Insiden Pisang Ijo di Tengah Malam yang Bikin Penasaran atau The Curious Incident of the Green Banana in the Night-Time

pisang ijo plus ketjiput dengan segala kelemahannya
Saya tak pernah membayangkan membuat pisang ijo akan serepot ini. Hanya berawal dari keinginan menikmati pisang ijo dan iming2 dari Dini aka Kaka Tiwi, saya bertekad hendak menghadirkan pisang ijo di apartemen saya. Pikir saya, tak akan sulit. Saya menyukai memasak, dan biasanya tak menemui kesulitan berarti. Dan pisang berbalut adonan hijau dan fla putih kental beraroma vanila bagi saya sepertinya bukan tantangan kelas berat.
Tapi ternyata saya keliru.
Saya memulai dengan melayari berbagai versi resep pisang ijo di internet. Setelah membaca, memperhatikan, menimbang, saya akhirnya memutuskan memilih resep ini sebagai pedoman. Kelihatan gampang. Namun perasaan ‘kelihatan gampang’ ini ternyata ‘sebenarnya susah’.
Kesulitan pertama saya adalah menemukan pisang yang sesuai. Saat ke pasar tradisional Leiden yang saya temukan adalah jenis pisang Suriname yang ekstra besar, yang konon khusus untuk dibuat pisang goreng. Sedikit keras tapi pikir saya tak apa, setelah dikukus pasti akan melunak sendiri. Jadi terbelilah pisang Suriname yang ukurannya bila disanding dengan pisang raja, bagai Ade Rai dengan Aming.
Monster Coklat dari Dasar Panci
Kesulitan kedua adalah menemukan pewarna hijau. AH meski XL sekalipun tak bisa diharap. Di pasar tradisional pun tak saya temukan. Saya lantas ke Puur (toko bahan2 biologis yang terbilang baru) di Leiden. Ibu-ibu Belanda yang jaga toko bilang mereka tak jual pewarna. Namun mereka berupaya membantu dengan menyodorkan tiga alternatif: pertama ke toko bahan kimia (saya tak tahu apa-apa tentang toko bahan kimia, pula ini pisang ijo dan bukan eksperimen-kimia, kata kimia membuat saya bergidik.) Kedua memakai daun bayam (bayangan saya bayam+pisang+gula+sirup+vanila=bikin neg, kemungkinan besar beracun). Ketiga memakai suplemen makanan yang berwarna hijau pekat yang saya curigai mengandung klorofil (tapi saya tak mau pisang ijo rasa obat, dan siapa tahu suplemen itu punya efek samping, melemahkan iman semisal).
Saya mencoba melupakan pewarna hijau. Hijau tak bisa, coklat pun jadi. Saya ingat saya masih punya sekotak coklat bubuk sisa tiramisu tempo hari. Jadi kali ini bukan pisang hijau melainkan pisang coklat, pikir saya sok kreatif.
Tapi saya benar-benar melupakan satu hal: tepung beras. Saya pikir pasti ada di AH. saya pengikut setia AH. Sebab selain dekat dan saya malas berbelanja jauh-jauh, di AH-XL selalu ada counter icip-icip, entah itu keju, daging, kue, dan seperti biasa setiap ada yang gratis saya tak mau ketinggalan.
Tapi tepung beras tak ada di AH bahkan di departemen yang khusus menyediakan produk-produk Asia. Oh tidak, tak boleh terjadi. Saya menjelajahi seluruh supermarket, bertanya ke beberapa karyawan AH, dan akhirnya tadaaa! Tepung beras saya temukan dalam wujud…. makanan bayi.

makanan bayi
So what? Pokoknya tepung beras, kendati saat membuka kemasan saya mulai cemas sebab tekstur tepung beras a.k.a. makanan bayi itu ternyata kasar luar biasa dan terasa aneh di tangan.
Saya memulai membuat pisang ijo (coklat) idaman saya. Dimulai dengan fla. Tak ada masalah. Fla putih lembut menggelegak dan menebarkan aroma vanila. Beres fla, kini adonan kulit pisang. Tepung beras, garam, coklat bubuk, air, diaduk-aduk… Hmm, kenapa tak mau jadi adonan? Saya menambah tepung beras, tetap saja lunak dan lengket minta ampun. Ok, tambah lagi tepung beras… terus… terus. Tepung beras alias makanan bayi habis dan adonan belum bisa dibentuk. Saya mulai cemas dan kini memakai terigu sebagai ganti tepung beras. Adonan tak juga kalis. Mulai berimprovisasi. Mungkin dengan telur? Telur meluncur, satu dua tiga biji telur mendarat. Adonan masih juga lengket dan tak juga bisa dibentuk.
Saya menyerah. Adonan coklat menyeringai mengejek bagai monster lumpur buruk rupa di dasar panci.
Besoknya saya akhirnya memutuskan ke toko Nieuwe Wereld di bilangan Oude Rijn (untuk pertama kalinya). Pasta hijau beraroma pandan terpajang manis di sana. Tepung beras asli tergeletak pasrah di rak. Sial, coba seandainya saya ke sini sejak kemarin….

mahluk lumpur

bandel tak mau dibentuk
Metamorfosa Monster Pisang Ijo
Malamnya saya kembali berkutat di dapur. Pisang ijo harus selesai sebelum hari terang tanah, begitu tekad saya (sedikit meniru tekad Bandung Bondowo saat mencoba mewujudkan syarat lamaran putri Roro Jonggrang, yang akhirnya terperdaya oleh si putri lantaran si putri menitahkan penduduk untuk membakar jerami dan membunyikan lesung di ufuk ti… tunggu dulu, kenapa pula saya bercerita tentang Roro Jonggrang?)
Ok, kembali ke pisang ijo. Kulit terbentuk, dan kali ini sukses (menurut saya). Adonan terbentuk, tak lengket. Dan saya mulai membungkusi pisang Suriname dengan adonan hijau. Hasilnya, sama sekali tak indah. Si pisang terlalu besar (kini dengan baju hijau tebal telah menyamai ukuran telur burung maleo).
Bencana berikutnya (oh tidak!): saya tak punya pengukus yang cukup besar untuk empat telur burung maleo . Tak kehilangan akal saya menggunakan saringan logam di atas didihan air dalam panci. Tapi empat telur maleo tetap terlalu besar bahkan untuk saringan ekstra besar. Masih tetap tak kehilangan akal, saya gilir satu persatu telur maleo hijau. Tapi demi dewa penguasa dapur, hasilnya mengerikan. Kulit pisang hijau licin berkilat namun keras luar biasa.
Kali ini saya mati akal.
Saya biarkan telur-telur maleo hijau berlama-lama di atas saringan. Saya kehilangan semangat. Setelah mendingin, telur maleo saya potong-potong, berharap pisang yang mengintip bisa mempercantik penampilan. Yah, bolehlah. Sudah menyerupai pisang ijo. Tepatnya monster pisang ijo.

Sitti dan monster pisang ijo

Sitti bergembira dengan monster pisang ijo
Tapi sudahlah, makanan harus dihargai. Saya menyantap metamorfosa pisang ijo pelan-pelan di depan teve sambil memelihara rasa penasaran bercampur dendam. Janji saya dalam hati, lain kali harus bisa, dan mesti berwujud pisang ijo yang sejati.
Leiden, 23:40
Catatan: akan halnya nasib si lumpur coklat, saya berupaya menyelamatkannya dengan memanggangnya dalam oven selama 40 menit, berharap si lumpur akan berubah menjadi semacam cake. Memang berubah menjadi cake… namanya cake rubber brownies atau kue coklat karet. Seiris cake ini bisa dikunyah sehari semalam (itupun jika rahang Anda cukup kuat), sangat cocok dibawa sebagai bekal bertahan hidup di hutan belantara atau di gurun pasir.

mantap tulisannya kk…….btw sapakah itu si Siti? hihihi…….
Sitti (dobel t tawwa) adalah anak pungut saya. Kudapat dari Ayah karena rajin belajar… (sepeda kali…)
memang di belanda ada juga orang yang bernama Sitti ???? BTW ceritanya asyik lho, apalg ini pengalaman pribadi he..he…. makanya klo mau buat pisang ijo tanya dulu resepnya sama……………..
Ada. Baco sama becces aja ada.
ha..ha.. dayat penasaran & dendam tapi dishare begini jadi sgt menggelikan..
hehehe, k muti. bisaki bikinka?
Kalau di Belanda mungkin bisa juga bikin pisang ijo rasa keju