusa Satu Bangsa, dan tak pernah Isabella atau Suci Dalam Debu meski keduanya sangat populer secara nasional, di masa saya)
14. Pembacaan doa (di sini peserta upacara harus khusyu atau berpura-pura khusyu)
15. Laporan kepada pembina upacara bahwa upacara telah selesai
16. Penghormatan kepada pembina upacara dipimpin oleh pemimpin upacara
17. Pembina upacara meninggalkan lapangan upacara (ajudan mengekor di belakang)
18. Penghormatan kepada pemimpin upacara
19. Pemimpin upacara meninggalkan lapangan upacara (termasuk ajudannya)
20. Pemimpin pasukan membubarkan pasukan
21. Upacara selesai (horee!!)

Di SD saya di Bukaka Watampone, salah satu prosesi upacara adalah pembacaan Janji Murid, yang salah satu isinya bila saya tak salah ingat adalah: taat dan patuh kepada orang tua, guru dan tata tertib sekolah. Poin yang segera dilanggar saat itu juga oleh mereka yang memilih mengobrol dan cekikikan saat Janji Murid ini dibacakan.

Saya di Upacara Bendera
Bersajak (dalam hal ini ‘berbunyi’ dengan suara yang diindah-indahkan), adalah kegemaran saya. Lantaran ini di setiap upacara saya didapuk untuk membaca sesuatu. Di SD saya menjadi pembaca Pembukaan, di SMP masih sama, di SMA membaca Doa dan Pembukaan silih berganti. Lantaran ini pula hingga kini Pembukaan tak bisa lekang, melekat bagai rajah di ingatan saya (engkau bisa membangunkan saya tiba-tiba di tengah malam buta, dan saya tetap bisa melafalkan Pembukaan selengkap-lengkapnya!)

Pernah pula saya ditawari untuk menjadi pengibar bendera, sekali dua saya laksanakan tapi lebih banyak saya tolak, lantaran saya tak suka berurusan dengan tali temali dan mengamati lipatan kain. Pula saya canggung di urusan baris berbaris dan hitung menghitung langkah (kaki kiri atau kanan, hitungan ganjil apa genap?) 

Tapi tak pernah saya diberi tugas untuk menjadi pemimpin upacara. Kata wali kelas saya di semua jenjang sekolah (SD, SMP, SMA), pemimpin upacara harus tegap, berwibawa, bersuara lantang. Seperti tentara pemimpin upacara di acara Parade Senja TVRI.

Sementara saya, satu-satunya yang mirip tentara yang ada pada diri saya adalah model rambut. Itupun saat di SD dan SMP saja. Di SMA, ‘sejumput’ ketentaraan itu tak lagi tersisa. Musnahlah harapan untuk menjadi pemimpin upacara. Yang terjadi malah, suatu waktu saya ‘diberi amanah’ memimpin kelompok penyanyi. Prestasi tak biasa, lantaran selama ini yang menjadi dirigen atau tukang palu hanyalah kaum perempuan. Jadi saat memimpin lagu sekonyong-konyong saya merasa menjadi Mas Guruh Soekarnoputra dengan kelompok Swara Mahardhika-nya.

Sekali pula saya menjadi ajudan pembina upacara. Ini tugas yang paling ambivalen: kontroversial dan menyiksa, sekaligus menyenangkan. Kontroversial sebab engkau tak melakukan apa-apa, selain berdiri di belakang punggung Pembina, sambil menenteng teks Pancasila dalam map (Pembina Upacara tak hapal teks Pancasila?) . Menyiksa, sebab selama upacara engkau menjadi pusat perhatian, harus tertib-khidmat-tak macam-macam, lantaran semua pasang mata berpusat di dirimu (sebenarnya ke pembina, tapi karena engkau menjadi ekor pembina, otomatis engkau juga teramati).

Bagian yang menyenangkan adalah, sebagai ajudan engkau lebih lambat memasuki lapangan upacara dan lebih dulu meninggalkan lapangan upacara (lihat susunan acara). Beberapa kawan saya yang menjadi ajudan pembina menambah ritual upacara, dengan melambai secara sembunyi-sembunyi kepada teman-teman mereka yang masih harus ‘terjemur’ di lapangan.

Mencoba Eksis di Upacara?
Di sekolah, di jenjang usia kanak-kanak dan remaja, salah satu cara untuk bisa terkenal dan dikenal (istilah kini: eksis) adalah dengan menjadi pengisi upacara. Tampil di hadapan semua civitas akademika sekolah dan berhasil menunaikan tugas dengan baik dan sempurna tentu akan membawa nama baik, meski seingat saya amat jarang murid atau siswa yang antusias menyambut tugas sebagai pengisi upacara. Sebab jika gagal, engkau akan malu dan dipermalukan (ini yang berbahaya), dan tak akan pernah dipercaya lagi untuk menanggung tugas sebagai pengisi upacara. 

Banyak kasus aib yang terjadi di lapangan upacara. Kasus membacakan protokol acara yang tak runtut, Pembacaan teks Pembukaan, Janji Murid atau Doa yang terpatah-patah. Kasus gagal yang paling kerap menimpa mereka yang menjadi pengibar bendera. Berikut tiga kesalahan paling penting dalam urusan kibar mengibar bendera.

1. Kesalahan baris berbaris. Yang paling beresiko adalah saat meninggalkan tiang bendera (sebab engkau harus menyesuaikan hitungan dan langkah sambil terus bergerak).

2. Bendera yang terpuntir saat dipentangkan. Saat bendera dipentangkan, sang pementang akan menjerit: bendera siap! (oh tidak, ternyata harus diulang). Sekali mungkin tak apa, tapi jika kali kedua atau kali ketiga kesempatan masih juga terpuntir, alamat yang bersangkutan tak bakalan terpilih menjadi pengibar bendera lagi. Dan tentu saja, hukuman menanti.

3. Bendera yang terkerek terlalu cepat atau terlalu lambat (mengikuti lagu Indonesia Raya) yang berakibat bendera harus sprint di akhir lagu atau tiba lebih dulu di ujung tiang lantas melamun, menunggu lagu selesai.

 

Ada satu insiden yang membekas di ingatan saya saat di SMP. Seorang  teman saya dari kelas lain diberi tugas membaca Pembukaan UUD  1945. Di alinea terakhir ia tak sengaja membaca ‘yang berkedaulatan  rakyat dengan berdasarKAN kepada (semestinya berdasar kepada).  Seorang guru saya (namanya Pak Ambo, ia guru matematika saya      yang galak luar biasa, semoga ‘dosa-dosa’nya terampunkan) yang saat  itu bertugas sebagai pengawas upacara, bergegas menghampiri si  anak, lalu… Buk! Tinju sang guru menghujam deras di punggung si  anak (perempuan!). 

Di hadapan seisi sekolah, si anak terdengking di depan mikrofon, mengeluarkan keluh pendek, namun terus membaca sampai selesai. Yang saya tahu saat ia selesai membaca, sepanjang upacara wajahnya pucat dan basah oleh keringat, mungkin pula airmata.

Membuat kesalahan di depan orang banyak (dan kemungkinan besar mendapat teguran, ejekan, kerap hukuman dari guru bila sesuatu yang keliru terjadi) tentu sangat tak mengenakkan. Mengingat-ingat semua insiden yang terjadi di lapangan upacara, saya bertanya-tanya: adakah upacara ini perlu dan baik bagi tumbuh kembang anak. Selain untuk menumbuhkan nasionalisme (yang juga penuh tanda tanya itu), adakah upacara memberikan sumbangsih berarti selain ketaknyamanan di hari senin oleh betis yang kesemutan, keharusan berjemur, dan kecemasan kalau-kalau berbuat kesalahan? Dan semua ketaknyamanan ini bersumber pada satu hal, keharusan untuk mengupacarakan secara kolosal pengibaran selembar kain bernama bendera.

Menoleh kembali ke masa kanak-kanak dan remaja saya, saya tak menemukan sesuatu yang berarti dari upacara ini selain bahwa kini Pembukaan UUD 1945 terus menempel di benak saya, dan akan tetap begitu, dan hanya akan terhapus bila saya demensia berat, amnesia atau meninggal.

Tulisan ini saya tutup dengan doa penutup di teks Doa upacara bendera: Wasubhhanallahi ammaa yaasifuun, wasalaamun alal mursaliin, walhamdulillaahi robbil aalamiin.

 

12 Comments leave one →
  1. anna maryani permalink
    August 24, 2010 2:01 am

    Di upacara bendera, saya pernah membaca teks Pembukaan dengan suara yang buruk dan ditertawakan satu lapangan gara-gara suara yang semula lantang tiba-tiba jadi seperti nenek sihir karena saya kehabisan napas….

    Tahu tidak, saya selalu menyesali suara yang diberikan oleh Tuhan kepada saya hingga saat ini…(termasuk karena ‘insiden’ teks Pembukaan waktu SMP di atas).

  2. Mark Corbett permalink
    October 15, 2010 3:08 pm

    Is this the Rahmat I know from Makassar? If so, send me your Skype address and/or phone number. I’d like to catch up with you.

  3. Rahmat Hidayat permalink
    October 18, 2010 8:55 pm

    hi mark. yes it is me. this is my mobile number: +31 610 36 69 36.

  4. arafah permalink
    November 15, 2010 8:08 am

    ternyata tulisan ini mengingatkan saya juga pada masa SMP. saya juga pernah ditugaskan jadi pengerek bendera, dan saat balik harus ada jalan ditempat dulu, dan apa yang terjadi, sepatu saya sedikit keluar satunya, soalnya ukuran sedikit longgar. dan itu yang terakhir kali saya menjadi pengerek bendera. tapi beralih tugas jadi pembaca UUD 45. tapi tiap tiba membacakan UUD 45 kaki saya pasti gemetar,,,

  5. December 7, 2011 4:04 pm

    bgs jg lah kau

  6. gaf permalink
    February 24, 2012 3:18 pm

    wah.. kalo saya sih malah pernah ngibarin bendera setengah tiang. lagu udah abis tapi bendera masih posisi pertengahan. mungkin bkn lagu Indonesia Raya yang mestinya dinyanyikan, tapi lagu Gugur Bunga. Malu, jelas.. Sempat pula diejek teman dan dikritik guru-guru di kantor.Yah.. sejak itu saya sedikit trauma kalo disuruh jadi pengibar lagi, tapi yaa kesalahan harus dibayar, dan kesalahan-kesalahan kecil lainnya bisa dimaklumi…

  7. September 20, 2012 1:16 pm

    KEBETULAN NIH GI CARI2

  8. January 29, 2013 12:57 pm

    di upacara bendera, saya pernah jadi pembawa benderanya plus masang benderanya tapi, ternyata susahnya minta ampun (maklum masih SD, belum tau apa-apa), karena susah itu ternyata bendera saya kebalik dan akhirnya diketawain satu sekolahan, malu banget waktu itu : P

  9. eva permalink
    June 14, 2013 12:07 pm

    saya di hukum jadi pemimpin upacara besok senin, gara-gara pas upacara kemaren saya kabur -__-

    • December 26, 2013 3:48 am

      Lama lama anak Indonesia jadi engga suka upacara. Upacara kok bisa jadi hukuman toh.

  10. tya permalink
    September 18, 2013 12:21 pm

    wah… jadi inget jaman dulu, di SD 2 thn jadi pengibar bendera, aman tak ada masalah.
    di SMA jadi MC selama 3 thn setiap kali kelas kita dapat giliran mengisi upacara maju terus…. mungkin suara dianggap bagus kali ya….menyenangkan juga bisa tampil plus otomatis dikenal semua orang terutama kakak kelas,

  11. December 26, 2013 3:45 am

    Gurunya kasar sekali ya. Itukan menjatuhkan mental anak murid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: