Skip to content

Undangan Pesta

February 8, 2008

party.jpg

Hari ini saya mendapat undangan pesta. Dua sekaligus. Pertama dari rekan sejawat. Orang Vietnam. Namanya Hang. Karena saya seharian tak berminat mengangkat telepon, undangannya terdampar di voicemail saya. Saya cermat mendengarkan. Ia berulang tahun dan ingin mengadakan pesta. Haruskah saya datang?

Tapi saya merasa tak ingin datang. Dari dulu saya tak pernah suka pesta. Bising. Dan karena ia bernama PESTA maka semua harus riang gembira, semua harus bersenang-senang. Saya tak suka dengan keharusan riang gembira dan bersenang-senang. Terlebih lagi saya tak suka keramaian, bertemu dengan banyak orang yang sebagian besar tak saya kenali, keharusan untuk menyapa banyak orang. Kalaupun saya mau datang ke pesta, saya ingin punya kebebasan. Tak harus memasang wajah ceria dan senyum seterang-benderang mungkin, tak perlu menyapa orang, tak perlu berbaur, tak perlu ruwet memikirkan bingkisan (kalau saya harus membawa bingkisan). Kalau perlu saya cuma mau datang, duduk di pojok, mengamati pengunjung, sembari menghitung-hitung berapa banyak senyum palsu dan basa-basi yang benar-benar basi diobral di dalam pesta. Saya tak suka dengan segala seringai (pura-pura) gembira dan ucapan tak tulus seperti itu.

Tapi konvensi pesta tidak mesti tidak memang seperti itu. Menolak konvensi tapi tetap hadir? Salah-salah saya yang dicap aneh dan kuper. Mungkin benar. Tapi saya tidak membutuhkan cap-capan. Sudah terlalu banyak. Kalau saya kuper dan asosial, jadi kenapa?

Jadi sepertinya saya tak mau dan tak perlu datang. Tanpa saya pesta pasti masih bisa berlangsung.

Undangan kedua datang dari teman2 sekolah. Pesta bertema. Temanya di kedalaman laut yang biru (ini setelah diindonesiakan). Pengunjung diwajibkan mengenakan kostum. Yang menarik tentu saja. seumur-umur saya tak pernah diundang ke pesta kostum. Jadi sepanjang pagi ini saya bepikir-pikir tentang kostum. Googling sana-sini, mencari toko kostum di Amsterdam. Karena temanya laut saya pikir idenya tak beranjak dari putri duyung, segala macam ikan dan mahluk laut, atau bajak laut (kendati tak begitu cocok, sebab mereka hidup di permukaan laut dan bukan di kedalaman laut). Sempat terpikir untuk membuat kostum Deni Manusia Ikan. Tapi saya tahu tentunya para teman saya yang 90% belanda totok tak mengerti. Pula saya tak mau masuk angin.

Atau menjadi Neptunus alias Poseidon saja? Tapi repot. Kostum tak ada, aksesori apa lagi. Poseidon mesti bermahkota, bertrisula, dan berjanggut tebal.

Lagipula saya jengah dengan ide Poseidon ini. Kenapa harus tokoh dari (mitologi) Eropa? Kenapa tak mencari tokoh khas Indonesia?

Dari Indonesia? Nyatanya saya tak bisa menemukan apa-apa di ingatan saya. Satu-satunya tokoh Indonesia terkait dengan dasar laut yang bisa saya ingat adalah Nyi Roro Kidul. Tapi saya tak mungkin datang dengan kostum kemben dan selendang (sebab ini pesta kostum di kampus dan bukan di bar homo atau di gay parade).

Masih juga bingung. Atau barangkali jadi penyelam saja, pikir saya gampang. Sisa sewa diving suit, beres. Tapi rasanya tak kreatif dan terlalu ‘biasa’. Jadi untuk sementara saya melamun sembari mikir-mikir hendak menjadi apa di pesta kostum nanti. Masih tanggal 8. Pesta tanggal 21. Jadi saya masih punya banyak waktu.

Ralf baru saja menelepon. Dan sewaktu saya beritahu tentang pesta kostum ini dan kebingungan saya hendak menjadi apa, ia bilang: bagaimana kalau jadi ubur-ubur saja?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: