Skip to content

Asu Panting

October 29, 2009

Black_Wolf_by_SolStock

Ia berumur tujuh tahun saat pertama kali ia mendengar tentang dongeng Asu Panting. Saat itu ia benar-benar takjub dan terpesona. Ia mendengarkan tutur ibunya tentang dongeng hewan yang membawa bala itu dengan mulut setengah terbuka. Ia tengah berada di dapur, duduk di lantai bilah bambu menghadapi sepiring nasi jagung, sayur bayam, sejumput garam dan jelantah. Hari itu, juga banyak hari-hari lainnya,  tak ada lauk yang terbeli. Kerap kali ia merajuk bila tak menemui sekerat ikan di piringnya. Lalu ibunya segera mendongeng. Ibunya harus mendongeng lantaran tak ingin perhatian anak perempuannya tertuju pada piring yang polos oleh lauk. Ia tidak tahu itu.

Maka ia mencamkan kata-kata ibunya:

Berhati-hatilah bila ia datang. Sebab ia membawa mala dan bala, dan wabah yang melela. Ia anjing yang tak berekor, dengan sepasang kaki depan yang seperti tertekuk-sebab itu ia berjalan tungging-, moncong yang terlalu tirus, sepasang kuping tercuat, maka bila kau bersirobok dengannya teringatlah kau pada  kalong. Ia pun tak melolong. Hanya mendesirkan napas kasar seperti sembur kuda kecapaian. Serupa kalong ia bersidekap dengan gelap, tak pernah berani menatap matari. Tapi bila kau melihatnya saat hari terang, awaslah. Telah ia tinggalkan negeri bayangan, maka celakalah bagi kaum manusia di negeri terang. Hitam bulunya menyembunyikan nasib yang buruk bagi kampung yang ia datangi.

Maka orang-orang akan berlarian naik rumah, menggiring anak-anak dan menyembunyikan bayi, menutup segala wadah air dan menyalakan semua pelita yang ada. Sebab ia mahluk gelap yang tak menyenangi cahaya. Segala pintu jendela dan lubang angin mesti kau tutupi rapat-rapat, sebab bala yang ia bawa seumpama mahluk renik yang licik menyelisik. Berjagalah, jangan kau biarkan kantuk menelikung. Sebab tidur akan membuatmu mati menggerung.

Demikianlah, sang ibu berupaya menyusupkan pemahaman bahwa asu panting adalah monster yang membawa tulah. Tapi bocah perempuan yang mendengar seksama dengan sebulir nasi di sudut bibir,  berkhayal dan menganggap asu panting adalah hewan paling ajaib yang pernah didengarnya.

Bertanya si bocah perempuan pada ibunya. “Ibu, di mana kita bisa bertemu dengannya?”

“Tak ada yang bisa bertemu dengannya. Asu panting memilih siapa yang yang hendak ditemuinya. Dan celakalah bagi mereka yang terpilih!”

“Ibu, Apakah ia datang dari hutan di pinggiran kampung?”

“Banyak yang pernah melihatnya merangkak keluar dari hutan, maka janganlah engkau bermain ke sana!”

“Ibu, mengapa asu panting berbeda dengan asu-asu lainnya? Asu Pak Lurah cantik dan kicit seperti boneka, bulunya panjang dan tak pernah membuat orang sakit!”

“Asu binatang hina dina. Asu binatang menjijikkan. Jangan kau teladani Pak Lurah. Jangan kau tiru anak-anaknya. Tak boleh kau menyentuh asu! Ibu ingin kau ingat itu baik-baik. Asu panting adalah maha-asu, asu dari segala asu. Terkutuklah ia dari segala mahluk!”

“Apakah Ibu membenci asu panting sama seperti Ibu membenci Ayah?”

Ibunya mendelik lalu menyuruhnya menghabiskan makan secepatnya. Ia tahu ibunya sangat membenci ayahnya. Ia sering mendengar ibunya mengumpat ayahnya dengan sebutan lelaki asu terutama saat-saat mereka tak punya beras untuk ditanak. Mungkin ayahnya memang mirip asu. Ia tidak pernah melihat ayahnya. Kata Ibu, ayahnya yang asu pergi dengan perempuan lain yang juga asu. Mungkin ayah dan perempuannya merangkak masuk hutan seperti asu panting.

Maka ia memelihara dongeng asu panting seperti ia memelihara ayah yang asu dalam kepalanya. Ia tidak punya dongeng lain yang yang bsa dikenangnya sekuat daya seperti ia mengingat dongeng asu panting. Ibunya hanya sesekali mendongeng. Ibunya lebih sering bergumul di sawah-sawah sebagai buruh upahan. Maka dongeng asu panting pun membekas seperti luka bakar derajat tiga. Ia tumbuh dan hidup sembari memeluk dongeng tentang asu panting. Ia bersenyawa dengan dongeng asu panting.  Ia ingin bertemu asu panting. Ia ingin memelihara asu panting. Ia akan bangga luar biasa. Asu panting yang tersohor angker kelewat-kelewat akan jadi peliharannya. Ia akan membopong asu pantingnya seperti anak Pak Lurah membopong anjing cebol berbulu masai.

* * *

Tapi telah enam belas tahun ia sekarang. Ia telah lama tak bersekolah. Hidup kian sulit. Dongeng telah lama tak terdengar. Ibunya, menua dan menghitam,  kini tak punya waktu lagi untuk mendongeng. Berbarengan dengan makin sedikit orang yang memerlukan tenaganya di sawah, kian banyak hari di mana lauk tak terbeli. Lantas ibunya pun mulai punya penyakit. Gampang menampar dan naik pitam. Kata ibunya, kau sudah perawan sekarang, sudah enam belas. Bantulah Ibu memburuh di sawah!

“Aku tak suka bekerja di sawah, Ibu! Sawah membuatku gatal.”

“Lantas apa maumu?”

“Aku ingin melihat asu panting. Di mana aku bisa melihat asu panting, Ibu?”

“Untuk apa bertanya-tanya terus soal asu panting? Asu panting tak ada!”

“Tapi Ibu yang menceritakannya dahulu.”

“Asu panting tak ada lagi. Itu dahulu cuma cerita  orang kampung!”

“Jadi Ibu berbohong?”

“Asu panting tak pernah muncul lagi! Kenapa pula kau demikian tergila-gila dengan asu panting?”

“Aku ingin melihat asu panting, Ibu!”

Lalu bentak ibunya yang menyuruh diam tak membuatnya jeri.

Maka ia bertekad hendak menemukan asu panting. Seorang diri. Ia tak bisa lagi berharap dari cerita ibunya. Kerap saat senja membekap bibir kampung, ia meninggalkan kampung diam-diam, berjalan pelan-pelan dengan jemari yang dipilin-pilin, menyelinap ke dalam hutan di pinggiran kampung. Lalu di antara bayangan pepohonan yang menggelap, ia akan duduk diam-diam, mengabaikan dingin yang menggerumit dan segala serangga yang menggigit, memicingkan mata, berusaha menemukan sosok binatang berkaki empat dengan kuping tinggi tegak. Dipasangnya telinga baik-baik, berniat bisa menangkap dengus serupa sembur kuda dari kegelapan semak belukar.

Tapi nihil.

Pernah ia coba untuk terus masuk, jauh ke dalam hutan, sejauh yang ia bisa, sejauh ia merasa tak akan tersesat dan masih bisa menemukan jalan pulang. Tapi tak ada apa-apa. Sekali dua ia berpapasan dengan cecurut, monyet dan biawak yang melata, tapi tak pernah sekalipun ia menangkap bayangan serupa asu yang berjalan tungging.

Ia pulang dengan kaki penuh pacet yang lengket.

Ibunya menanti di pintu dengan makian berentet. “Perawan sinting, apa yang kau lakukan di dalam hutan sana. Tidakkah kau punya pekerjaan lain yang lebih berguna? Ibu setengah mati memburuh di sawah  dan kau keluyuran tak tentu arah!”

“Aku mencari asu panting, Ibu!”

Pada saat itu ibunya pun mulai memanggilnya asu.

Sekali ia pernah jatuh tertidur di dalam hutan dan begitu pulang ibunya menamparnya sampai ia terpelanting di depan pintu. Lalu ke dukun desa ia diseret. Di bawah tikaman mata ibunya, ia telan air segelas dari dukun, meski ia tak kehausan. Tapi segelas air bercampur japa mantra tak akan mengusir asu panting dari kepalanya. Ia ludahi si dukun yang mencoba membuatnya melupakan asu panting. Makian ibunya membandang bagai air bah. Si dukun ganti menyemburnya dengan sirih pinang yang lumat oleh ludah. Mukanya jadi bersimbah merah seperti darah.

Tapi  tak ada yang bisa menggentarkan hatinya mencari asu panting. Maka kembali ia melangkah ke bibir hutan. Nyaris setiap hari. Mengendap-endap saat ibunya tak di rumah. Ia yakin suatu saat ia akan menemukan asu panting.

* * *

Lantas suatu ketika sekonyong-konyong ia dapati hutan tak lagi senyap. Puluhan truk berleret seperti ular memasuki hutan. Lalu lalang dan bising. Berpuluh lelaki kasar dan penuh keringat tiba-tiba hilir mudik dan bercakap dalam teriakan menambah hutan kian hiruk pikuk. Lalu sebuah mobil besar kuning dengan penyauk raksasa yang membuatnya terkagum-kagum setengah ketakutan. Belakangan ia tahu kendaraan besar itu bernama traktor. Hutan berubah gaduh dan tak lagi teduh. Kemudian papan besar yang tegak berdiri serta merta membuatnya paham bahwa ia tak bisa lagi memasuki hutan sekehendaknya. Hutan kini dibatasi dengan pagar. Hutan dan isinya kini berpemilik dan menjumpai asu panting akan kian pelik.

Kata ibunya, akan banyak rumah yang dibangun di pinggir hutan. Ibunya berseri-seri ketika mengabarkan itu. Akan banyak orang dari kota berdatangan, dan kita bisa berjualan, kata ibunya. Buruh-buruh bangunan itu-yang belakangan diketahuinya adalah lelaki kasar dan berkeringat yang selalu bercakap dalam teriakan- tentu butuh banyak hal. Entah kopi atau penganan. Dengan sedikit modal, kita bisa membuka warung, harap ibunya.

Ia marah dan mencela-cela. Tidak pada mimpi dan cita-cita ibunya. Tapi pada jarak yang mulai terbentang antara ia dan asu panting. Bertambah lagi perintang antara ia dan asu panting. Orang-orang itu pastilah tak mengijinkannya memasuki hutan.

Tetapi ia tetap saja datang ke pinggiran hutan yang kini berubah jadi lahan proyek. Seharian ia duduk dalam jarak yang dirasanya aman, mengamati kesibukan buruh-buruh lelaki yang sibuk bekerja membuka hutan. Ia melihat para buruh bangunan itu meruntuhkan pepohonan, membabat belukar, melubangi tanah. Gemuruh di mana-mana, hutan cabik lalu luka.  Ia terus duduk di situ dengan mata mencari-cari. Hutan mulai singkap. Tapi di mana asu panting berada tak juga terungkap. Ia bertahan. Gelap hutan yang sirna, akan memaksa asu panting keluar dari persembunyiannya. Ia yakin itu, maka ia setia mengamati hutan yang mulai tercerabut dari kejauhan setiap hari. Betapa ia ingin mendekat, mungkin di antara pepohonan yang tumbang, ia dapati kelebatan sosok asu panting. Terlalu sulit bila hanya mengamati dari kejauhan. Ia ingin melongok ke dalam lubang-lubang, mungkin asu panting ada di antara lubang-lubang itu. Tapi ia takut pada buruh-buruh bangunan dan gemuruh mesin.

Sampai suatu ketika buruh-buruh bangunan  mulai memperhatikannya, lantas mulai berbisik-bisik satu sama lain, bergurau-gurau, lalu mulai tersenyum-senyum dan bersiul-siul kepadanya. Mereka kelihatannya tak akan marah bia ia melihat lebih dekat. Lalu suatu ketika salah seorang dari mereka melambai, ia serta merta berdiri. Mereka memintanya ke sana, tentu ia akan bisa lebih jelas memeriksa hutan yang tertabas.

Maka ia  mendekat.

Menjelang malam ia melangkah pulang. Asu panting belum ia temukan, tapi ia tak lagi mengayun langkah dengan benar.

Besoknya ia melangkah kembali ke tepi hutan yang kini bingar oleh proyek. Ia berjalan pelan-pelan sembari memilin-milin jemari, menoleh-noleh gugup ke sekeliling. Ia menatap ke depan ke arah pinggir hutan yang berubah proyek. Ia melihat di mana-mana lubang-lubang di tanah tiba-tiba bertambah nganga, menghitam, lalu dari lubang-lubang hitam itu melesat keluar binatang yang telah lama ia cari. Tak hanya satu, tapi dua, tiga, empat asu panting. Sekawanan asu hitam dengan muka serupa kalong yang berjalan tungging berloncatan keluar dari lelubang. Ia melihat puluhan asu panting berkeliaran dan mengendus-endus di lahan proyek. Ia terus berjalan bagai tersihir. Ia terus melangkah, mendekati tiang-tiang pancang dan gugusan gundukan pasir, mendengar bising traktor yang kian mendekat, mendengar degup jantungnya yang seperti hendak meledak, riuh besi berdentang-dentang, dan gemalau sekawanan asu panting beriuh rendah saling menyembur serupa kuda satu sama lain.

Makassar, Februari 2005.

2 Comments leave one →
  1. Rus Anwar Minhadje Segeri permalink
    October 1, 2010 2:34 pm

    Gimana kalau menyumbang tulisan dari tanah bugis. Rus – Jayapura Papua

  2. February 18, 2012 3:36 pm

    Makessing oki’ta sappo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: