Skip to content

Sebab Ibunya Melarangnya Menangis

October 29, 2009

man_cries

Si anak lelaki, kuat dan perkasa, terlahir dari karang. Seperti ini kejadiannya: bebatu yang mengarang, retak yang retas lalu mengelupas, dan hopla, lahirlah si anak lelaki. Sementara si anak perempuan, putih dan lembut, muncul dari buih laut yang mengambang dan terayun di pesisir.
–Dongeng seorang ibu kepada anaknya

Ia tak pernah menangis. Dari sekian banyak larangan ibunya, perintah untuk tak sekalipun menitikkan air mata-lah yang paling membekas di ingatannya, seperti luka yang meninggalkan jaringan parut di dalam benak. Ia mengagumi ibunya. Perempuan tangguh tanpa air mata dengan berhelai-helai uban di puncak kepala, dengan bibir tipis bagai garis –entah mengapa bibir ibunya teramat sukar melengkungkan senyum-. Dahulu, saat uban-uban itu tak ada dan bibir ibu masih merah oleh pewarna, ia sering memandang ibunya dengan tatapan penuh kekaguman. Ibu, dengan sepatu hitam bertumit yang berdetak-detak, muncul di ambang pintu, seolah dimuntahkan oleh sedan hitam berkilat, selalu datang tepat di pukul lima sore, menanyakan ini itu pada bibi pengasuh, lalu kemudian mengangkatnya dari buaian, atau kereta, bergantung di mana ia berada saat itu.

Samar-samar ia masih mengingat semuanya, saat ibu menimangnya dalam diam. Dalam ingatannya, oleh ibunya ia selalu ditimang di lingkup senyap yang aneh. Selalu? Tidak. Ada waktu dan masa, saat bibi pengasuh tak ada, saat tak ada sesiapa di sekelilingnya, ibunya menggumamkan lagu dengan bibir terkatup. Semacam senandung tanpa kata. Hanya di saat-saat tertentu ibunya bersenandung, saat yang ditandainya kelak sebagai kenangan mewah masa kecil. Pelan dan demikian lirih suara ibunya, sehingga ia harus merapatkan kepala ke dada ibunya, berharap gema dari rongga dada ibunya membuat senandung itu menjelas. Sesekali akan diangkatnya kepala, memandang wajah ibunya. Ibunya bersenandung, tapi matanya menatap kosong seolah memandang jauh, dan tak ada senyum di mata dan bibir ibunya. Kadang ia merasa ibunya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, mahluk yang cantik namun mengerikan.

Malam-malam, saat ia berbaring dengan lengan ibu merapat di selingkar dadanya, ibunya akan mendongeng. Ia hanya mengenal satu dongeng dari ibunya. Dongeng tentang anak lelaki yang lahir dari bebatu karang, dan anak perempuan yang muncul dari buih laut. Dan di ujung dongeng itu, ibunya akan menatap lekat-lekat, dan sihir di wajah ibunya, bibir yang menggaris dan terkatup, mata yang membatu, dalam genangan cahaya lampu kamar, selalu membuatnya terpaku. “Sebab engkau lahir dari karang, jangan pernah engkau menangis. Menjadi tegar seperti karang adalah kesetiaan lelaki, engkau terlahir sebagai lelaki yang tak boleh mengenal air mata. Air mata hanya mengalir ke laut, menjadi teman buih laut yang kelak melahirkan perempuan. Hanya perempuan yang menitikkan air mata. Bukan lelaki. Dan engkau harus menjadi lelaki yang paling karang.”

Betapa ia memuja ibunya, tapi juga gentar teramat sangat. Kata-kata ibunya mengalir bagai serangkai musik monoton dalam kamarnya yang hening. Dan ibunya, perempuan yang ia kasihi, bangkit dari pembaringan, memadamkan lampu, meninggalkan kamar, menutup pintu yang memapas cahaya dari luar. Pada banyak malam setelah ibunya meninggalkan kamar, kerap ia tetap terjaga, dengan mata terbuka. Ia pernah demikian sangat membenci kegelapan. Tapi ibunya mengajarkannya tidur dalam gelap. Sendiri. Sebab kata ibunya, lelaki tak boleh takut pada kegelapan.

* * *

Di hadapan bibi pengasuh, kerap ia memeluk kecemasan yang sangat terhadap ibunya. Bibi pengasuh, dengan wajah sebulat rembulan dan bibir lembut menggelung tebal, adalah inang masa kecilnya. Kepada Bibi ia tak pernah gentar. Kepada Bibi ia pun sayang. Bibi, perempuan yang menyodorkan banyak nasehat tentang ibunya. “Ibumu tetaplah ibumu. Ia menyayangimu. Ia menginginkanmu tumbuh sebagai lelaki yang kuat dan tabah.”

“Ibu melarangku menangis, Bi. Ibu selalu melarangku menangis.”

“Anak yang baik tentu saja tak boleh menangis.”

Saat itu ia telah beranjak remaja, dan sepanjang ingatannya ia memang tak pernah menangis. Tidak saat ia terjatuh dari sepeda dan pelipisnya robek hingga darah bagai membanjir, tidak saat ia berkelahi dan giginya rompal satu, tidak saat sekawanan anak-anak hingar mengolok-oloknya sebagai ‘anak aneh yang tak punya bapak’.

“Bi, saat aku bayi, adakah aku sering menangis?”

“Tentu saja tidak. Engkau adalah anak yang manis, yang patuh dan sabar….”

“Tapi bayi sering menangis, Bi. Tidakkah aneh jika bayi tak menangis?”

Si Bibi menghela napas. Ujarnya, “Bibi ingat, saat pertama engkau pulang dari rumah sakit. Ibumu selalu menggendong kau rapat-rapat, dan kerap mengurung diri di kamar. Sekali pernah Bibi mendapati engkau menangis. Tapi ibumu melarang Bibi untuk mendekat. Saat kau menangis itu, ibumu lantas menggendongmu, dan berbisik; diam, diam, anak lelaki tak boleh menangis. Dan ajaib, engkau langsung terdiam.” Si Bibi tak menceritakan bahwa di akhir kalimat ‘anak lelaki tak boleh menangis’, ada tangis yang menggantung namun tak pernah pecah. Suara si ibu berubah serak dan sendat, meski tetap getas, meyebut serangkai kalimat bagai igau dengan kemarahan yang berpuntal pulun : jangan pernah menangis, engkau harus tumbuh sebagai lelaki kuat. Bukan lelaki pengecut dan cengeng seperti ayahmu. Bukan lelaki yang meninggalkan seorang perempuan lunta yang tengah mengandung karena paksaan keluarga. Jangan menangis, jangan pernah engkau menangis seperti ayahmu yang pengecut. Lelaki yang kalah dan takluk oleh air mata ibunya.

Di hadapan ia yang remaja, si Bibi tersenyum. “Hanya sekali itu kudengar engkau menangis. Sepanjang pengetahuan Bibi, sejak saat itu, tak pernah Bibi dengar engkau menangis.” Ia yang masih remaja tercengang. Dalam pikirannya, jika si Bibi tak berbohong, ia adalah mahluk yang ajaib, yang hanya menangis sekali seumur hidup. Maka ia pun bersumpah untuk tak pernah menangis dalam hidupnya.

* * *

Ia mengasihi ibunya. Menghormati perempuan yang berangkat bekerja dengan rambut tersanggul kencang dan sepatu bertumit yang berdetak-detak. Perempuan yang setiap pukul sembilan pagi tertelan oleh sedan hitam untuk kemudian dimuntahkan kembali di sore hari. Ia mengerti ibunya harus bekerja keras, sebab segala yang terbaik harus tersedia baginya.

“Ibu harus bekerja keras. Ibu ingin kau berhasil, menjadi lelaki tangguh, mandiri dan sukses. Ibu ingin menunjukkan tanpa seorang ayah, Ibu sanggup membuatmu menjadi karang!”

Ayah. Betapa pernah ada masa ia mempertanyakan sengkarut misteri pada sosok bernama ayah. Di langit ingatannya, sosok Ayah bagi awan gemawan, berarak tanpa pernah turun sebagai hujan di senyata teratak. Pernah ia mengira ia dilahirkan begitu saja dari rahim seorang ibu, bagai sosok suci yang tak berbapa, sebelum ia sadar bahwa ia tentu saja harus berayah. Tapi pertanyaan tentang ayah pada ibunya selalu beroleh jawab dengan bibir yang mengatup bungkam atau dua penggal kalimat tajam : Ayahmu lelaki lembek dan pengecut. Ibu tak ingin kau menyebut-nyebutnya….

Ia bersikeras, namun ibunya bersibaja. Segala pertanyaan tentang ayahnya terbentur, rontok dan terabai. Bibi pengasuhnya pun menggeleng saat ditanya. Ia tak pernah tahu, pada kesempatan yang tak terbilang, di belakang punggungnya, ibunya meminta si Bibi mengulang janji : tak akan membeberkan cerita tentang siapa ayahnya. Ujar ibunya pada Bibi yang menunduk patuh : Anakku tak cukup sepadan untuk mengetahui riwayat seorang lelaki cengeng yang hanya bisa menuruti telunjuk ibunya. Lelaki yang tega meninggalkan perempuan dengan janin di perut lantaran paksaan keluarga! Ia tidak pernah tahu jika si Bibi harus  berulang kali bersumpah di hadapan ibunya. Untuk ayahnya yang tak pernah ia temui dan ia pahami, ia mulai mengarang cerita di kepalanya : ayahnya adalah pelaut malam, kelana segala samudera, yang suatu saat bertemu ibunya, si penangguk buih di tepi pantai. Dan ibunya, khilaf oleh ketampanan si pelaut malam, bercinta dengan si pelaut malam, hingga ia terlahir.

Ibunya lantas berkehendak menjadikannya sebagai karang, sebagai pengingat terhadap si pelaut malam yang minggat begitu saja. Karang selalu menggentarkan pelaut ulung mana pun. Dengan ia sebagai karang, si pelaut malam (ia mulai perpikir si pelaut malam sebenarnya adalah sebangsa lanun dan rompak!) tak akan pernah berani menjejak pantai ibunya. Ialah kini karang pelindung ibunya dari segala lanun yang jahat. Ia, anak karang, berayah lanun malam. Ia menyukai kisah rekaannya sendiri tentang ayahnya, menghayatinya sepenuh rasa, lalu memutuskan bahwa ia tak perlu lagi mengurai benang kusut tentang siapa ayahnya.

* * *

Ia telah dewasa kini. Tangguh, mapan, berbahagia dan tengah jatuh cinta. Ia jatuh ke kedalaman cinta yang tak terbayangkan. Ia merana, bergembira, berduka dan tertawa dengan kebahagiaan menjulang, menukik dan melesat. Ia menganyam saat-saat berbahagia dengan kekasihnya. Kekasihnya yang baik dan setia, yang tulus membahagiakannya, mencintainya tanpa syarat. Mereka -ia dan kekasihnya-, bercinta bagai debur ombak, tanpa lelah dan tak putus, mabuk dan kasmaran.

Tapi ia  merahasiakan percintaannya yang gemerlap dari ibunya. Ibunya, kini dengan uban di puncak kepala dan bibir yang tetap tipis dan menggaris, tetaplah menjadi mahluk paling menggentarkan yang pernah ada bagi dirinya. Ibu yang melarangnya menangis, yang menjadikannya terkarang dari yang paling karang, lelaki dari para lelaki. Ia mengasihi ibunya sekaligus gentar padanya, namun kini ia pun mencintai kekasihnya. Dalam dirinya dua mahluk berseteru berebut pengaruh. Ibunya yang membentuknya menjadi karang, dan kekasihnya yang membuatnya menjadi karang yang berbahagia. Pada ibunya ia tak bisa bercerita tentang kekasihnya. Pada kekasihnya ia berbisik penuh galau tentang ibunya, tentang perempuan paling baja yang kini menikmati masa tuanya, tetap tegar dan kuat meski tak lagi mengenakan sepatu hitam bertumit yang berdetak-detak.

“Ibuku kini berbahagia dengan masa tuanya, sebab aku telah menjadi karang,”bisiknya di telinga kekasihnya.

“Engkau memang karang. Tapi karang yang baik akan mempertemukan ibunya dengan kekasihnya.”

“Kau tahu itu tak mungkin…”

“Kenapa tidak?”

“Kau tak tahu ibuku…”

“Aku adalah kekasihmu. Engkau semestinya mempertemukan kami.”

“Entah apakah aku akan sanggup…”

“Ibumu adalah ibumu. Ia tentu saja menyayangimu. Dan ia ingin kau berbahagia.”

“Ibu tak pernah bercerita tentang kebahagiaan. Ibu hanya ingin aku menjadi karang dan tak boleh menangis.”

“Kau tak pernah menangis?”

“Tak pernah. Sepanjang ingatan saya.”

“Juga olehku?”

“Kau bisa membuatku sedih, tapi tak pernah bisa membuatku menangis.”

“Aku ingin menemui ibumu.”

“Kau kini membuatku merasa cemas.”

Ia merasa tak menemukan jalan lain. Baginya si kekasih tak mungkin lagi dipisahkan dari dirinya. Dan ibunya harus ia pertemukan dengan kekasihnya. Ia berharap ibunya akan menerima kekasihnya, dan ia akan menjadi lelaki yang paling berbahagia. Karang yang paling berbahagia.

* * *

Maka suatu saat ia membawa sang kekasih ke hadapan ibunya. Ibunya tak berkata apa-apa saat ia memperkenalkan kekasihnya. Dengan bibir terkatup ibunya menyambut uluran tangan kekasihnya, lalu melangkah masuk kamar, menutup pintu yang menetap tutup hingga hari berakhir.

Ia dicekam kerisauan akan kemarahan ibunya. Kekasihnya telah pulang namun telah berjam-jam ibunya masih mengurung diri dalam kamar, dan ia merasakan sesuatu yang mengeras di ulu hatinya. Ketakutan yang sangat, yang tak pernah dirasakan sekalipun dalam hidupnya.

Ia memutuskan melangkah masuk ke kamar ibunya. Di sudut kamar ia dapati ibunya duduk menghadap lampu kamar.

“Ibu….”

Ia merasa tenggorokannya cekat, suaranya berhenti dalam henyak. Ibunya tak menoleh. Dalam temaram lampu kamar, ibunya mematung dengan mata nanar. Kata-kata ibunya samar namun tiba penuh gemuruh di gendang telinganya.

“Ibu membesarkanmu sebagai karang sejati. Tapi Ibu tak pernah menyuruhmu menjadi karang yang aneh, memilih karang lain, lelaki lain, sebagai kekasih. Aib, aib kataku…..”

Dan inilah yang disaksikannya. Mata ibunya, perempuan baja yang menjadikannya karang, mengaca sebelum berderai basah. Ibunya menangis. Bibirnya yang tipis lengkung dan bergetar. Ia kini melihat ibunya dalam wujud yang tak pernah ada dalam mimpinya sekalipun.

Ia masih tertegun di ambang pintu. Dalam benaknya sekonyong membayang laut yang bergelora, buih yang cecah dan terpelanting, karang-karang cuat dan mengancam. Karang-karang yang terjal tajam, sendiri dan kesepian.

Amstelveen, 2005

3 Comments leave one →
  1. February 20, 2010 3:14 am

    hufff…saya suka cerpen ini, tapi masih sedikit bingung! jadi si anak karang ini homo?

  2. February 20, 2010 6:43 pm

    sepertinya.🙂

  3. Rus Anwar Minhadje Segeri permalink
    October 1, 2010 2:36 pm

    Apa tidak keberatan kalau kisah ini kami muat di media ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: