Skip to content

Rambut Kami: Model Tentara Bugis dan Amrik

January 28, 2010

Tukang Cukur. Foto oleh Yato.

Saat sisir tak lagi mulus meluncur di saat rambut masih basah, saya mafhum telah tiba waktunya untuk memangkas rambut.

Rambut saya tergolong rambut yang cukup ‘percaya diri’. Ia mengumumkan diri bila tiba saatnya untuk dipangkas. Bila telah cukup panjang, Ia akan mengikal, jalin menjalin, bergumpal-gumpal. Di Indonesia, teman-teman yang cukup tega hati menyebutnya ‘krinyol’ (keriting menyolok)

Kalau sudah begini saya akan menelepon Hizihair, salon rambut langganan saya, membuat janji, lalu berangkat ke bilangan Harlemeerstraat. Dan sebelum cap pria metroseksual mampir ke jidat saya, saya harus membuat klarifikasi. Hizihair tergolong salon yang tak mewah, tak mahal dan saya memilihnya sebab di dompet saya terselip kartu diskon untuk Hizihair.

Jadi pembaca yang menuduh saya pria metroseksual, maaf Anda salah. Saya bukan pria metroseksual. Hanya seorang pria metromini yang kebetulan harus berhemat.

Tapi Hizihair ini made in Belanda. Saya ingin bercerita tentang ihwal memotong rambut di tanah air, di masa kecil saya, di kota kecil Watampone, di pelosok Sulawesi.

Cukur Tentara
Bapak saya (kami menyebut Bapak dan Ibu untuk kedua orang tua kami), seorang perwira abri, menerapkan militerisme di saat dinas dan di luar dinas. Saya dan saudara laki-laki saya yang lain juga harus menjadi ‘anggota kesatuan’. Tidak dengan emblem pangkat dan seragam, melainkan dengan model rambut.

Model rambut yang dimaksud adalah model rambut 85% plontos dengan 15% rambut tersisa di bagian depan. Jika si tukang cukur berbaik hati, rambut yang tersisa ditinggalkan secara gradual mulai dari ubun-ubun, terus ke depan dan panjang maksimal tepat di atas dahi. Bila tidak, maka kepala plontos licin, lalu tiba-tiba sejumput rambut ditinggal begitu saja. Seolah terlupa.

Bapak menyebutnya cukur perwira. Kedengaran mentereng. Perwira saya kira cukup terhormat baik dalam hal nama maupun dalam hal kepangkatan.

Tapi teman-teman saya menyebutnya cukur banda’-bandang. Lebih kejam lagi, cukur model kelapa. Tentang banda’-bandang yang secara harfiah berarti kue nagasari, saya tak pernah tahu kenapa cukur model ini dinamakan demikian.

Engkau tahu, kanak-kanak kadang-kadang kejam luar biasa. Saya dan Takdir, kakak laki-laki saya yang berselisih usia hanya setahun, menjalani cukur model ini hingga SMP. Selama itu kami harus menebalkan telinga, menghadapi ejekan kawan-kawan yang beruntung tak harus menjalani kewajiban bercukur model kelapa.

Saya dan Takdir selalu bercukur pada saat yang sama. Jadilah kami selalu berendengan menuju tukang cukur langganan kami saat rambut kami tumbuh panjang. Panjang di sini berarti lebih dari 2 centimeter. Itu sudah terlalu panjang untuk ukuran perwira, mungkin begitu pikir Bapak dan Ibu.

Saya masih ingat benar lokasinya. Di pasar sentral lama, di sela-sela ruko model tempo dulu yang tak berhuni. Bermodal kursi berlengan, sepotong kaca buram dan meja sederhana tempat segala perangkat alat cukur ditata. Per segala ukuran, aneka pisau cukur, sepotong kulit keras untuk mengasah pisau cukur, tempat bedak merek Marck dan puff kusam, sebotol bedak talek merah jambu merek Fang, sebotol air, wadah sabun colek bekas berisi sepotong sabun mandi berwarna merah (mungkin Lifebuoy!) terendam air keruh dan kekuning-kuningan (padahal si sabun berwarna merah). Hanya si tukang cukur dan Tuhan yang tahu seberapa sering ia mengganti air di wadah sabun itu.

Selebihnya, kain putih dan handuk kecil berwarna coklat. Kain putih untuk penutup badan saat cukur, biasanya dijepit di bagian belakang dengan jepitan jemuran (kalau ada). Bila tak ada cukup disimpul (dan saya merasa menjadi semacam buntalan). Handuk untuk menepis sisa-sisa rambut saat selesai. Caranya, Handuk ditampar-tamparkan ke tengkuk dan leher, lalu digosokkan sekali dua.

Jangan berpikir tentang hygiene. Air sabun yang kekuning-kuningan, handuk coklat yang sebenarnya putih, pisau cukur yang tak pernah diganti…

Tukang cukur langganan kami itu seorang pensiunan tentara jaman dahulu. Kepadanya kami selalu harus bilang: cukur model perwira, seperti pesan Bapak dan Ibu. Lalu kami didudukkan, per bergerak menyusuri kepala, dan kami menyaksikan rambut kami berjatuhan sambil menguat-nguatkan hati untuk menghadapi ejekan kawan-kawan sekolah besoknya.

Rambut di pelipis dibabat dengan pisau cukur. Setelahnya, tengkuk dan pipi dibedaki denganpuff dan kami pulang dengan leher dan pipi cemong oleh bedak yang tak rata.

Kerja. oleh Ricky B Hartono

Sampai sekarang saya tak bisa mengerti untuk apa bedak itu. Bisa jadi semacam penanda bahwa kami baru saja bercukur. Meski cukur model perwira kelihatannya tak pantas bersandingan dengan bedak. Merek Marck pula.

Pemberontakan Setengah Hati
Menginjak SMP, saat kami yang beranjak remaja mulai memperhatikan penampilan, cukur model perwira menjadi mimpi buruk. Apa daya, Bapak mengharuskan kami tetap bercukur model sama.

Ibu-lah yang menjadi wakil kami di parlemen rumah tangga yang sama sekali tak egaliter itu. Kepada Ibu kami mengeluh betapa kami menjadi bulan-bulanan ledekan teman-teman di sekolah. Betapa kami menjadi dua-duanya (kompak di saat yang bersamaan) anak yang masih bercukur model kelapa di sekolah.

Bapak bergeming. Cukur perwira masih wajib. Kami memperkuat lobi ke Ibu seraya meminta Ibu memeriksa berapa banyak anak tetangga yang masih bercukur model kelapa.

Tak ada. Ibu mulai mengerti.

Tapi Bapak punya rencana lain. Sebab tukang cukur langganan kami kini sulit diakses (kami berpindah alamat ke pinggir kota) maka ia sendirilah yang mengeksekusi rambut kami. Tentu saja dengan mengindahkan saran dari istrinya (penyambung lidah kami).

Bapak tak pernah memangkas rambut. Kami berdebar menunggu giliran menjadi kelinci percobaan.

Takdir yang mendapat giliran pertama. Hasilnya luar biasa buruk. Takdir berubah menjadi kelinci aneh. Kepalanya nyaris plontos di bagian belakang bawah. Tapi mendadak berambut di bagian tengah belakang, sejajar dahi, dan seterusnya ke atas. Persis topi. Belakangan saat Forrest Gump ngetop saat kami kuliah, saya teringat model rambut ini. Jadi sebenarnya tetap model tentara, tapi kali ini model tentara Amerika.

Takdir menangis. Tapi harus menahan tangis saat Bapak mengetok kepalanya dengan gunting.

Ibu turun tangan. Dan melihat betapa buruk hasil hasta karya Bapak, Ibu berdiri di samping mengawasi saat Bapak menggarap rambut saya. Berkat Ibu, saya tak mendapat model topi, melainkan model rambut yang sama sekali baru. Cukup keren. Beruntung bagi saya, bencana bagi Takdir.

Di sekolah, Takdir menjadi bulan-bulanan seorang diri. Untuk pertama kalinya ia menjadi sasaran tunggal ejekan, sementara saya terbebas. Kejamnya pula, saya kadang-kadang ikut meledek. Hal yang akhirnya saya sesali belakangan.

Saat pulang, Takdir melapor ke Ibu bagaimana model rambut topinya menjadi ejekan sekelas. Mungkin juga disertai laporan kalau saya juga terlibat dalam ejek mengejek itu. Ibu melapor ke Bapak. Sorenya saya dipanggil.

Kata Bapak, rambut saya kurang pendek. Dan harus dipermak. Saya mengerti ke arah mana rambut saya akan dibawa. Atas nama keadilan, mungkin sekaligus membungkam saya agar tak meledek rambut saudara sendiri.

Saya meneteskan airmata saat gunting kembali beraksi di kepala saya. Berlainan dengan Takdir yang menangis dengan suara, saya selalu menangis dalam diam. Tapi Bapak tahu saya menangis, dan selama saya tak ribut menangis saya tak akan digetok dengan gunting.

Saya akhirnya juga mendapat model topi, meski tak seburuk model rambut Takdir. Di sekolah esoknya, keadaan kembali ke sediakala. Dua bocah bersaudara dengan model rambut yang sama. Saya terpukul, mungkin lebih hebat dari Takdir. Sebab saya menyadari rambut saya telah didowngrade dari model keren ke model topi, hanya dalam 24 jam.

Itu terakhir kali kami mendapatkan model rambut yang buruk. Setelahnya, Ibu kembali menjadi penyelamat kami.

Belajar dari pengalaman bagaimana model rambut menjadi sumber drama penuh airmata dalam keluarga, Ibu meminta-bujuk Bapak merelakan rambut kami menjadi urusan kami sendiri. Bapak (akhirnya) setuju. Dengan syarat, panjang rambut tetap dalam pengawasan melekat.

Bagaimanapun, Bapak dan Ibu membenci rambut panjang. Hingga sekarang.

13 Comments leave one →
  1. February 8, 2010 6:00 pm

    kakak, aku dapat feelnya! ayahku juga kebetulan tentara! hahah alasan berhemat , jadilah kepalaku ajang kreativitas beliau setiap triwulan!
    menebalkan telinga, kadang harus berpredikat cukur’ passambi’ kelapa! hahah

    jem[pol! i like so much your notes, that is pumping me so much to start writing and find out my style!

    good luck amsterdam!

  2. February 11, 2010 6:05 pm

    hi try. terimakasih sudah membaca. wah bagus kalau akhirnya mendorong engkau untuk menulis juga.
    salam dari amsterdam. dan saya menunggu tulisan-tulisan itu…🙂

  3. February 20, 2010 3:00 am

    assalamualaikum…
    sekedar share derita yang sama,
    saya masih ingat bunyi khas kura-kura (alat cukur konvensional) menyisir rambut saya dengan dataran bergelombang, di atas tebal, kiri kanan nyaris botak.
    kalau misalnya, terlihat sungguh mengerikan, setelah job bapak habis…ibu selalu siap dengan gunting untuk memperbaiki bagian yang tidak rata, tapi tetap saja tidak merubah model aslinya.🙂

  4. February 20, 2010 6:44 pm

    ternyata namanya kura-kura. di kampung saya namanya per.

  5. henny hasan permalink
    March 3, 2010 11:54 am

    salam kenal.
    tulisan ini sungguh menghibur sekali. saya mengagumi tulisan-tulisan anda. dan menunggu tulisan selanjutnya.🙂

  6. April 27, 2010 8:10 am

    hahahahaa… saya punya pengalaman yang sama kanda…
    saya dan kakak saya (namanya tabrani, dan kami juga selisih satu tahun) diahruskan cukur model perwira, yang zaman saya kecil, selalu dikagumi sama etta (saya memanggil ayah dengan panggilan “etta”) dan ibu.
    kakak saya sihh enjoy saja, tapi saya tidak. pernah saya berinisiatif untuk memotong sendiri sisa rambut yang tersisa di di bagian depan. waktu itu saya sudah SMP, dan tentu saja akan sangat aneh (jika anda pernah menjadi anak-anak) menyaksikan temanmu memotong rambutnya persis gaya si toloy. saya memotong “sisa” rambut itu sendiri di depan cermin, tanpa sepengetahuan orang. dan hasilnya ? rambut saya malah “kebbang-kebbang”…
    ahhh malunyaa…

  7. April 27, 2010 8:17 am

    kisah ta benar2 mirip kanda.. tukang cukur di pinggir pasar sentral (bedanya, saya pasar sentral sinjai) yang diapit sama penjual ubi dan penjual ayam yang baunya minta ampun..
    handuk yang sudah berwarna coklat. bedak yang tak pernah berganti merek walaupun kami telah langganan tukang cukur itu (kalo tak salah namanya pak taming) bertahun-tahun sejak saya masih SD.
    hahahaha.. serasa dejavu..

  8. Lily permalink
    April 30, 2010 10:28 am

    bentuk rambut dan lokasi tempat cukur (pasar sentral) sama2 tinggal kenangan

  9. September 14, 2010 10:06 am

    Cukkuru kaddaro…he he

  10. Rus Anwar Minhadje Segeri permalink
    October 1, 2010 2:19 pm

    Jaman dulu memang cukur tradisional di bawah pohon di pinggi jalan dekat lapangan karebosi. itu sudah hebat sambil nonton orang yang latihan bola.

  11. SMEKSA BHRATA permalink
    September 3, 2011 3:58 am

    ass…
    baru baca tulisan ini .. mungkin kita bernasib sama namun berbeda … sama karena dari kecil sampe SMP harus dicukur model seperti itu (read :semua anak laki2 dirumah) .. beda karena ayahku bukan tentara … lebih menyesakkan lagi karena ada unsur paksaan didalamnya .. yang menyebabkan kita mendapatkan malu luar biasa didepan teman lainnya .. padahal dulu aku hanya meminta mencukurnya jangan terlalu tipis … tapi dengan aku bicara seperti itu malah membabi buta , rambutku dibantai habis nyaris botak tapi tetap disisakan .. padahal terkadang potongannya tidak rapi dibagian belakang .. banyak yang mengataiku bahwa rambuku seprti habis digerogoti tikus …

    hal ini menyisakan Trauma yang mendalam sampai aku dewasa seperti sekarang (tidak bisa dijelaskan trauma seperti apa karena terlalu privacy).
    just advice : jangan melakukan segala sesuatu karena kesenangan pribadi dan ego sendiri dan memaksakannya kepada orang lain kendatipun anak kita ….

    tapi so farr … dengan tulisan yang bapak buat ini memberikan sedikit hiburan kepada saya. ..

    Tq.

  12. February 21, 2013 3:52 am

    hahahaha… Makkala’ puara’ka baca kisahta’ daeng.. Bisa jadi novel ini.. Mantapp..

  13. butoeja permalink
    February 23, 2016 5:17 am

    Lucu bro. Ngakak habis bacanya. Dulu juga saya sering cukur perwira alias cukur kuas. Haha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: