Skip to content

Kerbau Putih dan Perempuan yang Membasuh Tubuh di Hari Subuh

November 1, 2009

kerbau putih

Putri Kusta

Maka fajar yang dini dan lemah menciptakan bayangan serupa tinta hitam yang meruah di jalan setapak yang membelah hutan. Inilah hutan terindah yang bisa engkau bayangkan. Jalan setapak seumpama raga ular yang berkelok-kelok dipagari bentang pepohonan yang menjulang. Pepohon itu, adakah mereka lebih tua dari masa? Hitam pada batang-batang yang tegak lurus menuju langit adalah sebenar-benarnya hitam. Tapi hijau paku dan liana yang membeliti pepohonan itu, juga adalah hijau yang paling hijau. Hitam yang kelam dan hijau yang menyegarkan. Kesepian dan kehidupan bersenyawa dalam ruang yang sama.

Ada bercak bunga-bunga putih merah yang mengintip di antaranya. Anggrek, anggrek yang teduh seperti noda yang indah di hamparan hijau dan kelam, mencengkeram tepi-tepi pepohonan, merangkak di dasar hutan pada bonggol-bonggol kayu yang mengejang sekarat. Di puncak pepohonan hampir tak ada warna langit yang mengintip. Sebab dedaunan telah ciptakan tabir, tangan-tangan raksasa yang menudungi mata dari matahari meski di siang hari. Jika kau mendongak maka yang terlihat hanyalah berkas-berkas sinar lembut, dan atap hutan seperti ditembusi tabung-tabung cahaya berwarna jingga.

Hutan selalu menjelma lukisan pada subuh seperti ini. Begitu banyak hari subuh yang menjelma lukisan telah lewat. Seratus, selaksa, tak terbilang. Tapi lukisan yang senja ini tak pernah lengkap tanpa dia, perempuanku, yang berjalan pelan menyusuri setapak yang berkelok.

Di setapak itu pada setiap ujung malam yang cair dan melarut kudapati ia. Perempuan yang melangkah perlahan seperti cermat menghitung langkah. Satu, dua, satu, dua…. Dengan wajah tertunduk kurasa ia mengamati kaki yang meluncur dari kain yang berdesir tersibak. Setiap langkah yang menjejak tanah selalu kubayangkan sekuncup bunga bakung tumbuh mekar, dan setapak yang kelam akan berhias putih bakung bersinambung. Tidakkah itu indah? Perempuan itu menghiasi setiap langkah dengan bunga di tanah setapak itu.

Engkau ingin tahu siapa perempuan indah yang menghiasi hutan setiap hari terang tanah? Dialah perempuanku, perempuan indah bertrah sempurna, penghuni rumah panggung bertiang empat belas beratap tingkap susun tujuh. Perempuan bangsawan dari segala bangsawan, mendiami rumah panggung di tepi hutan yang perawan.

Ya, di tepi hutan. Sebab meski berdarah murni bangsawan, ia menyimpan penyakit yang menakutkan. Penyakit yang membuat kulitmu bagai papir basah yang mengelupas rusak, Dan semurni apapun darah bangsawanmu, semulia apa pun derajatmu,  tak bisa menghadang dengus jijik dan ketakutan setiap orang, meski mereka sanak keluargamu. Tak bisa mengekang kekhawatiran, suatu saat penyakit itu akan berpindah ke diri mereka, ke diri orang banyak, dan semua orang akan  kehilangan keelokan sebagai manusia. Siapapun engkau, tentulah takut akan kulit wajah dan tubuh yang mengerut buruk dan naas. Nasib, nasib yang celaka tak terperi.

Aku menanggung nasib celaka yang lebih hina. Aku, lelaki  jelata dengan kusta yang nista. Terasing dalam hutan perawan, berumah di atas pohon, sebab aku pantang bersua manusia, sebab aku telah tercatat mati. Itu sumpahku pada mereka yang mengasingkan aku. Tak boleh ada perjumpaan dengan manusia, karena akulah kutukan yang buruk. Naaslah mereka yang berjumpa denganku. Naaslah pula bagiku, sebab itu berarti riwayatku harus berakhir. Lekas menghampir kutuk dewata terhadap orang yang melanggar ikrar pengasingan di depan para tetua adat. Seolah kutuk kusta bukan dari dewata, seolah aku bersalah mengundang setiap borok dan luka di sekujur tubuh!

Pada suatu titik kuanggap hidupku sebagai manusia terkutuk memang telah berakhir.

Sampai aku melihat perempuanku.

Ia perempuan bangsawan, berdiam dalam cengkraman kutuk yang sama. Tapi o, ia adalah perempuan mulia. Ia tak harus tersekap di kedalaman hutan, melainkan berumah di tepi hutan. Ia tak perlu repot memikirkan keperluan, sebab seorang utusan dari kotaraja akan mengantarkan segala yang ia butuhkan sekali sepekan.

* * *

Ialah sang perempuan yang memberiku hidup. Yang menghapus petanda-petanda buruk. Hutan perawan kini kuanggap rumah, dan ialah maharani tuan rumah dari segala yang hijau dan berbunga di hutan ini. Saat kutahu ia akan tinggal di sini, segera kuciptakan setapak ke arah sungai, sebab aku yakin ia akan mencari sungai untuk membersihkan diri.

Ia perempuanku. Pelukis setiap hari yang-beranjak mulai di hutan yang perawan ini. Di setiap subuh dengan cahaya yang menggeremang kulihat perempuanku melangkah. Engkau ingin tahu kenapa ia melangkah saat hari belumlah terang? Aku tahu jawabannya. Kuberi tahu engkau: ia tak mau ada manusia yang memergokinya, lalu mengenalinya sebagai putri bangsawan dengan kusta yang menggerayang….

(Tapi di hutan ini, tak ada manusia selain aku. Hanya ada jin, peri dan lelembut, mambang  dan jembalang bengis. Kesemuanya tunduk pada perintahku)

Ke sungai berair jernih tujuannya. Lalu ia akan meletakkan tumpukan kain salinan di atas bebatu, mencelupkan kaki pada jernih air, bergidik kedinginan, lalu tersenyum-senyum sendiri. O, adakah yang lebih indah selain perempuanku yang tersenyum di tepi sungai jernih dengan gemericik air berderai-derai, saat dini hari menggeliat bangkit?

Lalu ia akan membuka baju, bertelanjang, sebelum pelan-pelan melangkah masuk ke dalam air. Pelan-pelan, sebab kurasa ia tak ingin mengejutkan diri dengan dingin air sungai yang menggigilkan saat hari masih menjelang terang tanah. Tapi oi, seru sekalian alam bersamaku memuji karunia terindah yang bisa aku dapatkan: tubuh perempuan yang polos di tepi sungai dalam keremangan hutan yang senyap. Di balik kusta yang celaka itu aku bisa melihat dirinya yang sejati berkilau-kilau. Kusta itu hanya tabir tak kasat mata, perempuanku. Aku bisa melihat dirimu dalam rupa seindah-indahnya.

Ya ya. Lalu ia akan berendam, dengan kepala bersandar pada batu, dan mata yang terpejam-pejam. Lalu saat-saat yang kurasakan sebagai keberuntungan, akan ada senandung pelan saat ia membersihkan diri.

Kadang-kadang kulihat ia tertegun-tegun, menyusuri setiap lesi kusta di sekujur tubuh. Adapula kala dia menangis, dan aku hanya bisa terpaku di balik gelap belukar. Isak yang lirih, sedu sedan samar. O perempuanku, tahukah engkau kusta kita memang celaka, tapi kau tetaplah perempuan yang indah, manikam segala keindahan…

Ia akan membasuh tubuh sampai hari yang subuh menjelang usai. Sesudahnya ia bangkit dari sungai, dan cahaya matahari yang menguat membuat tubuhnya yang bugil berkilat-kilat. O o segala keindahan dunia, segala perhiasan alam, cemburulah engkau pada perempuanku….

Lalu ia mengenakan pakaian, tanpa terburu, tak sadar ada sepasang mata yang menikmati jenak demi jenak, saat demi saat. Saat usai berpakaian, kegelapan di hutan ini telah nyaris singkap penuh, dan ia akan berjalan pulang, dan dalam pandanganku berangkai bunga bakung timbul bermekaran dari tiap jejak langkahnya….

Kerbau Putih

Aku mengenali setiap jengkal hutan seperti aku mengenali tubuhku sendiri. Kerbau putih bukan penghuni hutan ini.  Ia yang yang tiba-tiba datang membuatku bertanya-tanya: gerangan siapa yang melepas ternak di tepi hutan ini?

Ini bukan sembarang hutan. Inilah hutan terangker, kerajaan segala jin, negeri para mambang dan jembalang, tempat siluman dan peri buas beranak pinak. Itu pula yang membuat mereka mengasingkanku di sini, berharap oleh angker hutan ini, kutuk akan mati bersamaku. Tak mungkin seorang gembala melepas kerbau di tempat seperti ini.

Tapi kerbau putih itu tampaknya bukan sembarang kerbau. Kerbau putih seputih kapas, dan dalam gelap penghujung malam ia seperti berpendar. Ada alur bersinar keemasan pada tanduknya yang lengkung dan cuat.

Kerbau itu duduk melingkar, di bawah pohon paling besar, dekat sungai, tepat di akhir setapak, dekat sungai. Ia tak menyingkir saat aku mencoba mengusirnya.

Shuh, Menjauh! Perempuanku sebentar lagi akan lewat, jangan buat ia terperanjat!

Shuh, Menjauh!  Ini jalan tempat ia melintas, jangan merintang bangunlah lekas!

Shuh, Menjauh! lihat, lihat! Subuh datang menghampir! Engkau tak juga minggir!

Tak juga ia beranjak. Malah menatapku dengan sorot aneh, seolah aku lancang menyuruhnya pergi.

Shuh, Mejauh! Jangan buat aku murka!  Ini rimba tempatku berkuasa, di sini aku raja tanpa singgasana, menyingkir jika kau masih sayang nyawa!

Si kerbau menatap malas, lalu pelan mengibaskan ekor. Tak peduli pada kemarahanku. Sementara penghujung malam mendekati habis. Fajar akan datang menghampir. Dan terlambat! Subuh telah datang. Dari setapak, terdengar desir langkah. Perempuanku telah datang, dan si kerbau busuk masih saja duduk menghadang.

Perempuanku kini benar-benar datang (dalam pandanganku jejak langkahnya masih saja menumbuhkan gerumbul bunga bakung). Sejenak ia memicingkan mata, hendak mengenali mahluk apa yang mendekam di bawah pohon tepat di akhir setapak. Pelan-pelan ia bersijingkat mendekat. Sementara si kerbau menatap acuh tak acuh. Aku menyiapkan busur dan panah, bersiap menghabisi kerbau jika ia menyerang perempuanku.

Tapi si kerbau tetap duduk bergeming, hanya sesekali mengibaskan ekor, tak hirau pada perempuanku yang mendekat mengendap-endap. Aku terus berjaga dengan busur dan panah. Kerbau putih keras kepala itu jangan sampai menyakiti perempuanku.

Sampai perempuanku tersenyum, seolah maklum bahwa mahluk dihadapannya hanya seekor binatang peliharaan. Aku melihat tangannya terjulur mengelus kepala kerbau putih, dan si kerbau hanya meneleng, membiarkan tangan perempuan menjamah dan mengusap tanduknya. Dalam temaram, kulihat mata kerbau itu terkatup. Bagai meresapi dan menyesapi setiap belaian….

Gendewa di tanganku mengendur. Sungguh, betapa aku ingin menggantikan kerbau putih itu!.

Perempuanku berlanjut ke sungai, meneruskan langkah. Lalu pemandangan terindah kembali menghampar, perempuanku kini berendam, bersandar di batu dengan mata-mata terpejam-pejam.

Lalu kudengar dengus napas. Si kerbau putih, beranjak pelan-pelan, melangkah, mendekati sungai. Mau apa dia?

Perempuanku, masih bersenandung pelan, tak sadar kerbau putih telah mendekat, menatap ia yang masih pejam dengan tubuh terbenam riak air.

Aku tak tahu apa yang bakal terjadi. Maka busur kembali kurentangkan, gendewa menegang dan kencang, siap menadah segala kemungkinan. Sementara dadaku berdebur keras. Aku tahu, meski sesuatu terjadi, aku tetap tak boleh menampakkan diri, sebab kutuk dari langit akan melesat turun memutus nyawaku.

Tapi apa yang akan dilakukan oleh si kerbau putih?

Perempuanku membuka mata. Jika ia menjerit maka anak panah akan meluncur, dan kerbau putih akan terguling dengan leher tertembus panah. Anak panah yang akan menghabisi nyawa si kerbau sekaligus membuka keberadaanku.

Tapi tidak, tak ada jeritan. Perempuanku tersenyum, mengulurkan tangan, mengusap moncong si kerbau. Si kerbau bagai terjinakkan, membiarkan moncongnya terjamah. Lalu melangkah kian mendekat hingga keempat kakinya menyentuh air. Kerbau putih turut turun ke sungai.

Dengan gendewa tegang terentang, aku menunggu kerbau bertindak keliru. Aku hanya butuh satu alasan untuk melepaskan anak panah yang terbidik.

Sekonyong-konyong si kerbau mendekatkan kepala, kian dekat, menjilat wajah perempuanku. Anak panah kini hanya tertahan oleh jepit jariku.  Si perempuanku, bangsawan terhormat dan mulia, hanya tertawa kecil, terjilat oleh lidah kerbau putih.

Kerbau putih terus menjilat, dan perempuanku hanya tertawa-tawa kecil, seperti geli, seperti menikmati…

Busur masih bersiaga, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Kerbau yang menjilati wajah perempuanku, haruskah ia kumusnahkan?

O o, tak cuma wajah. Kini jilatan berpindah ke leher. Perempuanku menggelinjang, dan wahai, mengapa ada desah tertahan yang terhela? Mengapa ada mata yang terpejam-pejam? Perempuanku kini setengah duduk bersandar pada batu, dan kerbau putih masih terus menjilati. Lalu erang samar dan lirih perempuanku, membekukan segenap daya,  membuat tanganku tak mampu lagi merentang gendewa.

Ada apa ini? Perselingkuhan hewan dan manusia? Lihat, lihat gelinjang itu! Perempuanku menggelinjang, kini malah setengah bangkit, agar lidah si kerbau leluasa menjelajah, kini ke dada yang telanjang, berlama-lama di sana, ke perut, ke punggung, kaki… inikah persetubuhan ganjil yang terkutuk oleh dewata? Libat birahi  dua mahluk…. tak semestinya! Tak sewajarnya!

O o, demi segala mambang penghuni hutan ini! Segala kemarahan surut beriring daya. Gendewa mengendur. Busur tak lagi terentang mengancam. Di sana di tepi sungai seekor kerbau putih tengah menjilati perempuanku, perempuan bangsawan, yang kini mendesah-desah sepenuh geliat….

Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kuputuskan untuk menyingkir dari tempat itu, menyingkir dari pemandangan nista seorang perempuan kusta, bangsawan dan terhormat, telanjang dan terengah-engah penuh birahi, terjilat habis oleh seekor kerbau putih.

* * *

Perempuan itu, kini ia telah pergi.

Dan waktu berlepasan dari simpul, memanjang dan melebar, hanya bertanda dari petang ke petang. Setelah pertemuan dengan kerbau putih itu, tak kudapati lagi jejak perempuan bangsawan. Setiap subuh berlalu meninggalkan rasa ngilu, tanpa desir langkah di setapak sepanjang hutan. Tak ada lagi lukisan hutan yang indah, telah punah bebayang bunga bakung yang bermekaran, benam sudah puncak keindahan di tepi sungai. Senandung pelan,  sedu samar dan isak lirih silam dan bungkam. Perempuan itu bukan lagi perempuanku,  kini telah pergi…

Rumah di tepi hutan kini tak berpenghuni, diraja dan dilingkup gelap di malam hari, sebab tak lagi ada nyala pelita yang menyuluh. Sang perempuan telah pergi dan rumah itu dirubuhkan, dan kabar  kudengar dari percakapan para utusan kota raja yang merubuhkan rumah. Perempuan bangsawan pemilik rumah, bangsawan, mulia lagi terhormat, kini terbebas dari kutuk kusta dan dipersunting lelaki dari istana!

Sebab aku hanyalah lelaki jelata dengan kutuk,  sebab aku selibat dengan hutan tanpa manusia, maka aku tak mau terlampau kecewa. Peristiwa kerbau putih pula mencelikkan aku tentang perempuan, yang bertrah sempurna, yang bangsawan dan terhormat, yang takluk pada birahi seekor kerbau putih. Meski kadangkala saat angin berhembus, dan gerisik dedaun perdu menimbulkan suara seumpama desir langkah di hari subuh, aku kembali teringat padanya. Lalu aku akan ke sungai, mencoba menghidupkan ingatan tentang seorang perempuan yang membasuh tubuh di hari subuh…

Angin yang sama pula yang menghembuskan tajam aroma bangkai.  Di sana, nun di bawah pohon besar di akhir setapak yang tak lagi indah, kerbau putih tergeletak, dengan mata beliak dan leher koyak. Letik belatung yang mulai bermunculan dari jasad yang lama membusuk, bukti dendamku yang tunai. Sebab aku lelaki yang kehilangan perempuan, telah kubantai kerbau putih yang merampas perempuanku.

Amsterdam, Oktober 2005

Catatan

* Dari legenda Arung Masalauli’e (Putri Bangsawan Berpenyakit Kulit) dari tanah Bugis. Alkisah seorang putri bangsawan berpenyakit kulit hidup dalam pengasingan. Putri bangsawan ini kemudian sembuh oleh jilatan tedong puleng (kerbau albino). Di akhir cerita (laiknya kisah Cinderellaistik), si  putri bertemu dengan  pangeran dan ‘hidup bahagia selamanya’.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: