<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>EssoWenni</title>
	<atom:link href="http://essowenni.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://essowenni.wordpress.com</link>
	<description>jendela, pintu atau mungkin semata lubang kunci</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Dec 2011 16:04:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='essowenni.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>EssoWenni</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://essowenni.wordpress.com/osd.xml" title="EssoWenni" />
	<atom:link rel='hub' href='http://essowenni.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>NANDONG</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2010/11/23/152/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2010/11/23/152/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 17:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[AKU  ingin bercerita tentang seseorang dari masa kecilku. Seseorang yang membuatku beroleh paham tentang kesetiaan, kekejaman, nasib yang buruk dan kebahagiaan yang berkuasa atas manusia. Aku ingin bercerita tentang Nandong, perempuan dari masa kecilku. Kata Ibu, janganlah  menggoda Nandong, sebab ia orang tua yang harus dihormati, meski ia berjalan doyong  seolah hendak rebah ke belakang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=152&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/11/surga-ibu-tua.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-157" style="margin:15px;" title="surga ibu tua" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/11/surga-ibu-tua.jpg?w=243&#038;h=217" alt="" width="243" height="217" /></a></p>
<p>AKU  ingin bercerita tentang seseorang dari masa kecilku. Seseorang yang membuatku beroleh paham tentang kesetiaan, kekejaman, nasib yang buruk dan kebahagiaan yang berkuasa atas manusia. Aku ingin bercerita tentang Nandong, perempuan dari masa kecilku.</p>
<p>Kata Ibu, janganlah  menggoda Nandong, sebab ia orang tua yang harus dihormati, meski ia berjalan doyong  seolah hendak rebah ke belakang oleh pinggul yang membusung, meski ia juling dan dari gelung rambutnya  meruap tengik tajam minyak kelapa yang tercium bahkan  dari jarak lima langkah.</p>
<p>Ibu selalu mengulang nasihatnya, setiap kali  melihatku mengintip dari jendela, dengan hidung menempel pada kaca, menyaksikan Nandong di kebun kelapa seberang berjibaku menyeret pelepah nyiur kering. Sedemikian dekat jarak jendela dan kebun seberang, sehingga aku bisa menyaksikan jengit wajah Nandong dan bibirnya yang terkatup menghimpun tenaga sekuatnya. Dari kebun seberang Nandong tak bisa melihat kami, sebab kaca jendela rayban membuat pandang hanya jernih searah.</p>
<p><span id="more-152"></span></p>
<p>&#8220;Tapi Ibu, kata teman-teman Nandong parakang1• Nandong berkeliaran di tengah malam dalam rupa kucing atau belut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nene&#8217;2 Nandong. Jangan memanggil ia dengan Nandong saja. Belajarlah untuk menghormati orang yang lebih tua.&#8221;</p>
<p>Aku tak pernah mau memanggilnya Nene&#8217; Nandong. Dan aku yakin Nandong <em>parakang</em>, seperti yang dikatakan kawan-kawanku. Maka kataku, &#8220;ia siluman dan punya ilmu sihir yang jahat!&#8221;</p>
<p>Ibu berdecak-decak. &#8220;Jangan kau hiraukan teman-temanmu itu. Mereka tidak tahu Nene&#8217; Nandong. Nene&#8217; Nandong miskin papa. Kita mesti mengasihaninya. Besok kau ke rumah Nene&#8217; Nandong, bawa sedekah bulanan kita. Bulan ini tak perlu kita menyumbang ke masjid. Cukup Nandong yang kita santuni.&#8221;</p>
<p>Aku selalu berdebar bila Ibu menyuruhku ke rumah Nandong. Rumah panggung sempit nyaris tanpa bilik, terselip di tengah kebun singkong. Di hadapannya, menjalur kali kecil dengan bebatu hitam yang senantiasa kerontang di musim kemarau, bertitian dua batang pohon kelapa bersijajar,  dengan bebatang bambu sambung menyambung sebagai pegangan. Kali yang memisahkan rumah Nandong dan jalan kampung. Harus ada yang pemisah antara yang jahat dan yang baik, selalu demikian pikirku.</p>
<p>Tak ada rumah lain di sekitarnya. Hanya rumah Nandong: renta, limbung bahkan nyaris rubuh, pengap oleh tingkap dan pintu yang senantiasa tertutup. Bila malam tiba rumah itu kerap gulita tanpa pelita. Persis seperti rumah nenek sihir di buku-buku cerita. Dan ada sesuatu dalam rumah itu yang membuatku gentar dan bergidik.</p>
<p>Kata kawan-kawanku, <em>parakang </em>lebih jahat dari nenek sihir. Sebab <em>parakang </em>selalu menyerang dari belakang. Kau tak tahu kapan <em>parakang </em>menyerang, tahu-tahu kau telah jatuh sakit lalu meregang nyawa.</p>
<p>&#8220;Ibuku memberitahu, saat kau tertidur atau saat kau buang air,&#8221; Sardi, kawanku, memandangku dengan sorot mata teguh dan yakin, &#8220;saat itulah <em>parakang </em>datang menyerangmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menyedot ususmu, mengunyah isi perutmu,&#8221; sahut Basir, kawanku yang lain.</p>
<p>&#8220;Kalau <em>parakang </em>jahat, kenapa orang hendak menjadi <em>parak</em><em>ang?&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>&#8220;Kalau kau menjelma <em>pa</em><em>rakang, </em>kau akan kaya raya &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Nandong tak kaya raya, malah miskin luar biasa &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Yang menjelma parakang panjang umur dan tak mati-mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; Sardi mengangguk. <em>&#8220;Parakang </em>tak akan mati sampai ada yang mewarisi ilmunya. Kau lihat sendiri bagaimana Nandong yang tua renta tapi masih hidup. Masih sanggup menyeret pelepah nyiur yang utuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nandong akan hidup terus sebab tak ada anak yang mewarisi ilmunya,&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p>&#8220;Nandong sebatang kara,&#8221; kataku.</p>
<p>&#8220;Nandong punya Wak Baco,&#8221; cetus Basir.</p>
<p>Wak Baco, Wak Baco. Ialah alasan kenapa rumah Nandong seolah berhantu dan mengerikan.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>DI RUMAH NANDONG, Wak Baco selalu berdiam di sudut. Duduk mencangkung dengan mulut terkatup miring dan sudut mata kotor oleh trembesi, menatap penuh selidik pada setiap yang datang, ia bergeming dalam diam yang aneh. Ia selalu duduk di pojok, dengan punggung menempel pada papan, kulitnya yang kelam seolah hendak bersenyawa dengan dinding papan yang gelap. Sepanjang ingatanku ia selalu di sana, setiap kali aku datang atas perintah Ibu, membawa beras atau uang santunan. Dalam kunjunganku yang tak sering itu, aku menciptakan pamali untuk diriku sendiri. Jika Nandong tak ada di rumah, segeralah pamit setelah meletakkan beras dan uang santunan, dan jangan terlampau dekat Wak Baco. Aku selalu merasa, ia seumpama ular derik yang diam mematung, namun siap mematuk jika kau lengah.</p>
<p>Syahdan Wak Baco dahulu seorang pejuang, tentara pemerintah, bergerilya untuk memadamkan pemberontakan bersenjata. Konon, Wak Baco dahulu seorang lelaki gagah dengan pistol dan sangkur yang kemilau di pinggang. Sardi banyak tahu tentang Wak Baco, sebab kakek Sardi almarhum adalah kawan seperjuangan Wak Baco. Kakek Sardi gugur dengan leher tertembus pecahan granat. Ibu Sardi-lah, yang banyak bercerita tentang Nandong dan Wak Baco.</p>
<p>&#8220;Cerita ibuku, Wak Baco tak mati dalam perang sebab terlindungi oleh jimat dan sihir Nandong. Ibuku bilang, Seharusnya Wak Baco-lah yang mati menggantikan kakekku, sebab Wak Baco ajudan kakekku, yang seharusnya melindungi kakekku,&#8221; Sardi bercerita dengan sebatang rumput terselip di bibir. Bertiga, Sardi, Basir dan aku duduk di bawah pahon jamblang, sembari menatap ke arah rumah Nandong, terselubung rerimbun daun singkong. Di sudut rumah itu aku bayangkan Wak Baco tengah duduk men cangkung dengan mata menyelidik penuh trembesi.</p>
<p>&#8220;Wak Baco kebal peluru. Dan manakala terpergok musuh, di mata musuhnya Wak Baco akan terlihat sebagai sebatang pohon pisang atau segerumbul semak. Karenanya Wak Baco terus hidup selama perang. Dan kakekku gugur. Kakekku tak punya ilmu sihir dan jimat yang gelap. ltu kata ibuku,&#8221; Sardi berlanjut.</p>
<p>&#8220;Tapi, kata ibuku, meski panjang umur, yang punya ilmu dan jimat tak akan bahagia seumur hidup. Lihatlah Nandong. Miskin, tak beranak, dan berjalan doyong. Wak Baco juga hanya bisa beringsut, tak bisa berjalan, terkurung dalam rumah,&#8221; kata Sardi lagi.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan Wak Baco yang sebenarnya telah meninggal dan jadi hantu,&#8221; celetuk Basir.</p>
<p>Aku membantah, &#8220;tidak, Wak Baco tak meninggal. Aku melihatnya minggu lalu. Ia bisu dan lumpuh.&#8221;</p>
<p>Basir tertawa keras-keras. &#8220;Jangan-jangan yang kau lihat itu hantunya!&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>SEKALI, PERNAH kulihat Wak Baco keluar rumah saat hari tujuh belas agustus. Berjalan dengan kaki setengah diseret, dipapah oleh Nandong yang doyong. Entah mana yang lebih aneh, Wak Baco yang seperti hendak melata, atau Nandong yang condong ke belakang. Kadang-kadang kulihat tubuh mereka bergoyang-goyang, seolah akan ambruk. Kalau sudah begitu, serta merta Nandong akan berhenti melangkah, membetulkan rangkulan Wak Baco di pinggangnya, menarik Wak Baco agar lengket merapat di badannya, sebelum kembali melangkah. Pada orang-orang yang berpapasan dan bertanya, Nandong menjawab: suamiku hendak melihat pawai di jalan besar, jadi biarlah ia kubawa ke ujung jalan kampung agar ia bisa melihat pawai dari kejauhan.</p>
<p>Nandong selalu bekerja keras. Kata Ibu, Nandong <em>harus </em>bekerja keras. Kerap dari jendela  teras belakang kulihat ia hilir mudik, mencari pelepah nyiur kering, pokok kayu dan reranting. Untuk kayu bakar, sebab minyak bagi Nandong mahal dan tak terbeli. Beberapa kali kupergoki ia berupaya menjolok pepaya yang telah ranum di kebun seseorang. Kebun itu milik orang dari kota yang lalu menitipkan mata pada keluarga kami. Saat aku memberitahu Ibu, Ibu malah menyuruhku diam dan berkata, biarlah, toh, buah itu bila jatuh akan membusuk, dan kau tak pemah menginginkan buah yang telah menyentuh tanah. Biarlah pepaya itu menjadi rezekinya. Sungguh, aku tak suka bila Ibu memaafkan pencuri. Ibu tak pemah menenggang pencuri. Ibu pernah mendera tanganku dengan rotan saat aku mengambil manisan di stoples tanpa seizin Ibu.</p>
<p>Kadang-kadang, dari pintu belakang, Nandong datang ke rumah untuk menampi beras, dan sebagai upah ia akan pulang dengan beberapa liter beras terbuntal. Ibu selalu berbaik hati memberi tambahan upah, entah berupa beberapa potong ikan selai, atau sekantong telur, atau uang dalam amplop. Ia akan terbungkuk-bungkuk mengucap terima kasih dan berjanji akan datang lagi di bulan depan. Lalu ia akan lenyap di pintu belakang. Ia selalu datang dan pergi lewat pintu belakang, kilahnya, kakinya yang kotor membuatnya sungkan menjejak ruang tamu.</p>
<p>Nandong juga beroleh upah dari hasil memijat. Konon menurut Ibu, pijatannya enak, lembut namun liat. Menurut Ibu pula, dahulu Nandong juga seorang peraji. T api itu dulu, dulu sekali. Sejak santer kabar Nandong seorang <em>parakang, </em>tak seorang pun yang mau memanggilnya menolong persalinan.</p>
<p>Tentu saja, pikirku. Siapa yang berani memakai jasa seseorang yang kemungkinan besar, setelah pertaruhan nyawa saat persalinan, akan menyantap si ibu, juga si bayi yang baru lahir? Maka telah lama Nandong berpangku tangan pada setiap persalinan perempuan di sekitar kampung ku.</p>
<p>Hanya Ibu yang tetap setia memakai jasanya sebagai tukang pijat. Meski saat ia datang, aku tak pernah mau beranjak dari sisi Ibu. Aku khawatir jika Nandong yang parakang tiba-tiba menerkam dan memangsa Ibu.</p>
<p>Ibu hanya tersenyum saat aku mengutarakan kecemasanku. &#8220;Jangan dengar kawan-kawanmu. Mereka hanya menakut-nakutimu. Nene&#8217; Nandong bukan <em>paraka</em><em>ng. </em>Pernahkah kau lihat lidahnya terjulur dan bercabang dua? Pernahkah kau lihat matanya memerah seperti bebara api?&#8221;</p>
<p>Tentu saja tidak, Ibu. Tapi Ibu Sardi memberi petunjuk bagaimana mengenali <em>parakang. </em>Jika seorang parakang berjalan di depanmu, ikuti dan jejak bekas telapak kakinya. <em>Par</em><em>akang </em>yang sejati akan terengah-engah dan bernapas mengi, dan akan menyuruhmu berjalan di depan sebelum jejak yang ke empat puluh kau pijak.                .</p>
<p>Aku pernah membuktikannya. Aku mengikuti Nandong dari belakang, memijak bekas langkahnya. T ak berapa lama ia menoleh-noleh ke belakang, kepadaku yang berjalan membuntuti, lalu suatu saat berhenti, dan menyuruhku berjalan di depan!</p>
<p>Aku tak mau dan berlari pulang. Peringatan Ibu Sardi membuatku waspada: begitu kau berjalan di depannya, dari belakang kau akan diterkam dan dilahapnya!</p>
<p>Ibu tergelak-gelak mendengar ceritaku. &#8220;Tentu saja Nandong menoleh ke belakang! Siapa yang nyaman dikuntit oleh bocah yang berjalan terlalu dekat di belakang?&#8221;</p>
<p>Ibu juga selalu mengatakan kalau teman-temanku suka membual. &#8220;Jika ia <em>p</em><em>arakang, </em>tentu sudah sejak dulu memangsa kita. Pernahkah kau melihat Nene&#8217; Nandong memangsa mahluk?&#8221;</p>
<p>Tak pernah, aku harus mengaku. Tapi sengak sangit minyak kelapa dari rambutnya, yang tetap melengket di hidungku meski ia telah meninggalkan rumah, jalannya yang doyong, matanya yang bergelambir dan juling, rumah yang gelap menyeramkan&#8230;. Ibu tetap tak mau percaya kalau di balik wujudnya, Nandong adalah ahli tenung dan pemuja sihir yang kelam. Kenapa Ibu tidak seperti Ibu Sardi dan ibu-ibu lainnya yang menjaga jarak dengan Nandong?</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>NANDONG masih<strong> </strong>tetap mendatangi rumah kami, dan sesekali Ibu masih tetap menyuruhku ke rumah Nandong membawa ini itu, lalu kembali aku berhadapan dengan tatap penuh selidik mata bertrembesi dan kediaman yang mengancam dari Wak Baco.</p>
<p>Ibu tahu kalau aku tak pernah menyukai Nandong. Ibu tahu kalau Nandong bagiku seperti selalu mengisyaratkan marabahaya yang pelik, tersimpan jauh dan sembunyi. Ibu pun mengabaikan tekadku jika aku dan teman-temanku tetap berupaya membongkar kedok Nandong yang <em>parakang</em>. Tapi inilah suatu rahasiaku hingga kini: Ibu tak pernah tahu keterkejutanku manakala di suatu sore aku mendapati Nandong terbungkuk-bungkuk di parit belakang rumah. Matanya tunduk mencari -cari namun tak lama ia berlalu sembari bergumam tentang sesuatu yang tercecer.</p>
<p>Saat itu serta merta cerita Ibu Sardi menyerbu kepalaku. <em>Par</em><em>akang </em>menyukai comberan, parit, dan got di sekeliling rumah, tempat menaruh teluh untuk pemilik rumah. <em>Parakang </em>menyukai segala yang berair dari dapur dan kamar mandi. Nandong ter bungkuk-bungkuk di sekitar parit rumah, hendakkah ia menanam teluh? Aku merasa lengan dan kakiku dingin saat malam hari Ibu mendadak mengeluh tak enak badan. Adakah Nandong telah mengirim teluh celaka pada Ibu?</p>
<p>Aku tercekam ketakutan. Cerita Ibu Sardi tentang ilmu hitam yang pelan-pelan menghabisi nyawa membuat bulu kudukku meremang. Aku gelisah saat esok paginya Ibu merasakan mual dan muntah- muntah. Dan sakit perut yang datang tiba-tiba membuatku yakin, inilah ulah Nandong. <em>Sakit per</em><em>uh dan muntah darah.</em>Teluh <em>p</em><em>arakang </em>membawa tulah &#8230;</p>
<p>Tapi Ibu tak khawatir. Ia hanya sakit perut tanpa muntah darah. Ia malah menggeleng-geleng saat aku beritahu tentang Nandong yang terbungkuk-bungkuk di atas parit. Kata Ibu, Ibu tidak sakit. Ibu malah senang. Dan ajaib, aku lihat Ibu malah tersenyum dan mengelus perutnya&#8230;.              .</p>
<p>Esoknya, di siang hari berhujan deras saat Ibu pulas, dari jendela dapur kulihat bayangan Nandong berpayung daun pisang, melintas menuju pintu belakang. Aku bergegas menghadang di depan pintu.</p>
<p>Kataku, &#8220;Ibu tidak ada, dan kau tak boleh masuk.&#8221;</p>
<p>Ia bilang ia hendak memeriksa sesuatu yang ketinggalan. Aku bersikukuh, berkacak pinggang di depan pintu. Nandong tak boleh masuk. Nandong <em>parakang </em>yang berdiri separuh basah di depan pintu dapur tak boleh menginjakkan kaki di dalam rumah, apalagi saat Ibu sakit.</p>
<p>Ia tampak kebingungan, tentu tak biasa pada sikap kasar dariku, dari aku yang selalu sopan. Aku tak peduli lagi pada sopan santun terhadap Nandong yang lebih tua, terhadap Nandong yang seharusnya kupanggil­nya Nene&#8217;.</p>
<p>Aku bersiteguh, berdiri berkacak pinggang di pintu dapur, menghadang Nandong yang kemudian pergi tanpa berkata apa-apa. Kusaksikan tubuhnya yang doyong lenyap, berpayung daun pisang, dalam hujan yang melebat dan salak guntur yang menghebat.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>OLEH suara kentongan dan guntur yang bersitalu, aku terbangun dari tidur di sore hari yang berhujan itu. Kulihat Ibu telah berdiri cemas, di tangannya payung tergenggam. Salak kentongan berterus tanpa putus, adakah yang tertimpa musibah? Ibu menjawab pertanyaanku dengan ajakan untuk segera bangkit.</p>
<p>&#8220;Kita ke rumah Nene&#8217; Nandong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa, Bu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nene&#8217; Nandong sakit, tergelincir di titian &#8230; &#8220;</p>
<p>Aku diam, berjalan di belakang Ibu. Aku membayangkan titian yang basah dengan dasar kali berbatu di bawahnya. Ibu membuka pintu belakang, payung teracung menantang langit yang basah. &#8220;Entah kenapa ia berkeliaran di hari berhujan seperti ini. Jangan-jangan ia hendak ke rumah, mencari amplop upahnya yang tertinggal. Ia sendiri yang meletakkannya di meja dapur. Ia sudah mulai pikun rupanya &#8230; &#8220;</p>
<p>Aku masih diam. Teringat pada Nandong yang terbungkuk di dekat parit dapur dengan mata yang mencari-cari siang tadi. Pada kakinya yang menyepak -sibak rumput. Mengirakah ia telah mencecerkan amplopnya di situ? Parit dapur dekat dengan pintu belakang. Mungkin ia merasa menjatuhkan upahnya di situ &#8230;</p>
<p>Ibu menggenggam tanganku erat-erat, berjalan cepat dengan payung terkembang sementara langit di atas masih meneriakkan gemuruh guntur. Sewaktu melintasi titian menuju rumah Nandong, kulihat dasar kali kini bergenang, dangkal dan kecoklatan, tetapi bebatuan hitam yang bertonjolan menciutkan dan mengancam. Pada tanganku Ibu mencengkeram lebih kuat!</p>
<p>Saat kami tiba di rumah Nandong, hari merembang petang. Sebanyak orang telah berkumpul, memenuhi rumah sempit Nandong, luber hingga ke halaman yang becek oleh hujan yang masih juga turun. Ibu meng­genggam tanganku erat-erat, mencari jalan, menerobos kerumunan orang, mendaki tangga, menguak mereka yang duduk berbisik-bisik &#8230;</p>
<p>Dan di sana aku lihat Wak Baco, di pojok ruangan, tempat ia biasanya mencangkung dan menatap kedatanganku penuh selidik. Kini ia terduduk memeluk istrinya, bibirnya yang miring bergerak-gerak aneh, melolong ganjil, dan air mata bercampur trembesi leleh di pipinya. Di pangkuannya, berbantal paha Wak Baco, Nene&#8217; Nandong terbaring bisu dan beku. Kulihat wajah Ibu memucat dan yang teringat olehku adalah: Nene&#8217; Nandong dengan rambut basah berdiri di ambang pintu belakang berpayung selembar daun pisang&#8230;</p>
<p>Ceracau dan tangis Wak Baco bersekutu dengan hujan dan guntur yang masih bergerau-gerau.</p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p><em>1. Parakang: </em>siluman sejenis gergasi dalam legenda masyarakat Bugis. Mereka yang memilih menjadi parakang adalah mereka yang mengharap kekayaan, kekuatan, panjang umur dan sebagainya, dari &#8216;kegelapan&#8217;. Konon parakang tak bisa mati, saat si parakang sekarat seseorang harus melanjutkan ilmu parakang, agar parakang yang tengah meregang nyawa dapat meninggal dengan tenang. Olehnya sering ditemukan kisah- kisah parakang yang turun temurun dalam satu keluarga.</p>
<p><em>2. Nene&#8217;: </em>Nenek dalam langgam Bahasa Bugis Makassar.</p>
<br />Filed under: <a href='http://essowenni.wordpress.com/category/galeri-kisah/'>Galeri Kisah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=152&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2010/11/23/152/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/11/surga-ibu-tua.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">surga ibu tua</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Upacara Bendera, Jadi Apakah Engkau?</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2010/05/15/di-upacara-bendera-jadi-apakah-engkau/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2010/05/15/di-upacara-bendera-jadi-apakah-engkau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 17:17:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda yang berada di Indonesia: masihkah upacara bendera eksis di sekolah? Masihkah diadakan tiap senin? Saya tiba-tiba teringat upacara bendera di saat hari berkabung nasional di Belanda. Selama sepuluh menit semua warga diminta diam, mengheningkan cipta untuk para pahlawan Belanda yang gugur di masa perang dunia ke-2. Saya, yang jelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=139&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><a href="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/hardiknas1-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-140 aligncenter" style="margin-top:1px;margin-bottom:1px;border:1px solid black;" title="hardiknas1-1" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/hardiknas1-1.jpg?w=300&#038;h=215" alt="" width="300" height="215" /></a></div>
<div>Sebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda yang berada di Indonesia: masihkah upacara bendera eksis di sekolah? Masihkah diadakan tiap senin?</div>
<div>
<p>Saya tiba-tiba teringat upacara bendera di saat hari berkabung nasional di Belanda. Selama sepuluh menit semua warga diminta diam, mengheningkan cipta untuk para pahlawan Belanda yang gugur di masa perang dunia ke-2. Saya, yang jelas tak punya kepentingan apa-apa dengan ‘pahlawan belanda yang gugur’, mendapatkan isyarat untuk diam dari Ralf, teman saya, saat dia dengan khusyu berdiam diri de depan pesawat teve.</p>
<p>Saya waktu itu tengah sibuk bernyanyi-nyanyi (lagu Kuch-kuch Hotha Hai, seminggu itu saya digoda oleh kenangan akan film India). Jadi saat Ralf mendesis menyuruh saya diam dan mengheningkan cipta, saya merasa sedikit terganggu.</p>
<p>Harap dicatat, Ralf berkebangsaan Jerman. Jadi, tuduhan saya kepadanya saat mengheningkan cipta selesai: engkau memang patut dan harus mengheningkan cipta. Kakek atau ayahmu dulu barangkali salah satu dari mereka yang membantai orang Belanda.</p>
<p>Ralf menggumamkan kata semacam ‘dasar Indo’ atau ‘dasar barbar’. Saya tak peduli.<br />
<span id="more-139"></span><strong>Awal Pekan Betis Kesemutan</strong><br />
Sejak kelas satu SD saya telah menjadi jemaah upacara bendera. Meski sempat melalui taman kanak-kanak, kenangan masa TK bersih tak ternoda oleh upacara. Yang ada hanyalah berbaris di halaman, dengan panduan ibu guru cantik yang teramat gemar bertepuk dan bergeleng-geleng, memandu kami menyanyikan lagu: lonceng berbunyi baris di halaman, bersiap kaki rapat, pegang pundak teman…..”</p>
<p>Di akhir lagu, bersamaan dengan lirik “mari meniru burung terbang di udara” kami bersama-sama mengepak-epakkan tangan, berupaya terbang seperti burung.</p>
<p>Memasuki SD siksaan bernama upacara itu datang. Sejak di kelas satu di setiap senin kami harus mulai berjemur di lapangan, di bawah sinar matahari yang beringsut naik. Selama lebih kurang 30 menit, kami harus berdiri rapi dalam barisan, kerap dengan betis kesemutan, di bawah tatapan tajam Bapak dan Ibu Guru yang siap menjewer-memukul-mencubit kami yang tak bisa tertib.</p>
</div>
<div>Tapi apa yang bisa diharap dari anak-anak ingusan yang dipaksa tertib-khidmat-dalam barisan bak tentara, terjemur di lapangan selama hampir setengah jam? Tentu saja akan ada yang ribut (paling utama dari barisan kelas satu, dua dan tiga), kerap pula ada yang pingsan. Dan jangan ditanya mereka yang mengobrol diam-diam, atau menjahili teman selama upacara berlangsung.&nbsp;</p>
<p><strong>Beda Sekolah, Protokol (kurang lebih) Sama</strong><br />
Setiap sekolah punya versi masing-masing bagaimana upacara bendera mereka. Juga punya protokol tersendiri. Namun secara garis besar protokol upacara bendera dari SD hingga SMA di masa saya adalah seperti di bawah ini:<br />
1.	Pemimpin barisan mempersiapkan barisannya<br />
2.	Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara<br />
3.	Penghormatan kepada pemimpin upacara<br />
4.	Laporan kepada pemimpin upacara oleh pemimpin barisan, bahwa barisan siap mengikuti upacara (siapa bilang?).<br />
5.	Pembina upacara memasuki lapangan upacara, pasukan disiapkan (ajudan membuntuti di belakang)<br />
6.	Penghormatan umum kepada pembina upacara<br />
7.	Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara bahwa upacara siap dilaksanakan (kesempatan untuk membentak pembina upacara: siap laksanakan!)<br />
8.	Pengibaran Bendera Merah Putih diiringi dengan lagu Indonesia Raya (oleh kelompok penyanyi).<br />
9.	Mengheningkan cipta (diiringi lagu berjudul sama: Mengheningkan Cipta)<br />
10.	Pembacaan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945<br />
11.	 Pembacaan Teks Pancasila oleh Pembina Upacara dan diikuti oleh seluruh peserta upacara<br />
12.	Amanat pembina upacara (pasukan diistirahatkan, akhirnya! Namun lama-lama engkau akan berharap pembina upacara tiba-tiba sariawan atau sakit gigi)<br />
13.	Menyanyikan salah satu lagu wajib nasional (biasanya Padamu Negeri atau Satu Nusa Satu Bangsa, dan tak pernah Isabella atau Suci Dalam Debu meski keduanya sangat populer secara nasional, di masa saya)<br />
14.	Pembacaan doa (di sini peserta upacara harus khusyu atau berpura-pura khusyu)<br />
15.	Laporan kepada pembina upacara bahwa upacara telah selesai<br />
16.	Penghormatan kepada pembina upacara dipimpin oleh pemimpin upacara<br />
17.	Pembina upacara meninggalkan lapangan upacara (ajudan mengekor di belakang)<br />
18.	Penghormatan kepada pemimpin upacara<br />
19.	Pemimpin upacara meninggalkan lapangan upacara (termasuk ajudannya)<br />
20.	Pemimpin pasukan membubarkan pasukan<br />
21.	Upacara selesai (horee!!)</p>
<p>Di SD saya di Bukaka Watampone, salah satu prosesi upacara adalah pembacaan Janji Murid, yang salah satu isinya bila saya tak salah ingat adalah: taat dan patuh kepada orang tua, guru dan tata tertib sekolah. Poin yang segera dilanggar saat itu juga oleh mereka yang memilih mengobrol dan cekikikan saat Janji Murid ini dibacakan.</p>
<p><strong>Saya di Upacara Bendera</strong><br />
Bersajak (dalam hal ini ‘berbunyi’ dengan suara yang diindah-indahkan), adalah kegemaran saya. Lantaran ini di setiap upacara saya didapuk untuk membaca sesuatu. Di SD saya menjadi pembaca Pembukaan, di SMP masih sama, di SMA membaca Doa dan Pembukaan silih berganti. Lantaran ini pula hingga kini Pembukaan tak bisa lekang, melekat bagai rajah di ingatan saya (engkau bisa membangunkan saya tiba-tiba di tengah malam buta, dan saya tetap bisa melafalkan Pembukaan selengkap-lengkapnya!)</p>
</div>
<div><a href="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/p-uud.jpg"><img class="size-medium wp-image-142 alignright" style="margin-top:1px;margin-bottom:1px;border:1px solid black;" title="p-uud" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/p-uud.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a>Pernah pula saya ditawari untuk menjadi pengibar bendera, sekali dua saya laksanakan tapi lebih banyak saya tolak, lantaran saya tak suka berurusan dengan tali temali dan mengamati lipatan kain. Pula saya canggung di urusan baris berbaris dan hitung menghitung langkah (kaki kiri atau kanan, hitungan ganjil apa genap?)&nbsp;</p>
<p>Tapi tak pernah saya diberi tugas untuk menjadi pemimpin upacara. Kata wali kelas saya di semua jenjang sekolah (SD, SMP, SMA), pemimpin upacara harus tegap, berwibawa, bersuara lantang. Seperti tentara pemimpin upacara di acara Parade Senja TVRI.</p>
<p>Sementara saya, satu-satunya yang mirip tentara yang ada pada diri saya adalah model rambut. Itupun saat di SD dan SMP saja. Di SMA, ‘sejumput’ ketentaraan itu tak lagi tersisa. Musnahlah harapan untuk menjadi pemimpin upacara. Yang terjadi malah, suatu waktu saya ‘diberi amanah’ memimpin kelompok penyanyi. Prestasi tak biasa, lantaran selama ini yang menjadi dirigen atau tukang palu hanyalah kaum perempuan. Jadi saat memimpin lagu sekonyong-konyong saya merasa menjadi Mas Guruh Soekarnoputra dengan kelompok Swara Mahardhika-nya.</p>
<p>Sekali pula saya menjadi ajudan pembina upacara. Ini tugas yang paling ambivalen: kontroversial dan menyiksa, sekaligus menyenangkan. Kontroversial sebab engkau tak melakukan apa-apa, selain berdiri di belakang punggung Pembina, sambil menenteng teks Pancasila dalam map (Pembina Upacara tak hapal teks Pancasila?) . Menyiksa, sebab selama upacara engkau menjadi pusat perhatian, harus tertib-khidmat-tak macam-macam, lantaran semua pasang mata berpusat di dirimu (sebenarnya ke pembina, tapi karena engkau menjadi ekor pembina, otomatis engkau juga teramati).</p>
<p>Bagian yang menyenangkan adalah, sebagai ajudan engkau lebih lambat memasuki lapangan upacara dan lebih dulu meninggalkan lapangan upacara (lihat susunan acara). Beberapa kawan saya yang menjadi ajudan pembina menambah ritual upacara, dengan melambai secara sembunyi-sembunyi kepada teman-teman mereka yang masih harus ‘terjemur’ di lapangan.<br />
<strong> </strong></p>
</div>
<div><span style="font-weight:800;"><span style="font-weight:normal;"><strong>Mencoba Eksis di Upacara?</strong><br />
Di sekolah, di jenjang usia kanak-kanak dan remaja, salah satu cara untuk bisa terkenal dan dikenal (istilah kini: eksis) adalah dengan menjadi pengisi upacara. Tampil di hadapan semua civitas akademika sekolah dan berhasil menunaikan tugas dengan baik dan sempurna tentu akan membawa nama baik, meski seingat saya amat jarang murid atau siswa yang antusias menyambut tugas sebagai pengisi upacara. Sebab jika gagal, engkau akan malu dan dipermalukan (ini yang berbahaya), dan tak akan pernah dipercaya lagi untuk menanggung tugas sebagai pengisi upacara.&nbsp;</p>
<p>Banyak kasus aib yang terjadi di lapangan upacara. Kasus membacakan protokol acara yang tak runtut, Pembacaan teks Pembukaan, Janji Murid atau Doa yang terpatah-patah. Kasus gagal yang paling kerap menimpa mereka yang menjadi pengibar bendera. Berikut tiga kesalahan paling penting dalam urusan kibar mengibar bendera.</p>
<p>1.	Kesalahan baris berbaris. Yang paling beresiko adalah saat meninggalkan tiang bendera (sebab engkau harus menyesuaikan hitungan dan langkah sambil terus bergerak).</p>
<p>2.	Bendera yang terpuntir saat dipentangkan. Saat bendera dipentangkan, sang pementang akan menjerit: bendera siap! (oh tidak, ternyata harus diulang). Sekali mungkin tak apa, tapi jika kali kedua atau kali ketiga kesempatan masih juga terpuntir, alamat yang bersangkutan tak bakalan terpilih menjadi pengibar bendera lagi. Dan tentu saja, hukuman menanti.</p>
<p>3.	Bendera yang terkerek terlalu cepat atau terlalu lambat (mengikuti lagu Indonesia Raya) yang berakibat bendera harus sprint di akhir lagu atau tiba lebih dulu di ujung tiang lantas melamun, menunggu lagu selesai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></span></span></div>
<div><span style="font-weight:800;"><span style="font-weight:normal;"><a href="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/upacara-bendera-sd.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-141" style="border:1px solid black;margin:1px;" title="upacara-bendera SD" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/upacara-bendera-sd.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>Ada satu insiden yang membekas di ingatan saya saat di SMP. Seorang  teman saya dari kelas lain diberi tugas membaca Pembukaan UUD  1945. Di alinea terakhir ia tak sengaja membaca ‘yang berkedaulatan  rakyat dengan berdasarKAN kepada (semestinya berdasar kepada).  Seorang guru saya (namanya Pak Ambo, ia guru matematika saya      yang galak luar biasa, semoga &#8216;dosa-dosa&#8217;nya terampunkan) yang saat  itu bertugas sebagai pengawas upacara, bergegas menghampiri si  anak, lalu… Buk! Tinju sang guru menghujam deras di punggung si  anak (perempuan!).&nbsp;</p>
<p>Di hadapan seisi sekolah, si anak terdengking di depan mikrofon, mengeluarkan keluh pendek, namun terus membaca sampai selesai. Yang saya tahu saat ia selesai membaca, sepanjang upacara wajahnya pucat dan basah oleh keringat, mungkin pula airmata.</p>
<p>Membuat kesalahan di depan orang banyak (dan kemungkinan besar mendapat teguran, ejekan, kerap hukuman dari guru bila sesuatu yang keliru terjadi) tentu sangat tak mengenakkan. Mengingat-ingat semua insiden yang terjadi di lapangan upacara, saya bertanya-tanya: adakah upacara ini perlu dan baik bagi tumbuh kembang anak. Selain untuk menumbuhkan nasionalisme (yang juga penuh tanda tanya itu), adakah upacara memberikan sumbangsih berarti selain ketaknyamanan di hari senin oleh betis yang kesemutan, keharusan berjemur, dan kecemasan kalau-kalau berbuat kesalahan? Dan semua ketaknyamanan ini bersumber pada satu hal, keharusan untuk mengupacarakan secara kolosal pengibaran selembar kain bernama bendera.</p>
<p>Menoleh kembali ke masa kanak-kanak dan remaja saya, saya tak menemukan sesuatu yang berarti dari upacara ini selain bahwa kini Pembukaan UUD 1945 terus menempel di benak saya, dan akan tetap begitu, dan hanya akan terhapus bila saya demensia berat, amnesia atau meninggal.</p>
<p>Tulisan ini saya tutup dengan doa penutup di teks Doa upacara bendera: <em>Wasubhhanallahi ammaa yaasifuun, wasalaamun alal mursaliin, walhamdulillaahi robbil aalamiin.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p></span></span></div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://essowenni.wordpress.com/category/jurnal-pribadi/'>Jurnal Pribadi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=139&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2010/05/15/di-upacara-bendera-jadi-apakah-engkau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/hardiknas1-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hardiknas1-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/p-uud.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">p-uud</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/05/upacara-bendera-sd.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">upacara-bendera SD</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KTP, Kolom Agama, dan Alfatihah</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2010/03/16/ktp-kolom-agama-dan-alfatihah/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2010/03/16/ktp-kolom-agama-dan-alfatihah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 14:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Sebab saya pendatang di sini, dengan bahasa Belanda yang ala kadarnya yang penting kenyang, dan keharusan untuk berbaur dengan penduduk asli untuk bisa bertahan, maka banyak hal dalam proses melebur secara sosial yang membuat saya nyaris makan hati. Orang Belanda, sangat menyukai sosialisasi. Bagi mereka, pesta, pertemuan, perjamuan adalah ajang mengasah kecerdasan (bersosialisasi konon juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=134&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/03/ktp-depan.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p>Sebab saya pendatang di sini, dengan bahasa Belanda yang ala kadarnya yang penting kenyang, dan keharusan untuk berbaur dengan penduduk asli untuk bisa bertahan, maka banyak hal dalam proses melebur secara sosial yang membuat saya nyaris makan hati.</p>
<p>Orang Belanda, sangat menyukai sosialisasi. Bagi mereka, pesta, pertemuan, perjamuan adalah ajang mengasah kecerdasan (bersosialisasi konon juga termasuk dalam kategori penting penentu cerdas tidaknya seseorang secara keseluruhan).<br />
<span id="more-134"></span><br />
Mereka mampu bercakap dengan keterampilan yang kerap membuat saya iri. Keterampilan mengangkat hal-hal kecil, mencari pokok pembicaraan, yang bagi saya amat sangat tidak penting (tentang cuaca semisal). Lantas kenapa kalau hari ini cuaca minus tiga, kemarin minus dua? Perbedaan satu derajat itu bisa menjadi bahan pembicaraan selama 10 menit.</p>
<p>Tapi itulah. Saya tak heran jika di negeri kecil ini yang kerap dijuluki cina eropa, setiap orang terbiasa bercakap, musyawarah, nego, win-win, tawar menawar, <em>you give me some I will give you some</em>. Setiap orang bebas bicara.</p>
<p>Mereka menyebutnya <em>polder model</em>. Saya menyebutnya model pedagang dan makelar.</p>
<p>Namun karena telah memutuskan untuk tinggal di sini, mau tidak mau saya harus berhadapan dengan <em>homo netherlandicus</em> ini dan harus mencari cara bagaimana menghadapi orang-orang Belanda. Semboyan saya, <em>learn to deal with them before they deal with you…</em></p>
<p>Puncaknya adalah saat saya harus menghadiri perayaan akhir tahun dengan kolega. Sebagai intern &#8216;termuda&#8217; saya harus hadir. Dengan usia keberadaan di kantor masih berhitung hari, ditambah kenyataan saya satu-satunya non Belanda di ruangan, saya mendapati diri saya berdiri di sudut, dengan gelas minuman di tangan, sendiri dan canggung.</p>
<p>Tapi saya mendapatkan penyelamat. KTP saya. Kartu Tanda Penduduk saya.</p>
<p>KTP saya, dikeluarkan di Makassar, masihlah aktif hingga sekarang. Bagi orang Belanda, sesuatu yang menjadi bukti bahwa saya masih bagian dari negeri bernama Indonesia itu, tentu menjadi semacam penanda yang eksotik bagi mereka. Identitas sebuah penduduk negeri yang ‘lain’.</p>
<p><strong>Peta di Punggung</strong><br />
Awal mulanya adalah saat saya harus bersusah payah menjelaskan di mana Makassar itu kepada salah seorang kolega, yang akhirnya memutuskan untuk bercakap dengan saya yang sendiri di pesta itu. Bukan cuma satu orang, beberapa orang mulai bergabung dengan kami saat percakapan kami menyentuh topik negeri asal saya. Umumnya orang Belanda tahu dengan tepat di mana Indonesia, dan tak secara bodoh mengaitkan letak geografi Indonesia dengan Polinesia atau semacamnya. Dengan riwayat kolonialisasi yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, durasi yang memakai abad sebagai satuan, saya kira keterlaluan jika sampai mereka tak mengenal Indonesia.</p>
<p>Hanya saja Indonesia bagi sebagian mereka hanya Jawa, Bali dan mungkin Sumatera. Hanya sedikit orang yang akrab dengan pulau-pulau lain. Jadi saat saya mendapati air muka kebingungan beberapa kolega saat saya menyebut Sulawesi, serta merta saya menghunus KTP dari dompet.</p>
<p>Di punggung KTP terdapat peta Indonesia. Lalu saya menunjuk ke kaki tegak pulau Sulawesi. Saya berasal dari sini, kata saya. Dulu pulau ini bernama Celebes. Daya tarik pariwisatanya adalah Toraja dengan alam pegunungannya, kuburan tebingnya, upacara kematiannya dan sebagainya dan sebagainya. Lalu gumaman ooh panjang terdengar. Salah satunya lalu menyambut KTP yang masih terjulur di hadapan para pemirsa.</p>
<p>KTP saya lalu ia bolak-balik . Dan Saat menemukan kata Islam di kolom agama, ia bertanya. Ini apa? Jawab saya, Agama. Heh? Di kolom KTP? Iya.</p>
<p>Dibesarkan di negeri sesekuler Belanda, bagi mereka kolom agama dalam KTP adalah hal yang teramat ajaib. Dalam dokumen administrasi apapun dan dalam formulir apapun, kecuali tentu saja untuk hal-hal yang terkait dengan organisasi keagamaan, tak pernah bentuk keyakinan kepada Tuhan dipertanyakan, dicatat dan dikelompokkan.</p>
<p><strong>Diskriminasi Administrasi</strong><br />
KTP yang mengundang tanya ini tak sekali dua muncul dalam percakapan saya dengan orang-orang Belanda. Hari ini semisal: teman sekamar saya, profesor, usia mendekati 60 (dengan rambut putihnya, wajahnya mengingatkan saya pada Dustin Hoffman) juga bertanya, saat saya menanyakan adakah ia merayakan natal secara religius. Lalu pertanyaan-pertanyaan tentang agama bertukaran antar kami, dan pada suatu ketika saya harus menunjukkan KTP saya untuk menunjukkan identitas agama saya.</p>
<p>Ia terkejut, saya memaklumi. Tapi saya sangat jengah saat ia mengumumkannya keras-keras saat beberapa orang kebetulan masuk di ruangan kami. <em>Rahmat terdaftar sebagai muslim dan agamanya tercantum di kartu identitasnya!</em></p>
<p>Semua orang berkerumun, komentar beruntun (masak? Benar? Kok bisa? Wah, aneh sekali), lalu menatap saya dengan mata bulat-bulat seolah saya tontonan yang menarik, dan saya merasa menjadi tukang sulap. Bukan dengan topi dan tongkat, melainkan dengan KTP ajaib.</p>
<p>Mereka lalu banyak bertanya akibat dari pelabelan yang demikian telanjang, dan keharusan untuk memilih agama tertentu dan mencantumkannya dalam KTP. Bagaimana jika terjadi kerusuhan antar agama? Kata saya, bahkan dalam keadaan tanpa kerusuhan, KTP dan kolom agama itu masih juga mendatangkan masalah.</p>
<p>Suatu waktu di tanah air, saya harus mengurus surat keterangan belum menikah. Saya tak pernah berurusan (atau lebih tepatnya menghindar keras untuk berurusan) dengan birokrat. Dan karena saya pikir menikah itu semestinya perkara yang tercatat di lembaran negara, saya semestinya ke Catatan Sipil.</p>
<p>Tapi di kantor Catatan Sipil mereka menolak. Katanya sebab di KTP saya tercantum Islam, untuk surat pernyataan tak menikah saya harus ke departemen agama. Tapi jika yang tercantum bukan Islam, saya boleh mengurusnya di catatan sipil. Kok bisa? Bukankah ini diskriminasi islam dan bukan islam? Bukankah kawin mawin itu urusan sipil dan bukan urusan Departemen Agama? Atau kalau Departemen Agama bersikeras menjadikannya urusan mereka entah karena motif apa, kenapa tak berbagi data dengan Catatan Sipil?</p>
<p>Di kantor Catatan Sipil saya protes keras, sebab saya tak mau surat keterangan itu berstempel Departemen Agama. Saya tengah mengurus data sipil saya, bukan keyakinan saya, kata saya kepada pegawai. Si pegawai tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk-angguk mengiyakan, tapi lantas menyarankan saya untuk menemui atasannya. Atasannya juga mengangguk-angguk, tapi malah merujuk saya ke Bapak Kepala Kantor. Kepala kantor Catatan Sipil (namanya Pak Sinaga), ia (kemungkinan besar bukan muslim), setuju dengan pandangan saya. Tapi, katanya bernada pasrah, mungkin setengah putus asa pada kekeraskepalaan saya: saya tak punya data-data Adik. Adik terdaftar sebagai muslim, Departemen Agama-lah yang berhak menerbitkan surat keterangan belum menikah.</p>
<p>Saya tetap bertahan tak mau mendapatkan surat berstempel Departemen Agama. Lalu ditempuhlah jalan tengah, setelah debat panas di ruangan bapak kepala yang sejuk oleh ase. Surat keterangan itu harus tetap saya dapatkan dari Depag, dan berdasarkan itu Catatan Sipil akan membuatkan dokumen. Kerja dua kali. Sangat konyol, tapi bagi saya, lebih konyol lagi jika sampai mau turut dalam birokrasi pencatatan pernikahan yang tak masuk akal ini.</p>
<p>Saya tetap harus ke Departemen Agama. Memendam amarah, saya ke kantor Departemen Agama kotamadya, namun malah disuruh kembali ke KUA di tempat tinggal saya. Ujung pukul ujung, Alauddin dan Tamalanrea di Makassar yang panas, dan mesti ditempuh dua kali bolak-balik. Dengan kendaraan umum pula. Seharian itu saya harus membuntal rasa kesal. Di penghujung hari, surat itu akhirnya keluar juga, dengan stempel catatan sipil. Ah ya, saat di KUA, saya harus membayar ongkos administrasi. Seikhlasnya, kata si pegawai. Ongkos administrasi, dengan kadar keikhlasan sebagai batasannya. Di Kantor Urusan Agama yang maha suci dan bermoral itu.</p>
<p>Kenalkan, nama saya ironi.</p>
<p><strong>Alfatihah di Tengah Razia</strong><br />
Cerita berlanjut. Tapi pertanyaan menyeling.“Lantas, bagaimana jika terjadi keributan antar agama? Beberapa tahun silam, di Maluku, pernah terjadi kerusuhan, kan? Dengan KTP itu sangat mudah menentukan siapa di kubu mana…”</p>
<p>Saya tak bisa apa-apa selain membenarkan. Betapa kolom agama di KTP bisa menjadi mimpi buruk bagi kaum minoritas saat terjadi kerusuhan bermotif agama. Lawan mudah dikenali, cukup dengan memeriksa KTP. Celakalah mereka yang terjaring. Saya teringat pada peristiwa beberapa tahun lalu, di depan sebuah kampus termegah di Indonesia Timur di Makassar, saat segerombolan orang berdemo menunjukkan solidaritas sebagai saudara seiman untuk ‘saudara-saudara’ mereka yang tengah bertikai dengan ‘musuh’ di Maluku.</p>
<p>Gerombolan itu lalu menyetop setiap yang lewat, memeriksa KTP mereka, lalu menahan mereka yang dianggap ‘musuh’.</p>
<p>“Tapi kan, engkau bisa saja sengaja tak membawanya? Atau pura-pura lupa?” Kejar kolega saya. Saya bilang, ini razia. Engkau digeledah, bila perlu secara paksa, dan bila engkau lupa, mereka memaksamu merapal surat al-fatihah. Mungkin pikir yang merazia itu, sedogol-dogolnya seorang muslim, pasti hapal al-fatihah.</p>
<p>Jika ayat suci bisa dipakai untuk mengusir setan, saya kira itulah saat yang tepat untuk membuktikannya.</p>
<p>Saya masih ingat jelas semuanya. Belasan orang yang naas itu dibaringkan telungkup di aspal, di tengah malam yang jahanam, nyaris telanjang sebab pakaian mereka cabik oleh parang, lalu beberapa orang melompat-lompat di atas tubuh mereka. Tubuh yang terinjak-injak, keplak muka yang ditempeleng, darah yang mengalir, suara yang mengaduh, dan teriakan allahuakbar dari para penganiaya….</p>
<p>(Saya tak pernah gentar pada darah atau luka. Tapi malam itu saya merasa perut saya seperti teraduk oleh penganiayaan masal bermotif agama di depan sebuah kampus besar, wajah beberapa penganiaya yang saya kenali sebagai teman mahasiswa, dan kenyataan bahwa saya terlalu pengecut untuk bisa berbuat apa-apa).</p>
<p><strong>Duta Bangsa</strong><br />
Kolega saya itu, dengan iman yang begitu kuat pada sistem dan negara yang bijaksana dan mengayomi, bertanya: kenapa tak melapor polisi?</p>
<p>Saya cuma bisa mengangkat bahu, tak tega mengatakan bahwa di sekitar gerombolan itu, seorang polisi berseragam tengah menggenggam pesawat HT, melapor entah kepada siapa, “keadaan aman terkendali,” katanya. Lalu kemudian berteriak ke arah gerombolan, jangan sampai mati, jangan sampai mati….</p>
<p>Mungkin saya bukan duta bangsa yang ‘baik’, tak bisa menutupi aib negeri sendiri, atau mengemasnya sedemikian rupa lalu berkilah, sistem ini yang cocok untuk negeri seperti Indonesia. Sebab saya tak bisa mengerti bagaimana bisa bangsa dengan potensi konflik yang besar oleh pondasi sosial ekonomi yang rapuh, iman yang personal dikotak-kotakkan, di tengah masyarakat yang sangat majemuk. Seperti meletakkan petasan di bibir kolam bensin.</p>
<p>Atau seperti biasa, akan ada yang mengajukan teori konspirasi bahwa kerusuhan dan razia telah diplot oleh orang-orang &#8216;atas&#8217;. Taruh kata benar, tapi kenapa banyak orang (terdidik pula) masih begitu dungu untuk membiarkan diri diperangkap oleh plot, apa pun itu?</p>
<p>Bagi saya, peraturan KTP beragama ini adalah peraturan tanpa dasar yang bisa berbuah pahit. Sangat pahit.</p>
<p>Setelah kisah ini meluncur, kolega seruangan saya terdiam, seperti berpikir panjang. Dengan usianya, mungkin ia tak bisa membayangkan bahwa pelabelan iman dan kepercayaan yang terkotak, terorganisasi dan terstruktur dari hulu ke hilir, hadir di negeri ini, dengan segala akibatnya. Dan saya, masih dengan status penduduk Indonesia yang saya cintai, meski kerap dengan kesedihan, hanya bisa tersenyum getir.</p>
<p>Sebab hingga sekarang pun, KTP saya sendiri masih kerap membuat saya termenung.</p>
<br />Filed under: <a href='http://essowenni.wordpress.com/category/jurnal-pribadi/'>Jurnal Pribadi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=134&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2010/03/16/ktp-kolom-agama-dan-alfatihah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/03/ktp-depan.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rambut Kami: Model Tentara Bugis dan Amrik</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2010/01/28/rambut-kami-model-tentara-bugis-dan-amrik/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2010/01/28/rambut-kami-model-tentara-bugis-dan-amrik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 20:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Saat sisir tak lagi mulus meluncur di saat rambut masih basah, saya mafhum telah tiba waktunya untuk memangkas rambut. Rambut saya tergolong rambut yang cukup &#8216;percaya diri&#8217;. Ia mengumumkan diri bila tiba saatnya untuk dipangkas. Bila telah cukup panjang, Ia akan mengikal, jalin menjalin, bergumpal-gumpal. Di Indonesia, teman-teman yang cukup tega hati menyebutnya ‘krinyol’ (keriting [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=123&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_124" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/01/350005964_b5f3aa014f.jpg"><img class="size-medium wp-image-124 " title="350005964_b5f3aa014f" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/01/350005964_b5f3aa014f.jpg?w=300&#038;h=211" alt="" width="300" height="211" /></a><p class="wp-caption-text">Tukang Cukur. Foto oleh Yato. </p></div>
<p>Saat sisir tak lagi mulus meluncur di saat rambut masih basah, saya mafhum telah tiba waktunya untuk memangkas rambut.</p>
<p>Rambut saya tergolong rambut yang cukup &#8216;percaya diri&#8217;. Ia mengumumkan diri bila tiba saatnya untuk dipangkas. Bila telah cukup panjang, Ia akan mengikal, jalin menjalin, bergumpal-gumpal. Di Indonesia, teman-teman yang cukup tega hati menyebutnya ‘krinyol’ (keriting menyolok)</p>
<p>Kalau sudah begini saya akan menelepon Hizihair, salon rambut langganan saya, membuat janji, lalu berangkat ke bilangan Harlemeerstraat. Dan sebelum cap pria metroseksual mampir ke jidat saya, saya harus membuat klarifikasi. Hizihair tergolong salon yang tak mewah, tak mahal dan saya memilihnya sebab di dompet saya terselip kartu diskon untuk Hizihair.</p>
<p>Jadi pembaca yang menuduh saya pria metroseksual, maaf Anda salah. Saya bukan pria metroseksual. Hanya seorang pria metromini yang kebetulan harus berhemat.</p>
<p>Tapi Hizihair ini made in Belanda. Saya ingin bercerita tentang ihwal memotong rambut di tanah air, di masa kecil saya, di kota kecil Watampone, di pelosok Sulawesi. <span id="more-123"></span><strong> </strong></p>
<p><strong>Cukur Tentara</strong><br />
Bapak saya (kami menyebut Bapak dan Ibu untuk kedua orang tua kami), seorang perwira abri, menerapkan militerisme di saat dinas dan di luar dinas. Saya dan saudara laki-laki saya yang lain juga harus menjadi ‘anggota kesatuan’. Tidak dengan emblem pangkat dan seragam, melainkan dengan model rambut.</p>
<p>Model rambut yang dimaksud adalah model rambut 85% plontos dengan 15% rambut tersisa di bagian depan. Jika si tukang cukur berbaik hati, rambut yang tersisa ditinggalkan secara gradual mulai dari ubun-ubun, terus ke depan dan panjang maksimal tepat di atas dahi. Bila tidak, maka kepala plontos licin, lalu tiba-tiba sejumput rambut ditinggal begitu saja. Seolah terlupa.</p>
<p>Bapak menyebutnya cukur perwira. Kedengaran mentereng. Perwira saya kira cukup terhormat baik dalam hal nama maupun dalam hal kepangkatan.</p>
<p>Tapi teman-teman saya menyebutnya cukur banda&#8217;-bandang. Lebih kejam lagi, cukur model kelapa. Tentang banda&#8217;-bandang yang secara harfiah berarti kue nagasari, saya tak pernah tahu kenapa cukur model ini dinamakan demikian.</p>
<p>Engkau tahu, kanak-kanak kadang-kadang kejam luar biasa. Saya dan Takdir, kakak laki-laki saya yang berselisih usia hanya setahun, menjalani cukur model ini hingga SMP. Selama itu kami harus menebalkan telinga, menghadapi ejekan kawan-kawan yang beruntung tak harus menjalani kewajiban bercukur model kelapa.</p>
<p>Saya dan Takdir selalu bercukur pada saat yang sama. Jadilah kami selalu berendengan menuju tukang cukur langganan kami saat rambut kami tumbuh panjang. Panjang di sini berarti lebih dari 2 centimeter. Itu sudah terlalu panjang untuk ukuran perwira, mungkin begitu pikir Bapak dan Ibu.</p>
<p>Saya masih ingat benar lokasinya. Di pasar sentral lama, di sela-sela ruko model tempo dulu yang tak berhuni. Bermodal kursi berlengan, sepotong kaca buram dan meja sederhana tempat segala perangkat alat cukur ditata. Per segala ukuran, aneka pisau cukur, sepotong kulit keras untuk mengasah pisau cukur, tempat bedak merek Marck dan <em>puff</em> kusam, sebotol bedak talek merah jambu merek Fang, sebotol air, wadah sabun colek bekas berisi sepotong sabun mandi berwarna merah (mungkin Lifebuoy!) terendam air keruh dan kekuning-kuningan (padahal si sabun berwarna merah). Hanya si tukang cukur dan Tuhan yang tahu seberapa sering ia mengganti air di wadah sabun itu.</p>
<p>Selebihnya, kain putih dan handuk kecil berwarna coklat. Kain putih untuk penutup badan saat cukur, biasanya dijepit di bagian belakang dengan jepitan jemuran (kalau ada). Bila tak ada cukup disimpul (dan saya merasa menjadi semacam buntalan). Handuk untuk menepis sisa-sisa rambut saat selesai. Caranya, Handuk ditampar-tamparkan ke tengkuk dan leher, lalu digosokkan sekali dua.</p>
<p>Jangan berpikir tentang hygiene. Air sabun yang kekuning-kuningan, handuk coklat yang sebenarnya putih, pisau cukur yang tak pernah diganti&#8230;</p>
<p>Tukang cukur langganan kami itu seorang pensiunan tentara jaman dahulu. Kepadanya kami selalu harus bilang: cukur model perwira, seperti pesan Bapak dan Ibu. Lalu kami didudukkan, per bergerak menyusuri kepala, dan kami menyaksikan rambut kami berjatuhan sambil menguat-nguatkan hati untuk menghadapi ejekan kawan-kawan sekolah besoknya.</p>
<p>Rambut di pelipis dibabat dengan pisau cukur. Setelahnya, tengkuk dan pipi dibedaki dengan<em>puff</em> dan kami pulang dengan leher dan pipi cemong oleh bedak yang tak rata.</p>
<div id="attachment_126" class="wp-caption alignleft" style="width: 208px"><a href="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/01/tukang_cukur_traditional.jpg"><img class="size-medium wp-image-126" title="Tukang_Cukur_Traditional" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/01/tukang_cukur_traditional.jpg?w=198&#038;h=300" alt="" width="198" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Kerja. oleh Ricky B Hartono</p></div>
<p>Sampai sekarang saya tak bisa mengerti untuk apa bedak itu. Bisa jadi semacam penanda bahwa kami baru saja bercukur. Meski cukur model perwira kelihatannya tak pantas bersandingan dengan bedak. Merek Marck pula.</p>
<p><strong>Pemberontakan Setengah Hati</strong><br />
Menginjak SMP, saat kami yang beranjak remaja mulai memperhatikan penampilan, cukur model perwira menjadi mimpi buruk. Apa daya, Bapak mengharuskan kami tetap bercukur model sama.</p>
<p>Ibu-lah yang menjadi wakil kami di parlemen rumah tangga yang sama sekali tak egaliter itu. Kepada Ibu kami mengeluh betapa kami menjadi bulan-bulanan ledekan teman-teman di sekolah. Betapa kami menjadi dua-duanya (kompak di saat yang bersamaan) anak yang masih bercukur model kelapa di sekolah.</p>
<p>Bapak bergeming. Cukur perwira masih wajib. Kami memperkuat lobi ke Ibu seraya meminta Ibu memeriksa berapa banyak anak tetangga yang masih bercukur model kelapa.</p>
<p>Tak ada. Ibu mulai mengerti.</p>
<p>Tapi Bapak punya rencana lain. Sebab tukang cukur langganan kami kini sulit diakses (kami berpindah alamat ke pinggir kota) maka ia sendirilah yang mengeksekusi rambut kami. Tentu saja dengan mengindahkan saran dari istrinya (penyambung lidah kami).</p>
<p>Bapak tak pernah memangkas rambut. Kami berdebar menunggu giliran menjadi kelinci percobaan.</p>
<p>Takdir yang mendapat giliran pertama. Hasilnya luar biasa buruk. Takdir berubah menjadi kelinci aneh. Kepalanya nyaris plontos di bagian belakang bawah. Tapi mendadak berambut di bagian tengah belakang, sejajar dahi, dan seterusnya ke atas. Persis topi. Belakangan saat Forrest Gump ngetop saat kami kuliah, saya teringat model rambut ini. Jadi sebenarnya tetap model tentara, tapi kali ini model tentara Amerika.</p>
<p>Takdir menangis. Tapi harus menahan tangis saat Bapak mengetok kepalanya dengan gunting.</p>
<p>Ibu turun tangan. Dan melihat betapa buruk hasil hasta karya Bapak, Ibu berdiri di samping mengawasi saat Bapak menggarap rambut saya. Berkat Ibu, saya tak mendapat model topi, melainkan model rambut yang sama sekali baru. Cukup keren. Beruntung bagi saya, bencana bagi Takdir.</p>
<p>Di sekolah, Takdir menjadi bulan-bulanan seorang diri. Untuk pertama kalinya ia menjadi sasaran tunggal ejekan, sementara saya terbebas. Kejamnya pula, saya kadang-kadang ikut meledek. Hal yang akhirnya saya sesali belakangan.</p>
<p>Saat pulang, Takdir melapor ke Ibu bagaimana model rambut topinya menjadi ejekan sekelas. Mungkin juga disertai laporan kalau saya juga terlibat dalam ejek mengejek itu. Ibu melapor ke Bapak. Sorenya saya dipanggil.</p>
<p>Kata Bapak, rambut saya kurang pendek. Dan harus dipermak. Saya mengerti ke arah mana rambut saya akan dibawa. Atas nama keadilan, mungkin sekaligus membungkam saya agar tak meledek rambut saudara sendiri.</p>
<p>Saya meneteskan airmata saat gunting kembali beraksi di kepala saya. Berlainan dengan Takdir yang menangis dengan suara, saya selalu menangis dalam diam. Tapi Bapak tahu saya menangis, dan selama saya tak ribut menangis saya tak akan digetok dengan gunting.</p>
<p>Saya akhirnya juga mendapat model topi, meski tak seburuk model rambut Takdir. Di sekolah esoknya, keadaan kembali ke sediakala. Dua bocah bersaudara dengan model rambut yang sama. Saya terpukul, mungkin lebih hebat dari Takdir. Sebab saya menyadari rambut saya telah di<em>downgrade</em> dari model keren ke model topi, hanya dalam 24 jam.</p>
<p>Itu terakhir kali kami mendapatkan model rambut yang buruk. Setelahnya, Ibu kembali menjadi penyelamat kami.</p>
<p>Belajar dari pengalaman bagaimana model rambut menjadi sumber drama penuh airmata dalam keluarga, Ibu meminta-bujuk Bapak merelakan rambut kami menjadi urusan kami sendiri. Bapak (akhirnya) setuju. Dengan syarat, panjang rambut tetap dalam pengawasan melekat.</p>
<p>Bagaimanapun, Bapak dan Ibu membenci rambut panjang. Hingga sekarang.</p>
<br />Filed under: <a href='http://essowenni.wordpress.com/category/jurnal-pribadi/'>Jurnal Pribadi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=123&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2010/01/28/rambut-kami-model-tentara-bugis-dan-amrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/01/350005964_b5f3aa014f.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">350005964_b5f3aa014f</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2010/01/tukang_cukur_traditional.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">Tukang_Cukur_Traditional</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Insiden Pisang Ijo di Tengah Malam yang Bikin Penasaran atau The Curious Incident of the Green Banana in the Night-Time</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2009/11/13/insiden-pisang-ijo-di-tengah-malam-yang-bikin-penasaran-atau-the-curious-incident-of-the-green-banana-in-the-night-time/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2009/11/13/insiden-pisang-ijo-di-tengah-malam-yang-bikin-penasaran-atau-the-curious-incident-of-the-green-banana-in-the-night-time/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 22:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Saya tak pernah membayangkan membuat pisang ijo akan serepot ini. Hanya berawal dari keinginan menikmati pisang ijo dan iming2 dari Dini aka Kaka Tiwi, saya bertekad hendak menghadirkan pisang ijo di apartemen saya. Pikir saya, tak akan sulit. Saya menyukai memasak, dan biasanya tak menemui kesulitan berarti.  Dan pisang berbalut adonan hijau dan fla putih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=100&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_109" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-109  " title="P1090730" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090730.jpg?w=300&#038;h=225" alt="P1090730" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">pisang ijo plus ketjiput dengan segala kelemahannya</p></div>
<p>Saya tak pernah membayangkan membuat pisang ijo akan serepot ini. Hanya berawal dari keinginan menikmati pisang ijo dan iming2 dari Dini aka Kaka Tiwi, saya bertekad hendak menghadirkan pisang ijo di apartemen saya. Pikir saya, tak akan sulit. Saya menyukai memasak, dan biasanya tak menemui kesulitan berarti.  Dan pisang berbalut adonan hijau dan fla putih kental beraroma vanila bagi saya sepertinya bukan tantangan kelas berat.</p>
<p>Tapi ternyata saya keliru.</p>
<p><span id="more-100"></span>Saya memulai dengan melayari berbagai versi resep pisang ijo di internet. Setelah membaca, memperhatikan, menimbang, saya akhirnya memutuskan memilih resep <a href="http://resepcampur.blogspot.com/2007/02/es-pisang-ijo-makassar.html">in</a><a href="http://resepcampur.blogspot.com/2007/02/es-pisang-ijo-makassar.html">i</a> sebagai pedoman. Kelihatan gampang. Namun perasaan ‘kelihatan gampang’ ini ternyata ‘sebenarnya susah’.</p>
<p>Kesulitan pertama saya adalah menemukan pisang yang sesuai. Saat ke pasar tradisional Leiden yang saya temukan adalah jenis pisang Suriname yang ekstra besar, yang konon khusus untuk dibuat pisang goreng. Sedikit keras tapi pikir saya tak apa, setelah dikukus pasti akan melunak sendiri. Jadi terbelilah pisang Suriname yang ukurannya bila disanding dengan pisang raja, bagai Ade Rai dengan Aming.</p>
<p><strong>Monster Coklat dari Dasar Panci</strong></p>
<p>Kesulitan kedua adalah menemukan pewarna hijau. AH meski XL sekalipun tak bisa diharap. Di pasar tradisional pun tak saya temukan. Saya lantas ke Puur (toko bahan2 biologis yang terbilang baru) di Leiden. Ibu-ibu Belanda yang jaga toko bilang mereka tak jual pewarna. Namun mereka berupaya membantu dengan menyodorkan tiga alternatif: pertama ke toko bahan kimia (saya tak tahu apa-apa tentang toko bahan kimia, pula ini pisang ijo dan bukan eksperimen-kimia, kata kimia membuat saya bergidik.)  Kedua memakai daun bayam (bayangan saya bayam+pisang+gula+sirup+vanila=bikin neg, kemungkinan besar beracun). Ketiga memakai suplemen makanan yang berwarna hijau pekat yang saya curigai mengandung klorofil (tapi saya tak mau pisang ijo rasa obat, dan siapa tahu suplemen itu punya efek samping, melemahkan iman  semisal).</p>
<p>Saya mencoba melupakan pewarna hijau. Hijau tak bisa, coklat pun jadi. Saya ingat saya masih punya sekotak coklat bubuk sisa tiramisu tempo hari.  Jadi kali ini bukan pisang hijau melainkan pisang coklat, pikir saya sok kreatif.</p>
<p>Tapi saya benar-benar  melupakan satu hal:  tepung beras. Saya pikir pasti ada di AH. saya pengikut setia AH. Sebab selain dekat dan saya malas berbelanja jauh-jauh, di AH-XL selalu ada counter icip-icip, entah itu keju, daging, kue, dan seperti biasa setiap ada yang gratis  saya tak mau ketinggalan.</p>
<p>Tapi tepung beras tak ada di AH bahkan di departemen yang khusus menyediakan produk-produk Asia. Oh tidak, tak boleh terjadi. Saya menjelajahi seluruh supermarket, bertanya ke beberapa karyawan AH, dan akhirnya tadaaa! Tepung beras saya temukan dalam wujud…. makanan bayi.</p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_103" class="wp-caption alignleft" style="width: 201px"><em><em><img class="size-medium wp-image-103 " title="P1090732" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090732.jpg?w=191&#038;h=204" alt="P1090732" width="191" height="204" /></em></em><p class="wp-caption-text">makanan bayi</p></div>
<p><em> </em></p>
<p><em>So what?</em> Pokoknya tepung beras, kendati saat membuka kemasan saya mulai cemas sebab tekstur tepung beras a.k.a. makanan bayi itu ternyata kasar luar biasa dan terasa aneh di tangan.</p>
<p>Saya memulai membuat pisang ijo (coklat) idaman saya. Dimulai dengan fla. Tak ada masalah. Fla putih lembut menggelegak dan menebarkan aroma vanila. Beres fla, kini adonan kulit pisang. Tepung beras, garam, coklat bubuk, air, diaduk-aduk&#8230; Hmm, kenapa tak mau jadi adonan? Saya menambah tepung beras, tetap saja lunak dan lengket minta ampun. Ok, tambah lagi tepung beras… terus&#8230; terus. Tepung beras alias makanan bayi habis dan adonan belum bisa dibentuk. Saya mulai cemas dan kini memakai terigu sebagai ganti tepung beras. Adonan tak juga kalis. Mulai berimprovisasi. Mungkin dengan telur? Telur meluncur, satu dua tiga biji telur mendarat. Adonan masih juga lengket dan tak juga bisa dibentuk.</p>
<p>Saya menyerah. Adonan coklat menyeringai mengejek bagai monster lumpur buruk rupa di dasar panci.</p>
<p>Besoknya saya akhirnya memutuskan ke toko Nieuwe Wereld di bilangan Oude Rijn (untuk pertama kalinya). Pasta hijau beraroma pandan terpajang manis di sana. Tepung beras asli tergeletak pasrah di rak.  Sial, coba seandainya saya ke sini sejak kemarin….</p>
<div id="attachment_101" class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><img class="size-medium wp-image-101" title="P1090722" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090722.jpg?w=220&#038;h=165" alt="P1090722" width="220" height="165" /><p class="wp-caption-text">mahluk lumpur</p></div>
<div id="attachment_102" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><img class="size-medium wp-image-102 " title="P1090720" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090720.jpg?w=224&#038;h=168" alt="P1090720" width="224" height="168" /><p class="wp-caption-text">bandel tak mau dibentuk</p></div>
<p style="text-align:left;">
<p><strong>Metamorfosa Monster Pisang Ijo</strong></p>
<p>Malamnya saya kembali berkutat di dapur. Pisang ijo harus selesai sebelum hari terang tanah, begitu tekad saya (sedikit meniru tekad Bandung Bondowo saat mencoba mewujudkan syarat lamaran  putri Roro Jonggrang, yang akhirnya terperdaya oleh si putri lantaran si putri menitahkan penduduk untuk membakar jerami dan membunyikan lesung di ufuk ti… tunggu dulu, kenapa pula saya bercerita tentang Roro Jonggrang?)</p>
<p>Ok, kembali ke pisang ijo. Kulit terbentuk, dan kali ini sukses (menurut saya). Adonan terbentuk, tak lengket. Dan saya mulai membungkusi pisang Suriname dengan adonan hijau. Hasilnya, sama sekali tak indah. Si pisang terlalu besar (kini dengan baju hijau tebal telah menyamai ukuran telur burung maleo).</p>
<p>Bencana berikutnya (oh tidak!): saya tak punya pengukus yang cukup besar untuk empat telur burung maleo . Tak kehilangan akal saya menggunakan saringan logam di atas didihan air dalam panci. Tapi empat telur maleo tetap terlalu besar bahkan untuk saringan ekstra besar. Masih tetap tak kehilangan akal, saya gilir satu persatu telur maleo hijau. Tapi demi dewa penguasa dapur, hasilnya mengerikan. Kulit pisang hijau licin berkilat namun keras luar biasa.</p>
<p>Kali ini saya mati akal.</p>
<p>Saya biarkan telur-telur maleo hijau berlama-lama di atas saringan. Saya kehilangan semangat. Setelah mendingin, telur maleo saya potong-potong, berharap pisang yang mengintip bisa mempercantik penampilan. Yah, bolehlah. Sudah menyerupai pisang ijo. Tepatnya monster pisang ijo.</p>
<div id="attachment_108" class="wp-caption alignleft" style="width: 227px"><img class="size-medium wp-image-108 " title="P1090740" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p10907402.jpg?w=217&#038;h=164" alt="P1090740" width="217" height="164" /><p class="wp-caption-text">Sitti dan monster pisang ijo</p></div>
<div id="attachment_107" class="wp-caption aligncenter" style="width: 227px"><img class="size-medium wp-image-107 " title="P1090739" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p10907391.jpg?w=217&#038;h=162" alt="P1090739" width="217" height="162" /><p class="wp-caption-text">Sitti bergembira dengan monster pisang ijo</p></div>
<p style="text-align:center;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:left;">Fla yang sukses dan luberan sirup frambozen merah tak bisa menutupi rasa pisang ijo yang aneh. Keras dan tak matang di luar, dengan pisang yang juga ternyata masih keras meski telah dikukus. Apa boleh buat, saya tetap harus menghargai hasil jerih payah saya selama dua hari. Monter pisang ijo saya kuliti, kulitnya saya singkirkan jauh-jauh, dan saya hanya menikmati pisang kukus dan fla. Ya, Anda benar. Pisang ijo akhirnya bermetamorfosis menjadi pallubutung.</div>
<p style="text-align:center;">
<p>Tapi sudahlah, makanan harus dihargai. Saya menyantap metamorfosa pisang ijo pelan-pelan di depan teve sambil memelihara rasa penasaran bercampur dendam. Janji saya dalam hati, lain kali harus bisa, dan mesti berwujud pisang ijo yang sejati.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Leiden, 23:40</strong></p>
<p>Catatan:  akan halnya nasib si lumpur coklat, saya berupaya menyelamatkannya dengan memanggangnya dalam oven selama 40 menit, berharap si lumpur akan berubah menjadi semacam cake. Memang berubah menjadi cake… namanya cake rubber brownies atau kue coklat karet. Seiris cake ini bisa dikunyah sehari semalam (itupun jika rahang Anda cukup kuat), sangat cocok dibawa sebagai bekal bertahan hidup di hutan belantara atau di gurun pasir.</p>
<br />Posted in Jurnal Pribadi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=100&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2009/11/13/insiden-pisang-ijo-di-tengah-malam-yang-bikin-penasaran-atau-the-curious-incident-of-the-green-banana-in-the-night-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090730.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1090730</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090732.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">P1090732</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090722.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1090722</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p1090720.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1090720</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p10907402.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1090740</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/p10907391.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1090739</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerbau Putih dan Perempuan yang Membasuh Tubuh di Hari Subuh</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2009/11/01/kerbau-putih-dan-perempuan-yang-membasuh-tubuh-di-hari-subuh/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2009/11/01/kerbau-putih-dan-perempuan-yang-membasuh-tubuh-di-hari-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 19:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Putri Kusta Maka fajar yang dini dan lemah menciptakan bayangan serupa tinta hitam yang meruah di jalan setapak yang membelah hutan. Inilah hutan terindah yang bisa engkau bayangkan. Jalan setapak seumpama raga ular yang berkelok-kelok dipagari bentang pepohonan yang menjulang. Pepohon itu, adakah mereka lebih tua dari masa? Hitam pada batang-batang yang tegak lurus menuju [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=92&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-93" title="kerbau putih" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/white-cow-lo.jpg?w=600" alt="kerbau putih"   /></p>
<p><strong>Putri Kusta</strong></p>
<p>Maka fajar yang dini dan lemah menciptakan bayangan serupa tinta hitam yang meruah di jalan setapak yang membelah hutan. Inilah hutan terindah yang bisa engkau bayangkan. Jalan setapak seumpama raga ular yang berkelok-kelok dipagari bentang pepohonan yang menjulang. Pepohon itu, adakah mereka lebih tua dari masa? Hitam pada batang-batang yang tegak lurus menuju langit adalah sebenar-benarnya hitam. Tapi hijau paku dan liana yang membeliti pepohonan itu, juga adalah hijau yang paling hijau. Hitam yang kelam dan hijau yang menyegarkan. Kesepian dan kehidupan bersenyawa dalam ruang yang sama.</p>
<p><span id="more-92"></span></p>
<p>Ada bercak bunga-bunga putih merah yang mengintip di antaranya. Anggrek, anggrek yang teduh seperti noda yang indah di hamparan hijau dan kelam, mencengkeram tepi-tepi pepohonan, merangkak di dasar hutan pada bonggol-bonggol kayu yang mengejang sekarat. Di puncak pepohonan hampir tak ada warna langit yang mengintip. Sebab dedaunan telah ciptakan tabir, tangan-tangan raksasa yang menudungi mata dari matahari meski di siang hari. Jika kau mendongak maka yang terlihat hanyalah berkas-berkas sinar lembut, dan atap hutan seperti ditembusi tabung-tabung cahaya berwarna jingga.</p>
<p>Hutan selalu menjelma lukisan pada subuh seperti ini. Begitu banyak hari subuh yang menjelma lukisan telah lewat. Seratus, selaksa, tak terbilang. Tapi lukisan yang senja ini tak pernah lengkap tanpa dia, perempuanku, yang berjalan pelan menyusuri setapak yang berkelok.</p>
<p>Di setapak itu pada setiap ujung malam yang cair dan melarut kudapati ia. Perempuan yang melangkah perlahan seperti cermat menghitung langkah. Satu, dua, satu, dua…. Dengan wajah tertunduk kurasa ia mengamati kaki yang meluncur dari kain yang berdesir tersibak. Setiap langkah yang menjejak tanah selalu kubayangkan sekuncup bunga bakung tumbuh mekar, dan setapak yang kelam akan berhias putih bakung bersinambung. Tidakkah itu indah? Perempuan itu menghiasi setiap langkah dengan bunga di tanah setapak itu.</p>
<p>Engkau ingin tahu siapa perempuan indah yang menghiasi hutan setiap hari terang tanah? Dialah perempuanku, perempuan indah bertrah sempurna, penghuni rumah panggung bertiang empat belas beratap tingkap susun tujuh. Perempuan bangsawan dari segala bangsawan, mendiami rumah panggung di tepi hutan yang perawan.</p>
<p>Ya, di tepi hutan. Sebab meski berdarah murni bangsawan, ia menyimpan penyakit yang menakutkan. Penyakit yang membuat kulitmu bagai papir basah yang mengelupas rusak, Dan semurni apapun darah bangsawanmu, semulia apa pun derajatmu,  tak bisa menghadang dengus jijik dan ketakutan setiap orang, meski mereka sanak keluargamu. Tak bisa mengekang kekhawatiran, suatu saat penyakit itu akan berpindah ke diri mereka, ke diri orang banyak, dan semua orang akan  kehilangan keelokan sebagai manusia. Siapapun engkau, tentulah takut akan kulit wajah dan tubuh yang mengerut buruk dan naas. Nasib, nasib yang celaka tak terperi.</p>
<p>Aku menanggung nasib celaka yang lebih hina. Aku, lelaki  jelata dengan kusta yang nista. Terasing dalam hutan perawan, berumah di atas pohon, sebab aku pantang bersua manusia, sebab aku telah tercatat mati. Itu sumpahku pada mereka yang mengasingkan aku. Tak boleh ada perjumpaan dengan manusia, karena akulah kutukan yang buruk. Naaslah mereka yang berjumpa denganku. Naaslah pula bagiku, sebab itu berarti riwayatku harus berakhir. Lekas menghampir kutuk dewata terhadap orang yang melanggar ikrar pengasingan di depan para tetua adat. Seolah kutuk kusta bukan dari dewata, seolah aku bersalah mengundang setiap borok dan luka di sekujur tubuh!</p>
<p>Pada suatu titik kuanggap hidupku sebagai manusia terkutuk memang telah berakhir.</p>
<p>Sampai aku melihat perempuanku.</p>
<p>Ia perempuan bangsawan, berdiam dalam cengkraman kutuk yang sama. Tapi o, ia adalah perempuan mulia. Ia tak harus tersekap di kedalaman hutan, melainkan berumah di tepi hutan. Ia tak perlu repot memikirkan keperluan, sebab seorang utusan dari kotaraja akan mengantarkan segala yang ia butuhkan sekali sepekan.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Ialah sang perempuan yang memberiku hidup. Yang menghapus petanda-petanda buruk. Hutan perawan kini kuanggap rumah, dan ialah maharani tuan rumah dari segala yang hijau dan berbunga di hutan ini. Saat kutahu ia akan tinggal di sini, segera kuciptakan setapak ke arah sungai, sebab aku yakin ia akan mencari sungai untuk membersihkan diri.</p>
<p>Ia perempuanku. Pelukis setiap hari yang-beranjak mulai di hutan yang perawan ini. Di setiap subuh dengan cahaya yang menggeremang kulihat perempuanku melangkah. Engkau ingin tahu kenapa ia melangkah saat hari belumlah terang? Aku tahu jawabannya. Kuberi tahu engkau: ia tak mau ada manusia yang memergokinya, lalu mengenalinya sebagai putri bangsawan dengan kusta yang menggerayang….</p>
<p>(Tapi di hutan ini, tak ada manusia selain aku. Hanya ada jin, peri dan lelembut, mambang  dan jembalang bengis. Kesemuanya tunduk pada perintahku)</p>
<p>Ke sungai berair jernih tujuannya. Lalu ia akan meletakkan tumpukan kain salinan di atas bebatu, mencelupkan kaki pada jernih air, bergidik kedinginan, lalu tersenyum-senyum sendiri. O, adakah yang lebih indah selain perempuanku yang tersenyum di tepi sungai jernih dengan gemericik air berderai-derai, saat dini hari menggeliat bangkit?</p>
<p>Lalu ia akan membuka baju, bertelanjang, sebelum pelan-pelan melangkah masuk ke dalam air. Pelan-pelan, sebab kurasa ia tak ingin mengejutkan diri dengan dingin air sungai yang menggigilkan saat hari masih menjelang terang tanah. Tapi oi, seru sekalian alam bersamaku memuji karunia terindah yang bisa aku dapatkan: tubuh perempuan yang polos di tepi sungai dalam keremangan hutan yang senyap. Di balik kusta yang celaka itu aku bisa melihat dirinya yang sejati berkilau-kilau. Kusta itu hanya tabir tak kasat mata, perempuanku. Aku bisa melihat dirimu dalam rupa seindah-indahnya.</p>
<p>Ya ya. Lalu ia akan berendam, dengan kepala bersandar pada batu, dan mata yang terpejam-pejam. Lalu saat-saat yang kurasakan sebagai keberuntungan, akan ada senandung pelan saat ia membersihkan diri.</p>
<p>Kadang-kadang kulihat ia tertegun-tegun, menyusuri setiap lesi kusta di sekujur tubuh. Adapula kala dia menangis, dan aku hanya bisa terpaku di balik gelap belukar. Isak yang lirih, sedu sedan samar. O perempuanku, tahukah engkau kusta kita memang celaka, tapi kau tetaplah perempuan yang indah, manikam segala keindahan…</p>
<p>Ia akan membasuh tubuh sampai hari yang subuh menjelang usai. Sesudahnya ia bangkit dari sungai, dan cahaya matahari yang menguat membuat tubuhnya yang bugil berkilat-kilat. O o segala keindahan dunia, segala perhiasan alam, cemburulah engkau pada perempuanku….</p>
<p>Lalu ia mengenakan pakaian, tanpa terburu, tak sadar ada sepasang mata yang menikmati jenak demi jenak, saat demi saat. Saat usai berpakaian, kegelapan di hutan ini telah nyaris singkap penuh, dan ia akan berjalan pulang, dan dalam pandanganku berangkai bunga bakung timbul bermekaran dari tiap jejak langkahnya….</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kerbau Putih</strong></p>
<p>Aku mengenali setiap jengkal hutan seperti aku mengenali tubuhku sendiri. Kerbau putih bukan penghuni hutan ini.  Ia yang yang tiba-tiba datang membuatku bertanya-tanya: gerangan siapa yang melepas ternak di tepi hutan ini?</p>
<p>Ini bukan sembarang hutan. Inilah hutan terangker, kerajaan segala jin, negeri para mambang dan jembalang, tempat siluman dan peri buas beranak pinak. Itu pula yang membuat mereka mengasingkanku di sini, berharap oleh angker hutan ini, kutuk akan mati bersamaku. Tak mungkin seorang gembala melepas kerbau di tempat seperti ini.</p>
<p>Tapi kerbau putih itu tampaknya bukan sembarang kerbau. Kerbau putih seputih kapas, dan dalam gelap penghujung malam ia seperti berpendar. Ada alur bersinar keemasan pada tanduknya yang lengkung dan cuat.</p>
<p>Kerbau itu duduk melingkar, di bawah pohon paling besar, dekat sungai, tepat di akhir setapak, dekat sungai. Ia tak menyingkir saat aku mencoba mengusirnya.</p>
<p><em>Shuh, Menjauh! Perempuanku sebentar lagi akan lewat, jangan buat ia terperanjat!</em></p>
<p><em>Shuh, Menjauh!  Ini jalan tempat ia melintas, jangan merintang</em><em> </em><em>bangunlah lekas!</em></p>
<p><em>Shuh, Menjauh! lihat, lihat! Subuh datang menghampir! Engkau tak juga minggir!</em></p>
<p>Tak juga ia beranjak. Malah menatapku dengan sorot aneh, seolah aku lancang menyuruhnya pergi.</p>
<p><em>Shuh, Mejauh! Jangan buat aku murka!  Ini rimba tempatku berkuasa, di sini aku raja tanpa singgasana, menyingkir jika kau masih sayang nyawa!</em></p>
<p>Si kerbau menatap malas, lalu pelan mengibaskan ekor. Tak peduli pada kemarahanku. Sementara penghujung malam mendekati habis. Fajar akan datang menghampir. Dan terlambat! Subuh telah datang. Dari setapak, terdengar desir langkah. Perempuanku telah datang, dan si kerbau busuk masih saja duduk menghadang.</p>
<p>Perempuanku kini benar-benar datang (dalam pandanganku jejak langkahnya masih saja menumbuhkan gerumbul bunga bakung). Sejenak ia memicingkan mata, hendak mengenali mahluk apa yang mendekam di bawah pohon tepat di akhir setapak. Pelan-pelan ia bersijingkat mendekat. Sementara si kerbau menatap acuh tak acuh. Aku menyiapkan busur dan panah, bersiap menghabisi kerbau jika ia menyerang perempuanku.</p>
<p>Tapi si kerbau tetap duduk bergeming, hanya sesekali mengibaskan ekor, tak hirau pada perempuanku yang mendekat mengendap-endap. Aku terus berjaga dengan busur dan panah. Kerbau putih keras kepala itu jangan sampai menyakiti perempuanku.</p>
<p>Sampai perempuanku tersenyum, seolah maklum bahwa mahluk dihadapannya hanya seekor binatang peliharaan. Aku melihat tangannya terjulur mengelus kepala kerbau putih, dan si kerbau hanya meneleng, membiarkan tangan perempuan menjamah dan mengusap tanduknya. Dalam temaram, kulihat mata kerbau itu terkatup. Bagai meresapi dan menyesapi setiap belaian….</p>
<p>Gendewa di tanganku mengendur. Sungguh, betapa aku ingin menggantikan kerbau putih itu!.</p>
<p>Perempuanku berlanjut ke sungai, meneruskan langkah. Lalu pemandangan terindah kembali menghampar, perempuanku kini berendam, bersandar di batu dengan mata-mata terpejam-pejam.</p>
<p>Lalu kudengar dengus napas. Si kerbau putih, beranjak pelan-pelan, melangkah, mendekati sungai. Mau apa dia?</p>
<p>Perempuanku, masih bersenandung pelan, tak sadar kerbau putih telah mendekat, menatap ia yang masih pejam dengan tubuh terbenam riak air.</p>
<p>Aku tak tahu apa yang bakal terjadi. Maka busur kembali kurentangkan, gendewa menegang dan kencang, siap menadah segala kemungkinan. Sementara dadaku berdebur keras. Aku tahu, meski sesuatu terjadi, aku tetap tak boleh menampakkan diri, sebab kutuk dari langit akan melesat turun memutus nyawaku.</p>
<p>Tapi apa yang akan dilakukan oleh si kerbau putih?</p>
<p>Perempuanku membuka mata. Jika ia menjerit maka anak panah akan meluncur, dan kerbau putih akan terguling dengan leher tertembus panah. Anak panah yang akan menghabisi nyawa si kerbau sekaligus membuka keberadaanku.</p>
<p>Tapi tidak, tak ada jeritan. Perempuanku tersenyum, mengulurkan tangan, mengusap moncong si kerbau. Si kerbau bagai terjinakkan, membiarkan moncongnya terjamah. Lalu melangkah kian mendekat hingga keempat kakinya menyentuh air. Kerbau putih turut turun ke sungai.</p>
<p>Dengan gendewa tegang terentang, aku menunggu kerbau bertindak keliru. Aku hanya butuh satu alasan untuk melepaskan anak panah yang terbidik.</p>
<p>Sekonyong-konyong si kerbau mendekatkan kepala, kian dekat, menjilat wajah perempuanku. Anak panah kini hanya tertahan oleh jepit jariku.  Si perempuanku, bangsawan terhormat dan mulia, hanya tertawa kecil, terjilat oleh lidah kerbau putih.</p>
<p>Kerbau putih terus menjilat, dan perempuanku hanya tertawa-tawa kecil, seperti geli, seperti menikmati…</p>
<p>Busur masih bersiaga, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Kerbau yang menjilati wajah perempuanku, haruskah ia kumusnahkan?</p>
<p>O o, tak cuma wajah. Kini jilatan berpindah ke leher. Perempuanku menggelinjang, dan wahai, mengapa ada desah tertahan yang terhela? Mengapa ada mata yang terpejam-pejam? Perempuanku kini setengah duduk bersandar pada batu, dan kerbau putih masih terus menjilati. Lalu erang samar dan lirih perempuanku, membekukan segenap daya,  membuat tanganku tak mampu lagi merentang gendewa.</p>
<p>Ada apa ini? Perselingkuhan hewan dan manusia? Lihat, lihat gelinjang itu! Perempuanku menggelinjang, kini malah setengah bangkit, agar lidah si kerbau leluasa menjelajah, kini ke dada yang telanjang, berlama-lama di sana, ke perut, ke punggung, kaki… inikah persetubuhan ganjil yang terkutuk oleh dewata? Libat birahi  dua mahluk…. tak semestinya! Tak sewajarnya!</p>
<p>O o, demi segala mambang penghuni hutan ini! Segala kemarahan surut beriring daya. Gendewa mengendur. Busur tak lagi terentang mengancam. Di sana di tepi sungai seekor kerbau putih tengah menjilati perempuanku, perempuan bangsawan, yang kini mendesah-desah sepenuh geliat….</p>
<p>Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kuputuskan untuk menyingkir dari tempat itu, menyingkir dari pemandangan nista seorang perempuan kusta, bangsawan dan terhormat, telanjang dan terengah-engah penuh birahi, terjilat habis oleh seekor kerbau putih.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Perempuan itu, kini ia telah pergi.</p>
<p>Dan waktu berlepasan dari simpul, memanjang dan melebar, hanya bertanda dari petang ke petang. Setelah pertemuan dengan kerbau putih itu, tak kudapati lagi jejak perempuan bangsawan. Setiap subuh berlalu meninggalkan rasa ngilu, tanpa desir langkah di setapak sepanjang hutan. Tak ada lagi lukisan hutan yang indah, telah punah bebayang bunga bakung yang bermekaran, benam sudah puncak keindahan di tepi sungai. Senandung pelan,  sedu samar dan isak lirih silam dan bungkam. Perempuan itu bukan lagi perempuanku,  kini telah pergi…</p>
<p>Rumah di tepi hutan kini tak berpenghuni, diraja dan dilingkup gelap di malam hari, sebab tak lagi ada nyala pelita yang menyuluh. Sang perempuan telah pergi dan rumah itu dirubuhkan, dan kabar  kudengar dari percakapan para utusan kota raja yang merubuhkan rumah. <em>Perempuan bangsawan pemilik rumah, bangsawan, mulia lagi terhormat, kini terbebas dari kutuk kusta dan dipersunting lelaki dari istana!</em></p>
<p>Sebab aku hanyalah lelaki jelata dengan kutuk,  sebab aku selibat dengan hutan tanpa manusia, maka aku tak mau terlampau kecewa. Peristiwa kerbau putih pula mencelikkan aku tentang perempuan, yang bertrah sempurna, yang bangsawan dan terhormat, yang takluk pada birahi seekor kerbau putih. Meski kadangkala saat angin berhembus, dan gerisik dedaun perdu menimbulkan suara seumpama desir langkah di hari subuh, aku kembali teringat padanya. Lalu aku akan ke sungai, mencoba menghidupkan ingatan tentang seorang perempuan yang membasuh tubuh di hari subuh…</p>
<p>Angin yang sama pula yang menghembuskan tajam aroma bangkai.  Di sana, nun di bawah pohon besar di akhir setapak yang tak lagi indah, kerbau putih tergeletak, dengan mata beliak dan leher koyak. Letik belatung yang mulai bermunculan dari jasad yang lama membusuk, bukti dendamku yang tunai. Sebab aku lelaki yang kehilangan perempuan, telah kubantai kerbau putih yang merampas perempuanku.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Amsterdam, Oktober 2005</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan </strong></p>
<p>* Dari legenda <em>Arung Masalauli’e</em> (Putri Bangsawan Berpenyakit Kulit) dari tanah Bugis. Alkisah seorang putri bangsawan berpenyakit kulit hidup dalam pengasingan. Putri bangsawan ini kemudian sembuh oleh jilatan <em>tedong puleng</em> (kerbau albino). Di akhir cerita (laiknya kisah Cinderellaistik), si  putri bertemu dengan  pangeran dan ‘hidup bahagia selamanya’.</p>
<br />Posted in Galeri Kisah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=92&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2009/11/01/kerbau-putih-dan-perempuan-yang-membasuh-tubuh-di-hari-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/11/white-cow-lo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kerbau putih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Mulia Berumah Di Surga (Bagian 1)</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/30/wanita-mulia-berumah-di-surga-bagian-1/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/30/wanita-mulia-berumah-di-surga-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 16:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[1. Mariana Bangkit dari Kubur Tepat pada malam hari keempat puluh tujuh, saat dunia tengah berharap-harap cemas menanti kabar terakhir dari Paus yang tengah gering, Mariana memutuskan untuk bangkit dari kubur. Ia menyingsingkan kafan penutup tubuhnya, lalu mulai merangkak naik. Mariana menjebol kuburannya sendiri dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Lantas adegan yang tercipta saat tanah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=79&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-80" title="_Angel____Freedom" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/10/angel____freedom.jpg?w=600" alt="_Angel____Freedom"   /></p>
<p><strong>1. Mariana Bangkit dari Kubur </strong></p>
<p>Tepat pada malam hari keempat puluh tujuh, saat dunia tengah berharap-harap cemas menanti kabar terakhir dari Paus yang tengah gering, Mariana memutuskan untuk bangkit dari kubur. Ia menyingsingkan kafan penutup tubuhnya, lalu mulai merangkak naik. Mariana menjebol kuburannya sendiri dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Lantas adegan yang tercipta saat tanah kuburan yang telah bertembok tiba-tiba bengkah berbarengan dengan amblasnya nisan ke dalam tanah,  semestinya hanyalah ada dalam film-film horor lokal. Tapi ini bukan adegan dalam Sundel Bolong di mana seorang perempuan hamil yang tewas penasaran bangkit untuk menuntut balas. Sama sekali bukan. Ini adalah kebangkitan dari kubur seorang perempuan yang tidak sedang mengandung saat meninggal, meski beberapa minggu lewat baru saja melahirkan janin beku dan biru. Ini kematian seorang perempuan terhormat, seorang istri dan ibu teladan. Kematiannya wajar dan jamak serupa kematian ahli-ahli fikir. Ia tidak mati penasaran. Ia mati sesuai dengan prosedur baku. Sakit, sekarat dan mati. Di ujung hayatnya, ia meninggalkan petuah dan nasehat untuk suami dan kelima anaknya. Ia mangkat secara baik dan benar.</p>
<p><span id="more-79"></span></p>
<p>Makam yang telah tertembok rapi dan bagus itu pun jebol berantakan bagai termeriam. Mariana melayang naik,  kini telah berdiri di samping makamnya sendiri. Sejenak ia merasa sayang telah menjebol kuburannya yang apik dan permai. Pasti mahal, pikir Mariana. Kak Saut pasti telah banyak mengeluarkan uang untuk kuburannya. Lihatlah,  marmer merah jambu yang kini bersisa puing. Merah jambu warna kesukaannya, Kak Saut tahu itu. Dan ada sesuatu yang terukir di pelat pada batu nisannya yang kini terguling.</p>
<p>Ia mendekat, berlutut, membalik nisan yang terguling. Ia dapati nisannya berukir epitaf indah keemasan. Deretan huruf yang seketika membuatnya terharu biru.</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Terbaring dengan tenang, istri tercinta dan ibu terkasih</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Wanita mulia yang  berumah di surga </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Mariana</em><em> AS</em><em> </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Lahir 1 Januari 1968</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Wafat 14  Februari  2005</em></p>
<p>Maka Mariana merasa dadanya menghangat. Lihatlah, lihat. Kak Saut tak melupakannya. Kak Saut mencintai dan memuliakannya. Epitaf indah ini adalah buktinya. Maka kelirulah engkau wahai malaikat penjaga kubur!</p>
<p>Ada yang berdesir di belakangnya. Mariana berbalik. Di bawah cahaya bulan ia dapati si malaikat penjaga kubur mengapung dan  berpendar di atas sebuah makam. Dengan sepasang sayap serupa dua bentang kepak angsa (putih lembut demikian bercahaya!), si malaikat tampak teduh dan indah. Mariana menelan ludah sebelum berujar. “Aku rasa kau keliru.”</p>
<p>Si malaikat melayang mendekat tak menjejak. “Jangan bilang kau berubah pikiran, Mariana.”</p>
<p>“Tapi lihatlah,” Mariana menuding makam dan nisannya yang porak poranda, “suamiku jelas mencintaiku. Sebab untuk apa ia membangun nisan merah jambu kalau bukan karena cinta untukku?”</p>
<p>“Karena sebentuk makam dan nisan merah jambu kau pikir suamimu benar mencintaimu?”</p>
<p>“Tulisan di nisan itu….”</p>
<p>Si malaikat tertawa. Sayapnya terguncang-guncang. Beberapa lembar bulu putih melayang jauh dan lenyap menjadi cahaya yang sebentar.</p>
<p>“Mariana, Mariana. Semikian percaya engkau pada suamimu? Tidakkah engkau mengingat segala hal yang kita bicarakan bersama saat kau masih di liang kubur?”</p>
<p>“Aku ingat, tapi kau bisa saja keliru.”</p>
<p>“Aku boleh keliru. Tapi waktu itu kau sendiri juga mulai sangsi. Kau sendiri yang memutuskan untuk bangkit dan membuktikan semua ucapanku. Aku hanya memberimu tawaran. Ingat itu.”</p>
<p>Mariana terdiam. Empat puluh tujuh hari yang lalu saat upacara pemakamannya telah usai, ia ingat saat itu berbaring dalam liang lahatnya dengan harap-harap bahagia. Ia telah mangkat, dan ia bisa mendengar bunyi terompah para pelayat satu persatu beranjak meninggalkan makamnya. Lahat yang gelap tak buatnya cemas. Keyakinannya membuatnya penuh percaya diri menghadapi alam kubur. Ia seorang hamba yang baik dan Tuhan pasti kasih padanya. Ia tak pernah lupa bersembahyang. Ia berusaha tak menyakiti orang lain atau mahluk lain. Jika pun ia alpa dan hilaf, sebisa mungkin ia akan beroleh maaf dari sesiapa yang ia sakiti. Tapi di atas segalanya ia adalah istri dan ibu yang baik. Kak Saut selalu memujinya sebagai istri yang saleh dan taat.</p>
<p>Kata Kak Saut, ia adalah istri yang sempurna. Istri yang baik adalah istri yang senantiasa taat dan berbakti pada suami, mendidik anak, menjaga kehormatan diri, memelihara kerukunan dan keharmonisan rumah tangga, dan sebisa mungkin dengan sekuat tenaga berusaha menyenangkan suami.</p>
<p>Taat berbakti dan berusaha menyenangkan suami ternyata berkonsekuensi pada banyak hal. Mariana sadar benar itu. Tapi cinta Tuhan ada pada cinta suami. Mariana ingat, suaminya selalu berkata bahwa seandainya tak terbentur pada dosa sirik, Tuhan akan perintahkan para istri untuk bersujud dan menyembah suami. Selama hidup Mariana berupaya sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang baik, istri yang sempurna, menyenangkan, dan dikasihi suami. Maka Tuhan pun akan kasih padanya. Mariana masih mencamkan semua itu saat berbaring dalam kegelapan liang lahat menunggu tibanya para malaikat. Menanti, dengan ketenangan seorang hamba yang saleh.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Lalu saat sesosok malaikat itu (Mariana tak habis pikir sebab setahunya mereka harus datang berdua) datang mengambang dan lahat tiba-tiba melapang, Mariana terpesona beberapa saat oleh keindahan rupa sang malaikat. Tapi ia sadar dan  telah bersiap.  Inilah masa tanya jawab dan Mariana telah bersiap dengan segenap kunci jawaban.</p>
<p>Cepat lugas ia jawab segala pertanyaan dengan tuntas. Persis seperti yang dibayangkannya. Segala jawab atas pertanyaan telah berada di ujung lidahnya dan hanya perlu meloncat keluar saat pertanyaan datang mengundang. Si malaikat mengangguk-angguk, berdehem sejenak, lantas kemudian melayang berputar mengelilinginya.</p>
<p>“Sempurna.”</p>
<p>Mariana tersenyum puas. Mengucap syukur dalam hati.</p>
<p>“Tapi kita lupakan pertanyaan-pertanyaan bodoh tadi. Aku penat harus menanyakan hal yang sama berulang-ulang pada setiap yang mati. Menjemukan!”</p>
<p>Mariana, perempuan saleh yang kini mangkat, terkesiap. Ini tak ada dalam referensinya. Tak pernah diketahuinya ada malaikat yang mengaku bosan. Bukankah telah menjadi tugasnya? Bukan malaikat adalah mahluk yang paling taat? Bukankah mereka maksum dan suci…</p>
<p>“Ya, ya, ya. Aku tahu apa yang ada dalam dipikiranmu. Bahwa kami diciptakan tanpa cacat dan selalu penuh pengabdian. Bahwa kami serupa robot dengan program maha sempurna,” Si malaikat tertawa kecil, berputar lagi, menatap Mariana yang melongo. “Tapi sudahlah. Sekarang lebih baik kau ceritakan tentang hidupmu. Hidup kamu sendiri.”</p>
<p>“Hidup saya?”</p>
<p>“Ya. Hidup kamu. Tepatnya, apa yang telah kau lakukan dalam hidupmu.” Si malaikat menatap Mariana tepat di manik matanya.</p>
<p>Mariana mengerutkan kening. Lagi-lagi tak pernah terlintas dalam benaknya pertanyaan semacam itu akan terarah padanya di alam kubur. Tapi ia menurut juga. Terbata-bata ia bercerita. Dalam sendat ia katakan jika ia adalah ibu yang baik. Berusaha ia utarakan kalau ia adalah istri yang sempurna tanpa cela. Ia patuh pada suami tanpa prasyarat, tanpa pamrih. Ialah istri dan ibu dengan huruf kapital dan tanpa kesalahan besar.</p>
<p>Si malaikat mengangguk-angguk. “Apa lagi?” tanyanya.</p>
<p>Mariana menelengkan kepala. Apa lagi? Apa lagi? Cuma itu. Ya, cuma itu. Mendadak ia tersadar jika kisah hidupnya hanya berkisar dan terhenti pada hal yang itu-itu saja. Menjadi istri dan ibu yang baik. Kisah hidupnya terangkum hanya pada beberapa kalimat sederhana, betapa ia adalah pengabdi yang baik bagi keluarga. Mariana diam-diam merasa gamang.</p>
<p>“Sudah selesai,”  katanya terus terang.</p>
<p>Si malaikat mendengus tiba-tiba. “Hanya itu? Kau berpikir itu sudah cukup?” Ia melayang berputar  mengelilingi Mariana.</p>
<p>“Tapi bukankah itu yang tertera di kitab suci? Juga ujaran-ujaran itu? Bukankah Tuhan menginginkan hal seperti itu? Bahwa seorang istri harus patuh pada suami? Cukup dengan itu dan ibadah kepada Tuhan pintu surga melapang untuk wanita?” Mariana berputar mengikuti malaikat yang mengapung berkitar.</p>
<p>Si malaikat tertawa melengking. Sayapnya berkepak-kepak. Cahaya berkeredapan di mana-mana oleh bulu-bulu yang berjatuhan dan melenyap.</p>
<p>“Mengapa? Mengapa segalanya harus terserah suamimu? Mengapa menghambakan hidupmu hanya pada suamimu? Engkau juga manusia, sama seperti suamimu. Tidakkah engkau juga punya kehidupan, cita-cita, impian?”</p>
<p>“Hidup saya adalah mengabdi pada suami dan keluarga.” Mariana bersikukuh.</p>
<p>“Dan siapa yang mengatakan harus seperti itu?”</p>
<p>“Aku mau seperti itu….”</p>
<p>“Benar?”</p>
<p>Mariana tergeragap sebelum menjawab. “Y-ya, ya. Pula di kitab suci, sabda orang-orang suci…”</p>
<p>Si malaikat mengibaskan tangan dengan tampang jemu. “Aku tidak bertanya tentang apa yang kau baca atau dengar, atau apa yang kau percaya. Aku tanyakan apa yang kau mau.”  Si malaikat menggamit udara, dan sekonyong-konyong di tangannya tergeber sebuah kitab besar. Si malaikat membuka lembar demi lembar dengan rupa tak sabar.</p>
<p>“Di sini dikatakan, kau tak boleh ke luar rumah tanpa seizin suamimu. Benar begitu?”</p>
<p>“Ya, tapi….”</p>
<p>“Kau punya beragam keterampilan. Kau dahulunya seorang guru.”</p>
<p>“Ya. Tapi saya memutuskan untuk menjadi guru bagi anak-anak saya sendiri.”</p>
<p>“Tapi kau sering merindukan murid-muridmu. Benar, kan?”</p>
<p>Mariana terdiam.</p>
<p>“Lalu kau tak boleh menerima tamu lelaki tanpa seizin suamimu. Benar begitu?”</p>
<p>“Tentu saja. Tapi…”</p>
<p>Si malaikat memintas tak sabar. “Lalu kau juga harus mengatakan iya terhadap hasrat suamimu, sebab adalah kewajiban untuk tunduk terhadap gairah suami, benar begitu?”</p>
<p>Mariana merapatkan geraham. Ia tersinggung. Pikirnya, masalah tempat tidur tak semestinya diseret masuk.</p>
<p>“Juga kau tak boleh memakai kontrasepsi lantaran suamimu melarang, meski kau telah punya anak lima dan kau punya penyakit yang membuat setiap kehamilanmu bagai sebuah perjudian dengan  maut?”</p>
<p>Mariana bungkam. Ia ingat bayinya yang biru. Ia ingat betapa ia harus terus menerus hamil dan melahirkan. Demi umat, kata Kak Saut. Ia ingat olok-olok tetangga yang mengatakan dirinya bagai pabrik bayi.</p>
<p>Si malaikat menatap Mariana. Pandangannya mengendur dan berubah iba. “Mengapa semua harus terserah suamimu? Bahkan tubuhmu sendiri pun bukan lagi milikmu. Mengapa? Mengapa nasib dan bahkan keinginanmu tak lagi sepenuhnya menjadi hakmu? Engkau manusia, dengan segenap keluhuran dari Tuhan. Tak pantas menjadi budak suamimu, budak segala perangkat aturan, sampai menistakan harkatmu sendiri.”</p>
<p>Mariana mulai kesal. Sesaat lenyap segala kekagumannya pada rupa si malaikat.  “Kamu,” tudingnya, suaranya meninggi mendekati ambang tangis. “Malaikat atau iblis? Kenapa segala yang kau katakan menyalahi aturan baku?!”</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Di tepi makam yang poranda, Mariana tercenung. Ia ingat, percakapan panjang dan panas dalam lahat berujung pada keputusan bahwa ia harus bangkit dari kubur dan menemui suaminya. Lewat interogasi oleh si Malaikat, ia harus bangun dari kematian, untuk mendapati kenyataan. Kata si Malaikat, kehidupannya habis tercuci oleh suaminya dan ajaran-ajaran untuk kepentingan suaminya. Saut suaminya tanpa lelah menyuapinya dengan segala macam ajaran untuk melestarikan kepatuhannya sebagai seorang istri. Ia adalah istri tapi juga boneka bagi Saut, suami sekaligus pemilik, dan saatnya ia harus menuntut apa yang ia dapat dari  termiliki dan kepatuhan sepanjang hayat.</p>
<p>Untuk itu ia harus bangkit. Dan dengan karunia kekuatan dari si Malaikat, telah ia jebol lahat berikut tembok makamnya. Kini di bawah kerlip bintang dan gelap langit, Mariana berdiri di tepi makam dengan tubuh telanjang.</p>
<p>“Mariana, kau harus pergi sekarang.” Si Malaikat mendekat dengan sorot mata ganjil, separuh iba separuh penuh tekad. “Temui suamimu, di selatan kota tepat di perbatasan. Ada villa di sana.  Dengan karunia dariku kau bisa tiba di sana secepat yang kau mau. ”</p>
<p>“Aku ingin pula menemui anak-anakku.”</p>
<p>“Tak bisa. Kebangkitanmu bukan untuk anak-anakmu. Tapi untuk segala hutang piutang hidupmu. Temui suamimu. Dan perkara hidupmu akan terang benderang.”</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Dan di sinilah Mariana. Berdiri di depan pagar villa di luar kota. Tangannya mencengkeram besi teralis pagar. Gembok pagar telah ia retaskan sejak tadi. Ia lihat mobil Saut suaminya parkir di depan gerbang. Sejenak kerinduan pada suaminya membuatnya tertegun-tegun. Kata si malaikat, suaminya ada di dalam. Kata si malaikat, ia akan menemukan kenyataan yang sebenarnya.</p>
<p>Ada yang bergerak di balik tirai di ruang tamu. Itu Kak Saut, suaminya. Sedang berbicara dengan seseorang. Tengah malam begini?</p>
<p>Mariana memicingkan mata. Sosok suaminya yang tengah berbicara dengan seseorang di ruang tamu membuatnya urung mendorong pintu pagar. Mariana memicing, penglihatannya ia lipatgandakan,  menembus tembok dan tirai.</p>
<p>Di ruang keluarga ia menyaksikan Saut suaminya tengah duduk, demikian rileks dan seorang perempuan duduk di di sampingnya. Malam-malam begini Kak Saut menerima tamu perempuan? Mariana yakin perempuan itu bukan sanak famili suaminya. Ia tahu seluruh sanak famili suaminya. Lantas mengapa ia ada di situ?</p>
<p>Mariana melihat suaminya mengangguk-angguk sambil berdehem-dehem.</p>
<p>“Kita toh tidak perlu terburu-buru.”</p>
<p>“Tapi kapan? Aku cuma minta waktu yang pasti.”</p>
<p>“Sabarlah. Tunggu sampai anak-anak mengerti.Mereka…”</p>
<p>“Tugas Kakaklah yang membuat mereka mengerti.” Si perempuan memintas cepat.</p>
<p>Di luar, dalam kegelapan malam, Mariana semakin penasaran. Perempuan itu memanggil suaminya dengan sebutan Kakak. Tapi siapa dia?</p>
<p>“Aku tak enak pada keluarga mendiang istriku.”</p>
<p>“Bukankah kau kini bukan bagian dari mereka? Bahkan dulu, kau pernah berpikir untuk mengawiniku dan saat itu istrimu masih ada. Kata Kakak, beristri rangkap tak dilarang…”</p>
<p>“Ya, ya, Tapi…”</p>
<p>Kata Kakak waktu itu, Kakak akan membujuknya. Kata Kakak, Kakak bisa beralasan kalau Kakak tak puas dengan dia, dan berkehendak mengambil aku sebagai istri lain. Kata Kakak lagi, istri Kakak pasti akan mengijinkan. Sekarang saat ia sudah tak ada, apa lagi yang kau tunggu? Aku capek main belakang terus-terus. Sudah tiga tahun! Sudah tiga tahun, Kak!”</p>
<p>“Tapi kau istriku….”</p>
<p>“Iya, tapi disembunyikan terus mene…”</p>
<p>“Dengar, dengar! Kau istriku. Dan kau telah kunikahi. Akad telah kuikrarkan. Pernikahan kita halal. Cukuplah Tuhan jadi saksi. Sebagai suami telah kupenuhi segala kewajibanku. Kau tak kekurangan sandang pangan papan. Rumah ini kubangun untukmu. Jadi diam dan bersikaplah sebagai istri yang baik!”</p>
<p>Beberapa saat si perempuan benar-benar terdiam. Lalu berujar lirih, “Aku cuma ingin Kakak mau membawa saya ke keluarga Kakak, ke orang-orang, memperkenalkan saya sebagai istri Kakak. Tidak terus menerus sembunyi dalam status sebagai istri simpanan.” Perempuan itu mulai terisak.</p>
<p>Di luar Mariana terpana dengan perasaan koyak. Jadi inilah kenyataan itu! Kepasrahan dan kepatuhannya terbayar dengan penghianatan. Ia merasakan dadanya ngilu. Telinganya berdenging. Mariana nyaris terduduk oleh tungkai yang mendadak lemah. Teralis kian tercengkeram kuat, kini sebagai penopang. Di dalam di lihatnya suaminya merentak bangkit, sejenak berujar pada si perempuan yang terduduk diam sembari mengusap mata.</p>
<p>Kini ia melihat suaminya melangkah keluar dan berjalan terburu-buru. Ia melayang,  menyembunyikan diri dalam gelap rimbun perdu tetamanan di pekarangan.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Dalam terpaan gerimis, Saut melangkah terburu-buru. Sepatunya berjibaku dengan kecibak air di pekarangan. Jika tak  ada halangan berarti dua puluh menit lagi ia akan tiba di sisi lain kota, tempat seorang perempuan lain menunggu. Ia tersenyum kecil. Perempuan selalu terlalu mudah diperdaya.</p>
<p>Sesuatu bergetar dalam saku bajunya. Ia merogoh ke dalam. Sejenak melihat ke layar telepon selulernya. Tersenyum sejenak lantas mendekatkannya ke telinga.</p>
<p>“Ya. Sebentar lagi aku ke sana.”</p>
<p>“Kamu di mana?”</p>
<p>“Di rumah.” Ia tersenyum.</p>
<p>“Cepat ya? Aku kangen nih,  Yang.”</p>
<p>Ia tersenyum. “Aku juga kangen, Sayang. Sampai nanti.”</p>
<p>“Mmmuach!”</p>
<p>Telepon dimatikan. Tapi senyum di bibirnya masih terpasang. Puas separuh geli. Ia kembali melangkah dan senyum itu seolah meningkahi gegas sol sepatunya  menerpa genangan air. Tapi senyumannya itu lenyap seketika, saat Mariana mendadak melayang muncul dengan kemarahan meluap. Dan jeritan kengerian tak terperi urung membahana, terhenti di tenggorokan, saat tangan Mariana terulur menjemput lehernya.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Hujan berguntur dan pekat belukar menyembunyikan Mariana yang tengah berjibaku dengan tanah. Mariana menggali bagai kesetanan. Hujan membuat tanah gembur dalam hutan bagai adonan raksasa dengan sepasang lengan Mariana sebagai pengaduk. Mariana terus menggali, mengeduk, mengubur, menimbun, dengan wajah basah oleh hujan dan air mata. Saat sebuah makam selesai berbarengan hujan yang mereda,  langit hanya menyisakan rinai dan guntur.</p>
<p>Kesumat telah lunas. Mariana menyeka wajah, menghapus air dan airmata. Lumpur dan tanah menggambari wajahnya. Selesai sudah. Di atas makam nisan kayu ia tancapkan sepenuh tekad, menembus jauh, jauh  ke dalam, hingga terdengar bunyi gemeretak. Ia pastikan nisan kayu itu menghujam deras menembus badan Saut suaminya nun di dalam liang.</p>
<p>Nisan kini terpasang kokoh meski oleng. Mariana bisa membayangkan tubuh suaminya terbaring dalam timbunan tanah dengan nisan menancap di dada, dan darah yang mengalir keluar bersenyawa dengan tanah.</p>
<p>Selesai semua.</p>
<p>Lantas ia melayang pergi.</p>
<p>Dini hari itu, saat dunia terhenyak menerima kabar kematian Paus, dalam hutan terkucil di pelosok hutan yang penuh belukar beronak, dengkung kodok dan lolong serigala, dengan tangan sendiri Mariana telah tuntas mengubur Saut suaminya. Hidup-hidup.</p>
<p>Sesudahnya, dalam beberapa bulan, di  dusun-dusun sekitar hutan, ramai kabar angin berhembus tentang temuan sebuah makam di tengah kelebatan hutan. Makam dengan jasad lelaki tanpa kafan terkubur serampang. Makam dengan nisan kayu terpacak sembarang. Pada nisan kayu tergores tulisan:</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Telah terkubur di sini</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Lelaki bajingan tak berhati</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Layak dikubur dalam makam tanpa nama</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dalam hutan dengan kawanan srigala…</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Makassar-Amsterdam, April 2008</strong></p>
<br />Posted in Galeri Kisah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=79&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/30/wanita-mulia-berumah-di-surga-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/10/angel____freedom.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_Angel____Freedom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asu Panting</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/29/asu-panting/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/29/asu-panting/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 21:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Ia berumur tujuh tahun saat pertama kali ia mendengar tentang dongeng Asu Panting. Saat itu ia benar-benar takjub dan terpesona. Ia mendengarkan tutur ibunya tentang dongeng hewan yang membawa bala itu dengan mulut setengah terbuka. Ia tengah berada di dapur, duduk di lantai bilah bambu menghadapi sepiring nasi jagung, sayur bayam, sejumput garam dan jelantah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=59&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-62" style="border:1px solid black;" title="Black_Wolf_by_SolStock" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/10/black_wolf_by_solstock2.jpg?w=600" alt="Black_Wolf_by_SolStock"   /></p>
<p>Ia berumur tujuh tahun saat pertama kali ia mendengar tentang dongeng Asu Panting. Saat itu ia benar-benar takjub dan terpesona. Ia mendengarkan tutur ibunya tentang dongeng hewan yang membawa bala itu dengan mulut setengah terbuka. Ia tengah berada di dapur, duduk di lantai bilah bambu menghadapi sepiring nasi jagung, sayur bayam, sejumput garam dan jelantah. Hari itu, juga banyak hari-hari lainnya,  tak ada lauk yang terbeli. Kerap kali ia merajuk bila tak menemui sekerat ikan di piringnya. Lalu ibunya segera mendongeng. Ibunya harus mendongeng lantaran tak ingin perhatian anak perempuannya tertuju pada piring yang polos oleh lauk. Ia tidak tahu itu.</p>
<p>Maka ia mencamkan kata-kata ibunya:</p>
<p>Berhati-hatilah bila ia datang. Sebab ia membawa mala dan bala, dan wabah yang melela. Ia anjing yang tak berekor, dengan sepasang kaki depan yang seperti tertekuk-sebab itu ia berjalan tungging-, moncong yang terlalu tirus, sepasang kuping tercuat, maka bila kau bersirobok dengannya teringatlah kau pada  kalong. Ia pun tak melolong. Hanya mendesirkan napas kasar seperti sembur kuda kecapaian. Serupa kalong ia bersidekap dengan gelap, tak pernah berani menatap matari. Tapi bila kau melihatnya saat hari terang, awaslah. Telah ia tinggalkan negeri bayangan, maka celakalah bagi kaum manusia di negeri terang. Hitam bulunya menyembunyikan nasib yang buruk bagi kampung yang ia datangi.</p>
<p><span id="more-59"></span></p>
<p>Maka orang-orang akan berlarian naik rumah, menggiring anak-anak dan menyembunyikan bayi, menutup segala wadah air dan menyalakan semua pelita yang ada. Sebab ia mahluk gelap yang tak menyenangi cahaya. Segala pintu jendela dan lubang angin mesti kau tutupi rapat-rapat, sebab bala yang ia bawa seumpama mahluk renik yang licik menyelisik. Berjagalah, jangan kau biarkan kantuk menelikung. Sebab tidur akan membuatmu mati menggerung.</p>
<p>Demikianlah, sang ibu berupaya menyusupkan pemahaman bahwa asu panting adalah monster yang membawa tulah. Tapi bocah perempuan yang mendengar seksama dengan sebulir nasi di sudut bibir,  berkhayal dan menganggap asu panting adalah hewan paling ajaib yang pernah didengarnya.</p>
<p>Bertanya si bocah perempuan pada ibunya. “Ibu, di mana kita bisa bertemu dengannya?”</p>
<p>“Tak ada yang bisa bertemu dengannya. Asu panting memilih siapa yang yang hendak ditemuinya. Dan celakalah bagi mereka yang terpilih!”</p>
<p>“Ibu, Apakah ia datang dari hutan di pinggiran kampung?”</p>
<p>“Banyak yang pernah melihatnya merangkak keluar dari hutan, maka janganlah engkau bermain ke sana!”</p>
<p>“Ibu, mengapa asu panting berbeda dengan asu-asu lainnya? Asu Pak Lurah cantik dan kicit seperti boneka, bulunya panjang dan tak pernah membuat orang sakit!”</p>
<p>“Asu binatang hina dina. Asu binatang menjijikkan. Jangan kau teladani Pak Lurah. Jangan kau tiru anak-anaknya. Tak boleh kau menyentuh asu! Ibu ingin kau ingat itu baik-baik. Asu panting adalah maha-asu, asu dari segala asu. Terkutuklah ia dari segala mahluk!”</p>
<p>“Apakah Ibu membenci asu panting sama seperti Ibu membenci Ayah?”</p>
<p>Ibunya mendelik lalu menyuruhnya menghabiskan makan secepatnya. Ia tahu ibunya sangat membenci ayahnya. Ia sering mendengar ibunya mengumpat ayahnya dengan sebutan lelaki asu terutama saat-saat mereka tak punya beras untuk ditanak. Mungkin ayahnya memang mirip asu. Ia tidak pernah melihat ayahnya. Kata Ibu, ayahnya yang asu pergi dengan perempuan lain yang juga asu. Mungkin ayah dan perempuannya merangkak masuk hutan seperti asu panting.</p>
<p>Maka ia memelihara dongeng asu panting seperti ia memelihara ayah yang asu dalam kepalanya. Ia tidak punya dongeng lain yang yang bsa dikenangnya sekuat daya seperti ia mengingat dongeng asu panting. Ibunya hanya sesekali mendongeng. Ibunya lebih sering bergumul di sawah-sawah sebagai buruh upahan. Maka dongeng asu panting pun membekas seperti luka bakar derajat tiga. Ia tumbuh dan hidup sembari memeluk dongeng tentang asu panting. Ia bersenyawa dengan dongeng asu panting.  Ia ingin bertemu asu panting. Ia ingin memelihara asu panting. Ia akan bangga luar biasa. Asu panting yang tersohor angker kelewat-kelewat akan jadi peliharannya. Ia akan membopong asu pantingnya seperti anak Pak Lurah membopong anjing cebol berbulu masai.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Tapi telah enam belas tahun ia sekarang. Ia telah lama tak bersekolah. Hidup kian sulit. Dongeng telah lama tak terdengar. Ibunya, menua dan menghitam,  kini tak punya waktu lagi untuk mendongeng. Berbarengan dengan makin sedikit orang yang memerlukan tenaganya di sawah, kian banyak hari di mana lauk tak terbeli. Lantas ibunya pun mulai punya penyakit. Gampang menampar dan naik pitam. Kata ibunya, kau sudah perawan sekarang, sudah enam belas. Bantulah Ibu memburuh di sawah!</p>
<p>“Aku tak suka bekerja di sawah, Ibu! Sawah membuatku gatal.”</p>
<p>“Lantas apa maumu?”</p>
<p>“Aku ingin melihat asu panting. Di mana aku bisa melihat asu panting, Ibu?”</p>
<p>“Untuk apa bertanya-tanya terus soal asu panting? Asu panting tak ada!”</p>
<p>“Tapi Ibu yang menceritakannya dahulu.”</p>
<p>“Asu panting tak ada lagi. Itu dahulu cuma cerita  orang kampung!”</p>
<p>“Jadi Ibu berbohong?”</p>
<p>“Asu panting tak pernah muncul lagi! Kenapa pula kau demikian tergila-gila dengan asu panting?”</p>
<p>“Aku ingin melihat asu panting, Ibu!”</p>
<p>Lalu bentak ibunya yang menyuruh diam tak membuatnya jeri.</p>
<p>Maka ia bertekad hendak menemukan asu panting. Seorang diri. Ia tak bisa lagi berharap dari cerita ibunya. Kerap saat senja membekap bibir kampung, ia meninggalkan kampung diam-diam, berjalan pelan-pelan dengan jemari yang dipilin-pilin, menyelinap ke dalam hutan di pinggiran kampung. Lalu di antara bayangan pepohonan yang menggelap, ia akan duduk diam-diam, mengabaikan dingin yang menggerumit dan segala serangga yang menggigit, memicingkan mata, berusaha menemukan sosok binatang berkaki empat dengan kuping tinggi tegak. Dipasangnya telinga baik-baik, berniat bisa menangkap dengus serupa sembur kuda dari kegelapan semak belukar.</p>
<p>Tapi nihil.</p>
<p>Pernah ia coba untuk terus masuk, jauh ke dalam hutan, sejauh yang ia bisa, sejauh ia merasa tak akan tersesat dan masih bisa menemukan jalan pulang. Tapi tak ada apa-apa. Sekali dua ia berpapasan dengan cecurut, monyet dan biawak yang melata, tapi tak pernah sekalipun ia menangkap bayangan serupa asu yang berjalan tungging.</p>
<p>Ia pulang dengan kaki penuh pacet yang lengket.</p>
<p>Ibunya menanti di pintu dengan makian berentet. “Perawan sinting, apa yang kau lakukan di dalam hutan sana. Tidakkah kau punya pekerjaan lain yang lebih berguna? Ibu setengah mati memburuh di sawah  dan kau keluyuran tak tentu arah!”</p>
<p>“Aku mencari asu panting, Ibu!”</p>
<p>Pada saat itu ibunya pun mulai memanggilnya asu.</p>
<p>Sekali ia pernah jatuh tertidur di dalam hutan dan begitu pulang ibunya menamparnya sampai ia terpelanting di depan pintu. Lalu ke dukun desa ia diseret. Di bawah tikaman mata ibunya, ia telan air segelas dari dukun, meski ia tak kehausan. Tapi segelas air bercampur japa mantra tak akan mengusir asu panting dari kepalanya. Ia ludahi si dukun yang mencoba membuatnya melupakan asu panting. Makian ibunya membandang bagai air bah. Si dukun ganti menyemburnya dengan sirih pinang yang lumat oleh ludah. Mukanya jadi bersimbah merah seperti darah.</p>
<p>Tapi  tak ada yang bisa menggentarkan hatinya mencari asu panting. Maka kembali ia melangkah ke bibir hutan. Nyaris setiap hari. Mengendap-endap saat ibunya tak di rumah. Ia yakin suatu saat ia akan menemukan asu panting.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Lantas suatu ketika sekonyong-konyong ia dapati hutan tak lagi senyap. Puluhan truk berleret seperti ular memasuki hutan. Lalu lalang dan bising. Berpuluh lelaki kasar dan penuh keringat tiba-tiba hilir mudik dan bercakap dalam teriakan menambah hutan kian hiruk pikuk. Lalu sebuah mobil besar kuning dengan penyauk raksasa yang membuatnya terkagum-kagum setengah ketakutan. Belakangan ia tahu kendaraan besar itu bernama traktor. Hutan berubah gaduh dan tak lagi teduh. Kemudian papan besar yang tegak berdiri serta merta membuatnya paham bahwa ia tak bisa lagi memasuki hutan sekehendaknya. Hutan kini dibatasi dengan pagar. Hutan dan isinya kini berpemilik dan menjumpai asu panting akan kian pelik.</p>
<p>Kata ibunya, akan banyak rumah yang dibangun di pinggir hutan. Ibunya berseri-seri ketika mengabarkan itu. Akan banyak orang dari kota berdatangan, dan kita bisa berjualan, kata ibunya. Buruh-buruh bangunan itu-yang belakangan diketahuinya adalah lelaki kasar dan berkeringat yang selalu bercakap dalam teriakan- tentu butuh banyak hal. Entah kopi atau penganan. Dengan sedikit modal, kita bisa membuka warung, harap ibunya.</p>
<p>Ia marah dan mencela-cela. Tidak pada mimpi dan cita-cita ibunya. Tapi pada jarak yang mulai terbentang antara ia dan asu panting. Bertambah lagi perintang antara ia dan asu panting. Orang-orang itu pastilah tak mengijinkannya memasuki hutan.</p>
<p>Tetapi ia tetap saja datang ke pinggiran hutan yang kini berubah jadi lahan proyek. Seharian ia duduk dalam jarak yang dirasanya aman, mengamati kesibukan buruh-buruh lelaki yang sibuk bekerja membuka hutan. Ia melihat para buruh bangunan itu meruntuhkan pepohonan, membabat belukar, melubangi tanah. Gemuruh di mana-mana, hutan cabik lalu luka.  Ia terus duduk di situ dengan mata mencari-cari. Hutan mulai singkap. Tapi di mana asu panting berada tak juga terungkap. Ia bertahan. Gelap hutan yang sirna, akan memaksa asu panting keluar dari persembunyiannya. Ia yakin itu, maka ia setia mengamati hutan yang mulai tercerabut dari kejauhan setiap hari. Betapa ia ingin mendekat, mungkin di antara pepohonan yang tumbang, ia dapati kelebatan sosok asu panting. Terlalu sulit bila hanya mengamati dari kejauhan. Ia ingin melongok ke dalam lubang-lubang, mungkin asu panting ada di antara lubang-lubang itu. Tapi ia takut pada buruh-buruh bangunan dan gemuruh mesin.</p>
<p>Sampai suatu ketika buruh-buruh bangunan  mulai memperhatikannya, lantas mulai berbisik-bisik satu sama lain, bergurau-gurau, lalu mulai tersenyum-senyum dan bersiul-siul kepadanya. Mereka kelihatannya tak akan marah bia ia melihat lebih dekat. Lalu suatu ketika salah seorang dari mereka melambai, ia serta merta berdiri. Mereka memintanya ke sana, tentu ia akan bisa lebih jelas memeriksa hutan yang tertabas.</p>
<p>Maka ia  mendekat.</p>
<p>Menjelang malam ia melangkah pulang. Asu panting belum ia temukan, tapi ia tak lagi mengayun langkah dengan benar.</p>
<p>Besoknya ia melangkah kembali ke tepi hutan yang kini bingar oleh proyek. Ia berjalan pelan-pelan sembari memilin-milin jemari, menoleh-noleh gugup ke sekeliling. Ia menatap ke depan ke arah pinggir hutan yang berubah proyek. Ia melihat di mana-mana lubang-lubang di tanah tiba-tiba bertambah nganga, menghitam, lalu dari lubang-lubang hitam itu melesat keluar binatang yang telah lama ia cari. Tak hanya satu, tapi dua, tiga, empat asu panting. Sekawanan asu hitam dengan muka serupa kalong yang berjalan tungging berloncatan keluar dari lelubang. Ia melihat puluhan asu panting berkeliaran dan mengendus-endus di lahan proyek. Ia terus berjalan bagai tersihir. Ia terus melangkah, mendekati tiang-tiang pancang dan gugusan gundukan pasir, mendengar bising traktor yang kian mendekat, mendengar degup jantungnya yang seperti hendak meledak, riuh besi berdentang-dentang, dan gemalau sekawanan asu panting beriuh rendah saling menyembur serupa kuda satu sama lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Makassar, Februari 2005.</strong></p>
<br />Posted in Galeri Kisah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=59&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/29/asu-panting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/10/black_wolf_by_solstock2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Black_Wolf_by_SolStock</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebab Ibunya Melarangnya Menangis</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/29/sebab-ibunya-melarangnya-menangis/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/29/sebab-ibunya-melarangnya-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 14:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EssoWenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Si anak lelaki, kuat dan perkasa, terlahir dari karang. Seperti ini kejadiannya: bebatu yang mengarang, retak yang retas lalu mengelupas, dan hopla, lahirlah si anak lelaki. Sementara si anak perempuan, putih dan lembut, muncul dari buih laut yang mengambang dan terayun di pesisir. &#8211;Dongeng seorang ibu kepada anaknya Ia tak pernah menangis. Dari sekian banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=45&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="aligncenter size-full wp-image-52" title="man_cries" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/10/man_cries.jpg?w=600" alt="man_cries"   /></em></p>
<p><em>Si anak lelaki, kuat dan perkasa, terlahir dari karang. Seperti ini kejadiannya: bebatu yang mengarang, retak yang retas lalu mengelupas, dan hopla, lahirlah si anak lelaki. Sementara si anak perempuan, putih dan lembut, muncul dari buih laut yang mengambang dan terayun di pesisir.</em><br />
&#8211;Dongeng seorang ibu kepada anaknya</p>
<p>Ia tak pernah menangis. Dari sekian banyak larangan ibunya, perintah untuk tak sekalipun menitikkan air mata-lah yang paling membekas di ingatannya, seperti luka yang meninggalkan jaringan parut di dalam benak. Ia mengagumi ibunya. Perempuan tangguh tanpa air mata dengan berhelai-helai uban di puncak kepala, dengan bibir tipis bagai garis –entah mengapa bibir ibunya teramat sukar melengkungkan senyum-. Dahulu, saat uban-uban itu tak ada dan bibir ibu masih merah oleh pewarna, ia sering memandang ibunya dengan tatapan penuh kekaguman. Ibu, dengan sepatu hitam bertumit yang berdetak-detak, muncul di ambang pintu, seolah dimuntahkan oleh sedan hitam berkilat, selalu datang tepat di pukul lima sore, menanyakan ini itu pada bibi pengasuh, lalu kemudian mengangkatnya dari buaian, atau kereta, bergantung di mana ia berada saat itu.</p>
<p><span id="more-45"></span></p>
<p>Samar-samar ia masih mengingat semuanya, saat ibu menimangnya dalam diam. Dalam ingatannya, oleh ibunya ia selalu ditimang di lingkup senyap yang aneh. Selalu? Tidak. Ada waktu dan masa, saat bibi pengasuh tak ada, saat tak ada sesiapa di sekelilingnya, ibunya menggumamkan lagu dengan bibir terkatup. Semacam senandung tanpa kata. Hanya di saat-saat tertentu ibunya bersenandung, saat yang ditandainya kelak sebagai kenangan mewah masa kecil. Pelan dan demikian lirih suara ibunya, sehingga ia harus merapatkan kepala ke dada ibunya, berharap gema dari rongga dada ibunya membuat senandung itu menjelas. Sesekali akan diangkatnya kepala, memandang wajah ibunya. Ibunya bersenandung, tapi matanya menatap kosong seolah memandang jauh, dan tak ada senyum di mata dan bibir ibunya. Kadang ia merasa ibunya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, mahluk yang cantik namun mengerikan.</p>
<p>Malam-malam, saat ia berbaring dengan lengan ibu merapat di selingkar dadanya, ibunya akan mendongeng. Ia hanya mengenal satu dongeng dari ibunya. Dongeng tentang anak lelaki yang lahir dari bebatu karang, dan anak perempuan yang muncul dari buih laut. Dan di ujung dongeng itu, ibunya akan menatap lekat-lekat, dan sihir di wajah ibunya, bibir yang menggaris dan terkatup, mata yang membatu, dalam genangan cahaya lampu kamar, selalu membuatnya terpaku. “Sebab engkau lahir dari karang, jangan pernah engkau menangis. Menjadi tegar seperti karang adalah kesetiaan lelaki, engkau terlahir sebagai lelaki yang tak boleh mengenal air mata. Air mata hanya mengalir ke laut, menjadi teman buih laut yang kelak melahirkan perempuan. Hanya perempuan yang menitikkan air mata. Bukan lelaki. Dan engkau harus menjadi lelaki yang paling karang.”</p>
<p>Betapa ia memuja ibunya, tapi juga gentar teramat sangat. Kata-kata ibunya mengalir bagai serangkai musik monoton dalam kamarnya yang hening. Dan ibunya, perempuan yang ia kasihi, bangkit dari pembaringan, memadamkan lampu, meninggalkan kamar, menutup pintu yang memapas cahaya dari luar. Pada banyak malam setelah ibunya meninggalkan kamar, kerap ia tetap terjaga, dengan mata terbuka. Ia pernah demikian sangat membenci kegelapan. Tapi ibunya mengajarkannya tidur dalam gelap. Sendiri. Sebab kata ibunya, lelaki tak boleh takut pada kegelapan.</p>
<p style="text-align:center;">
* * *</p>
<p>Di hadapan bibi pengasuh, kerap ia memeluk kecemasan yang sangat terhadap ibunya. Bibi pengasuh, dengan wajah sebulat rembulan dan bibir lembut menggelung tebal, adalah inang masa kecilnya. Kepada Bibi ia tak pernah gentar. Kepada Bibi ia pun sayang. Bibi, perempuan yang menyodorkan banyak nasehat tentang ibunya. “Ibumu tetaplah ibumu. Ia menyayangimu. Ia menginginkanmu tumbuh sebagai lelaki yang kuat dan tabah.”</p>
<p>“Ibu melarangku menangis, Bi. Ibu selalu melarangku menangis.”</p>
<p>“Anak yang baik tentu saja tak boleh menangis.”</p>
<p>Saat itu ia telah beranjak remaja, dan sepanjang ingatannya ia memang tak pernah menangis. Tidak saat ia terjatuh dari sepeda dan pelipisnya robek hingga darah bagai membanjir, tidak saat ia berkelahi dan giginya rompal satu, tidak saat sekawanan anak-anak hingar mengolok-oloknya sebagai ‘anak aneh yang tak punya bapak’.</p>
<p>“Bi, saat aku bayi, adakah aku sering menangis?”</p>
<p>“Tentu saja tidak. Engkau adalah anak yang manis, yang patuh dan sabar….”</p>
<p>“Tapi bayi sering menangis, Bi. Tidakkah aneh jika bayi tak menangis?”</p>
<p>Si Bibi menghela napas. Ujarnya, “Bibi ingat, saat pertama engkau pulang dari rumah sakit. Ibumu selalu menggendong kau rapat-rapat, dan kerap mengurung diri di kamar. Sekali pernah Bibi mendapati engkau menangis. Tapi ibumu melarang Bibi untuk mendekat. Saat kau menangis itu, ibumu lantas menggendongmu, dan berbisik; diam, diam, anak lelaki tak boleh menangis. Dan ajaib, engkau langsung terdiam.” Si Bibi tak menceritakan bahwa di akhir kalimat ‘anak lelaki tak boleh menangis’, ada tangis yang menggantung namun tak pernah pecah. Suara si ibu berubah serak dan sendat, meski tetap getas, meyebut serangkai kalimat bagai igau dengan kemarahan yang berpuntal pulun : jangan pernah menangis, engkau harus tumbuh sebagai lelaki kuat. Bukan lelaki pengecut dan cengeng seperti ayahmu. Bukan lelaki yang meninggalkan seorang perempuan lunta yang tengah mengandung karena paksaan keluarga. Jangan menangis, jangan pernah engkau menangis seperti ayahmu yang pengecut. Lelaki yang kalah dan takluk oleh air mata ibunya.</p>
<p>Di hadapan ia yang remaja, si Bibi tersenyum. “Hanya sekali itu kudengar engkau menangis. Sepanjang pengetahuan Bibi, sejak saat itu, tak pernah Bibi dengar engkau menangis.” Ia yang masih remaja tercengang. Dalam pikirannya, jika si Bibi tak berbohong, ia adalah mahluk yang ajaib, yang hanya menangis sekali seumur hidup. Maka ia pun bersumpah untuk tak pernah menangis dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Ia mengasihi ibunya. Menghormati perempuan yang berangkat bekerja dengan rambut tersanggul kencang dan sepatu bertumit yang berdetak-detak. Perempuan yang setiap pukul sembilan pagi tertelan oleh sedan hitam untuk kemudian dimuntahkan kembali di sore hari. Ia mengerti ibunya harus bekerja keras, sebab segala yang terbaik harus tersedia baginya.</p>
<p>“Ibu harus bekerja keras. Ibu ingin kau berhasil, menjadi lelaki tangguh, mandiri dan sukses. Ibu ingin menunjukkan tanpa seorang ayah, Ibu sanggup membuatmu menjadi karang!”</p>
<p>Ayah. Betapa pernah ada masa ia mempertanyakan sengkarut misteri pada sosok bernama ayah. Di langit ingatannya, sosok Ayah bagi awan gemawan, berarak tanpa pernah turun sebagai hujan di senyata teratak. Pernah ia mengira ia dilahirkan begitu saja dari rahim seorang ibu, bagai sosok suci yang tak berbapa, sebelum ia sadar bahwa ia tentu saja harus berayah. Tapi pertanyaan tentang ayah pada ibunya selalu beroleh jawab dengan bibir yang mengatup bungkam atau dua penggal kalimat tajam : Ayahmu lelaki lembek dan pengecut. Ibu tak ingin kau menyebut-nyebutnya….</p>
<p>Ia bersikeras, namun ibunya bersibaja. Segala pertanyaan tentang ayahnya terbentur, rontok dan terabai. Bibi pengasuhnya pun menggeleng saat ditanya. Ia tak pernah tahu, pada kesempatan yang tak terbilang, di belakang punggungnya, ibunya meminta si Bibi mengulang janji : tak akan membeberkan cerita tentang siapa ayahnya. Ujar ibunya pada Bibi yang menunduk patuh : Anakku tak cukup sepadan untuk mengetahui riwayat seorang lelaki cengeng yang hanya bisa menuruti telunjuk ibunya. Lelaki yang tega meninggalkan perempuan dengan janin di perut lantaran paksaan keluarga! Ia tidak pernah tahu jika si Bibi harus  berulang kali bersumpah di hadapan ibunya. Untuk ayahnya yang tak pernah ia temui dan ia pahami, ia mulai mengarang cerita di kepalanya : ayahnya adalah pelaut malam, kelana segala samudera, yang suatu saat bertemu ibunya, si penangguk buih di tepi pantai. Dan ibunya, khilaf oleh ketampanan si pelaut malam, bercinta dengan si pelaut malam, hingga ia terlahir.</p>
<p>Ibunya lantas berkehendak menjadikannya sebagai karang, sebagai pengingat terhadap si pelaut malam yang minggat begitu saja. Karang selalu menggentarkan pelaut ulung mana pun. Dengan ia sebagai karang, si pelaut malam (ia mulai perpikir si pelaut malam sebenarnya adalah sebangsa lanun dan rompak!) tak akan pernah berani menjejak pantai ibunya. Ialah kini karang pelindung ibunya dari segala lanun yang jahat. Ia, anak karang, berayah lanun malam. Ia menyukai kisah rekaannya sendiri tentang ayahnya, menghayatinya sepenuh rasa, lalu memutuskan bahwa ia tak perlu lagi mengurai benang kusut tentang siapa ayahnya.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Ia telah dewasa kini. Tangguh, mapan, berbahagia dan tengah jatuh cinta. Ia jatuh ke kedalaman cinta yang tak terbayangkan. Ia merana, bergembira, berduka dan tertawa dengan kebahagiaan menjulang, menukik dan melesat. Ia menganyam saat-saat berbahagia dengan kekasihnya. Kekasihnya yang baik dan setia, yang tulus membahagiakannya, mencintainya tanpa syarat. Mereka -ia dan kekasihnya-, bercinta bagai debur ombak, tanpa lelah dan tak putus, mabuk dan kasmaran.</p>
<p>Tapi ia  merahasiakan percintaannya yang gemerlap dari ibunya. Ibunya, kini dengan uban di puncak kepala dan bibir yang tetap tipis dan menggaris, tetaplah menjadi mahluk paling menggentarkan yang pernah ada bagi dirinya. Ibu yang melarangnya menangis, yang menjadikannya terkarang dari yang paling karang, lelaki dari para lelaki. Ia mengasihi ibunya sekaligus gentar padanya, namun kini ia pun mencintai kekasihnya. Dalam dirinya dua mahluk berseteru berebut pengaruh. Ibunya yang membentuknya menjadi karang, dan kekasihnya yang membuatnya menjadi karang yang berbahagia. Pada ibunya ia tak bisa bercerita tentang kekasihnya. Pada kekasihnya ia berbisik penuh galau tentang ibunya, tentang perempuan paling baja yang kini menikmati masa tuanya, tetap tegar dan kuat meski tak lagi mengenakan sepatu hitam bertumit yang berdetak-detak.</p>
<p>“Ibuku kini berbahagia dengan masa tuanya, sebab aku telah menjadi karang,”bisiknya di telinga kekasihnya.</p>
<p>“Engkau memang karang. Tapi karang yang baik akan mempertemukan ibunya dengan kekasihnya.”</p>
<p>“Kau tahu itu tak mungkin&#8230;”</p>
<p>“Kenapa tidak?”</p>
<p>“Kau tak tahu ibuku&#8230;”</p>
<p>“Aku adalah kekasihmu. Engkau semestinya mempertemukan kami.”</p>
<p>“Entah apakah aku akan sanggup…”</p>
<p>“Ibumu adalah ibumu. Ia tentu saja menyayangimu. Dan ia ingin kau berbahagia.”</p>
<p>“Ibu tak pernah bercerita tentang kebahagiaan. Ibu hanya ingin aku menjadi karang dan tak boleh menangis.”</p>
<p>“Kau tak pernah menangis?”</p>
<p>“Tak pernah. Sepanjang ingatan saya.”</p>
<p>“Juga olehku?”</p>
<p>“Kau bisa membuatku sedih, tapi tak pernah bisa membuatku menangis.”</p>
<p>“Aku ingin menemui ibumu.”</p>
<p>“Kau kini membuatku merasa cemas.”</p>
<p>Ia merasa tak menemukan jalan lain. Baginya si kekasih tak mungkin lagi dipisahkan dari dirinya. Dan ibunya harus ia pertemukan dengan kekasihnya. Ia berharap ibunya akan menerima kekasihnya, dan ia akan menjadi lelaki yang paling berbahagia. Karang yang paling berbahagia.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p>Maka suatu saat ia membawa sang kekasih ke hadapan ibunya. Ibunya tak berkata apa-apa saat ia memperkenalkan kekasihnya. Dengan bibir terkatup ibunya menyambut uluran tangan kekasihnya, lalu melangkah masuk kamar, menutup pintu yang menetap tutup hingga hari berakhir.</p>
<p>Ia dicekam kerisauan akan kemarahan ibunya. Kekasihnya telah pulang namun telah berjam-jam ibunya masih mengurung diri dalam kamar, dan ia merasakan sesuatu yang mengeras di ulu hatinya. Ketakutan yang sangat, yang tak pernah dirasakan sekalipun dalam hidupnya.</p>
<p>Ia memutuskan melangkah masuk ke kamar ibunya. Di sudut kamar ia dapati ibunya duduk menghadap lampu kamar.</p>
<p>“Ibu….”</p>
<p>Ia merasa tenggorokannya cekat, suaranya berhenti dalam henyak. Ibunya tak menoleh. Dalam temaram lampu kamar, ibunya mematung dengan mata nanar. Kata-kata ibunya samar namun tiba penuh gemuruh di gendang telinganya.</p>
<p>“Ibu membesarkanmu sebagai karang sejati. Tapi Ibu tak pernah menyuruhmu menjadi karang yang aneh, memilih karang lain, lelaki lain, sebagai kekasih. Aib, aib kataku…..”</p>
<p>Dan inilah yang disaksikannya. Mata ibunya, perempuan baja yang menjadikannya karang, mengaca sebelum berderai basah. Ibunya menangis. Bibirnya yang tipis lengkung dan bergetar. Ia kini melihat ibunya dalam wujud yang tak pernah ada dalam mimpinya sekalipun.</p>
<p style="text-align:left;">Ia masih tertegun di ambang pintu. Dalam benaknya sekonyong membayang laut yang bergelora, buih yang cecah dan terpelanting, karang-karang cuat dan mengancam. Karang-karang yang terjal tajam, sendiri dan kesepian.<strong></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Amstelveen, 2005</strong></p>
<br />Posted in Galeri Kisah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=45&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2009/10/29/sebab-ibunya-melarangnya-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b8c4b8a2ffff4a192846693c8976ac2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">EssoWenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2009/10/man_cries.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">man_cries</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Undangan Pesta</title>
		<link>http://essowenni.wordpress.com/2008/02/08/undangan-pesta/</link>
		<comments>http://essowenni.wordpress.com/2008/02/08/undangan-pesta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 11:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>essowenni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://essowenni.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya mendapat undangan pesta. Dua sekaligus. Pertama dari rekan sejawat. Orang Vietnam. Namanya Hang. Karena saya seharian tak berminat mengangkat telepon, undangannya terdampar di voicemail saya. Saya cermat mendengarkan. Ia berulang tahun dan ingin mengadakan pesta. Haruskah saya datang? Tapi saya merasa tak ingin datang. Dari dulu saya tak pernah suka pesta. Bising. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=6&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a title="party.jpg" href="http://essowenni.files.wordpress.com/2008/02/party.jpg"><img class="aligncenter" src="http://essowenni.files.wordpress.com/2008/02/party.jpg?w=326&#038;h=237" alt="party.jpg" width="326" height="237" /></a></p>
<p>Hari ini saya mendapat undangan pesta. Dua sekaligus. Pertama dari rekan sejawat. Orang Vietnam. Namanya Hang. Karena saya seharian tak berminat mengangkat telepon, undangannya terdampar di voicemail saya. Saya cermat mendengarkan. Ia berulang tahun dan ingin mengadakan pesta. Haruskah saya datang?</p>
<p>Tapi saya merasa tak ingin datang. Dari dulu saya tak pernah suka pesta. Bising. Dan karena ia bernama PESTA maka semua harus riang gembira, semua harus bersenang-senang. Saya tak suka dengan keharusan riang gembira dan bersenang-senang. Terlebih lagi saya tak suka keramaian, bertemu dengan banyak orang yang sebagian besar tak saya kenali, keharusan untuk menyapa banyak orang. Kalaupun saya mau datang ke pesta, saya ingin punya kebebasan. Tak harus memasang wajah ceria dan senyum seterang-benderang mungkin, tak perlu menyapa orang, tak perlu berbaur, tak perlu ruwet memikirkan bingkisan (kalau saya harus membawa bingkisan). Kalau perlu saya cuma mau datang, duduk di pojok, mengamati pengunjung, sembari menghitung-hitung berapa banyak senyum palsu dan basa-basi yang benar-benar basi diobral di dalam pesta. Saya tak suka dengan segala seringai (pura-pura) gembira dan ucapan tak tulus seperti itu.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p>Tapi konvensi pesta tidak mesti tidak memang seperti itu. Menolak konvensi tapi tetap hadir? Salah-salah saya yang dicap aneh dan kuper. Mungkin benar. Tapi saya tidak membutuhkan cap-capan. Sudah terlalu banyak. Kalau saya kuper dan asosial, jadi kenapa?</p>
<p>Jadi sepertinya saya tak mau dan tak perlu datang. Tanpa saya pesta pasti masih bisa berlangsung.</p>
<p>Undangan kedua datang dari teman2 sekolah. Pesta bertema.  Temanya di kedalaman laut yang biru (ini setelah diindonesiakan). Pengunjung diwajibkan mengenakan kostum. Yang menarik tentu saja. seumur-umur saya tak pernah diundang ke pesta kostum. Jadi sepanjang pagi ini saya bepikir-pikir tentang kostum. Googling sana-sini, mencari toko kostum di Amsterdam. Karena temanya laut saya pikir idenya tak beranjak dari putri duyung, segala macam ikan dan mahluk laut, atau bajak laut (kendati tak begitu cocok, sebab mereka hidup di permukaan laut dan bukan di kedalaman laut). Sempat terpikir untuk membuat kostum <a href="http://www.sangkolektor.i-dealogic.com/welcome/article.php?id=30&amp;gact=viewpic&amp;pid=841">Deni Manusia Ikan</a>. Tapi saya tahu tentunya para teman saya yang 90% belanda totok tak mengerti. Pula saya tak mau masuk angin.</p>
<p>Atau menjadi Neptunus alias Poseidon saja? Tapi repot. Kostum tak ada, aksesori apa lagi. Poseidon mesti bermahkota, bertrisula, dan berjanggut tebal.</p>
<p>Lagipula saya jengah dengan ide Poseidon ini. Kenapa harus tokoh dari (mitologi) Eropa? Kenapa tak mencari tokoh khas Indonesia?</p>
<p>Dari Indonesia? Nyatanya saya tak bisa menemukan apa-apa di ingatan saya. Satu-satunya tokoh Indonesia  terkait dengan dasar laut yang bisa saya ingat adalah <a href="http://library.thinkquest.org/07aug/01235/image/ratu.jpg">Nyi Roro Kidul.</a> Tapi  saya tak mungkin datang dengan kostum kemben dan selendang (sebab ini pesta kostum di kampus dan bukan di bar homo atau di gay parade).</p>
<p>Masih juga bingung. Atau barangkali jadi penyelam saja, pikir saya gampang. Sisa sewa diving suit, beres. Tapi rasanya tak kreatif dan terlalu &#8216;biasa&#8217;. Jadi untuk sementara saya melamun sembari mikir-mikir hendak menjadi apa di pesta kostum nanti. Masih tanggal 8. Pesta tanggal 21. Jadi saya masih punya banyak waktu.</p>
<p>Ralf baru saja menelepon. Dan sewaktu saya beritahu tentang pesta kostum ini dan kebingungan saya hendak menjadi apa, ia bilang: bagaimana kalau jadi <a href="http://blogs.manchestereveningnews.co.uk/worldcup/jellyfish.jpg">ubur-ubur</a> saja?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/essowenni.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/essowenni.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/essowenni.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/essowenni.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=essowenni.wordpress.com&amp;blog=1915697&amp;post=6&amp;subd=essowenni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://essowenni.wordpress.com/2008/02/08/undangan-pesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c519d39e83359041531fcf4752bd3919?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">essowenni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://essowenni.files.wordpress.com/2008/02/party.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">party.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
